LAPORAN MANAJEMEN

LAPORAN DIREKSI

Terus Menjunjung Komitmen, Memberikan yang Terbaik

“Pertamina telah berhasil melalui tahun 2018 dengan capaian kinerja yang baik. Direksi memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kepercayaan, komitmen, dan kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan.”

Pemegang Saham dan Pemangku Kepentingan yang Terhormat,

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala berkah dan nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita semua sehingga PT Pertamina (Persero) dapat melalui tahun 2018 yang penuh tantangan dengan pencapaian kinerja yang baik. Selanjutnya, izinkan kami untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban Direksi atas tugas pengelolaan Perseroan untuk tahun buku 2018 yang berakhir pada 31 Desember 2018.

KONDISI EKONOMI PEREKONOMIAN

Perekonomian global tahun 2018 diwarnai oleh ketidakpastian. Adalah perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok dan kenaikan suku bunga The Fed yang ditengarai sebagai penyebab utama perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Perang dagang telah mengakibatkan arus perdagangan dunia mengalami perlambatan. Permintaan barang, khususnya dari Tiongkok mengalami perlambatan dan di lain pihak arus barang dari Tiongkok ke berbagai negara menjadi lebih deras sebagai bagian dari upaya pemerintah Tiongkok untuk mencari pasar substitusi setelah pemerintah AS memberlakukan bea masuk yang tinggi terhadap produk-produk Tiongkok.

Selain itu, kenaikan suku bunga The Fed berdampak pada kondisi pasar keuangan global, di mana arus investasi lebih mengarah ke instrumen yang cenderung aman (risk aversion), sehingga pasar saham global 15% terkoreksi cukup tajam.


Di tengah kondisi tersebut, ekonomi Indonesia masih dapat tumbuh positif. Sepanjang tahun 2018, ekonomi Indonesia tumbuh 5,17%, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 5,07%. Pertumbuhan yang cukup baik itu juga diimbangi dengan tingkat inflasi yang terjaga di level yang rendah yaitu 3,13%.

Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, pemerintah menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya adalah pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD. Pada Oktober 2018, nilai tukar Rupiah terhadap USD sempat menyentuh Rp15.200/USD atau menjadi yang terendah sejak krisis ekonomi tahun 1998.

Neraca perdagangan Indonesia tahun 2018 juga ditutup dengan defisit sebesar 8,6 miliar USD yang disebabkan oleh laju pertumbuhan impor yang jauh lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekspor. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pada September 2018 pemerintah membuat kebijakan dengan memberlakukan mandatori perluasan penggunaan bahan bakar diesel atau B20 melalui Perpres No. 66 Tahun 2018 yang salah satu tujuannya adalah untuk menekan laju impor, khususnya impor BBM jenis solar.

FLUKTUASI HARGA MINYAK

Pergerakan harga minyak di pasar Brent dan WTI masih menjadi tantangan bagi Pertamina. Pada periode Januari hingga Oktober 2018 tren harga minyak cenderung mengalami peningkatan dengan puncaknya mencapai 84,1 USD per barrel (Brent) dan 75,5 USD per barrel (WTI) pada Oktober 2018. Namun setelah itu, harga minyak dunia terjun bebas dan sempat menyentuh level terendah dengan harga 51,6 USD per barrel dan 43,6 USD per barrel pada Desember 2018 dan akhirnya ditutup dengan harga 54,6 USD per barrel dan 46,5 USD per barrel di akhir tahun 2018.

Sejalan dengan harga minyak dunia, Indonesian Crude Price (ICP) juga berfluktuasi. Pada Januari, ICP berada di harga 65,6 USD per barrel, sedangkan ICP SLC pada harga 65,8 USD per barrel. ICP berada pada level tertingginya pada Oktober yang mencapai 77,6 USD per barrel dan 78,1 USD per barrel untuk ICP SLC. Saat harga minyak dunia turun, ICP juga terpengaruh turun mencapai 54,8 USD per barrel dan 55,6 USD per barrel untuk ICP SLC.

Mengantisipasi perkembangan harga minyak dunia, Pemerintah RI untuk menerbitkan berbagai kebijakan terkait dengan migas yang berdampak kepada operasi dan kinerja Pertamina. Kebijakan tersebut diambil untuk melepas tekanan kepada neraca perdagangan Indonesia, khususnya dari impor migas, menjaga cadangan devisa negara serta untuk menjaga daya beli masyarakat.

MEWUJUDKAN KESEHATAN DAN KEMANDIRIAN ENERGI NASIONAL

Sebagai perusahaan Badan Usaha Milik Negara, Pertamina berada di baris terdepan untuk mendukung upaya yang telah dicanangkan pemerintah untuk mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional. Karena itu, dari waktu ke waktu, Pertamina terus memperkuat komitmen untuk melakukan pengembangan usaha di bidang energi baru dan terbarukan serta diversifikasi usaha.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, tahun 2018 Pertamina memperoleh hak pengelolaan terhadap 13 Wilayah Kerja (WK) Eks Terminasi yang berakhir masa kontraknya di tahun 2018–2021, sesuai Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 15 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Wilayah Kerja (WK) Minyak dan Gas Bumi yang Akan Berakhir Kontrak Kerja Samanya yang telah diubah dengan Permen ESDM Nomor 30 Tahun 2016.

Dari 13 WK Eks Terminasi yang telah diperoleh hak pengelolaannya tersebut, 8 WK telah efektif pada tahun 2018, yaitu Ogan Komering, Tuban, Sanga- Sanga, South East Sumatera, North Sumatera Offshore, Tengah (masuk ke dalam WK Mahakam), Attaka dan East Kalimantan. Sedangkan WK Raja dan WK Jambi Merang baru akan efektif pada tahun 2019 dan WK Kepala Burung dan WK Salawati akan efektif tahun 2020. Sementara untuk WK Rokan yang merupakan penghasil minyak terbesar nasional baru akan efektif pada tahun 2021. Selain itu, pada 1 Januari 2018, Pertamina juga telah mulai mengoperasikan WK Mahakam yang hak pengelolaannya telah diserahkan kepada Pertamina tahun 2015.

Di tahun 2018 Pertamina telah menandatangani kontrak pengerjaan desain teknik, pengadaan, dan konstruksi (Engineering, Procurement, and Construction/EPC) Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang RU V Balikpapan. Dari hasil lelang EPC tersebut, konsorsium yang menjadi pemenang adalah SK Engineering & Construction Co. Ltd., Hyundai Engineering Co. Ltd., PT Rekayasa Industri, dan PT PP (Persero) Tbk. Dengan telah terpilihnya pemenang EPC RDMP Kilang RU V Balikpapan, Pertamina menunjukkan komitmen kuat dalam merealisasikan mega proyek kilang yang bertujuan mendukung terwujudnya kemandirian energi nasional.

Dengan hak pengelolaan tersebut, produksi minyak Pertamina akan mengalami peningkatan, sehingga Pertamina semakin dekat untuk mewujudkan cita-cita ketahanan dan kemandirian energi nasional.

PEMBENTUKAN HOLDING BUMN MIGAS

Setelah melalui proses persiapan selama 2 tahun, tahun 2018 Pemerintah menunjuk PT Pertamina (Persero) sebagai Perusahaan Induk (Holding) BUMN sektor Migas yang melibatkan PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Gas (Pertagas) dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN).

Berdasarkan roadmap BUMN sektor energi, dinyatakan bahwa perlu adanya konsolidasi bisnis gas BUMN dalam rangka peningkatan pemanfaatan gas bumi domestik. Penggabungan bisnis PGN dan Pertamina merupakan langkah strategis awal untuk meningkatkan efektivitas dan meningkatkan integrasi rantai nilai industri gas di Indonesia.

Pembentukan Holding BUMN sektor Migas ditandai dengan ditandatanganinya Akta Pengalihan Saham Seri B miliki Negara sebesar 56,96% di PGN kepada PT Pertamina (Persero) pada 11 April 2018.

Dengan bergabungnya PGN menjadi entitas anak Pertamina, maka Pertamina menjadi perusahaan gas yang memiliki jaringan pipa gas terpanjang di ASEAN, yaitu sepanjang 9.600 KM.

INISIATIF STRATEGIS

Fokus dan strategi utama Pertamina tahun 2018 adalah untuk mendukung upaya pencapaian ketahanan dan kemandirian energi nasional. Untuk menjawab tantangan tersebut, Pertamina mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menciptakan sinergi agar dapat memberikan solusi untuk kepentingan nasional.

Untuk mengurangi impor crude, tahun 2018, Pertamina melakukan optimalisasi pengolahan crude domestik di kilang. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi pengolahan crude impor di kilang, sesuai dengan arahan Pemerintah melalui Peraturan Menteri ESDM No. 42 tahun 2018 tentang Prioritas Pemanfaatan Minyak Bumi untuk Pemenuhan Kebutuhan Dalam Negeri. Upaya tersebut membuahkan hasil yang cukup baik, di mana pengolahan crude domestik mengalami peningkatan menjadi 62% dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar 58%.

Bisnis minyak dan gas terintegrasi yang dijalankan Pertamina memungkinkan untuk membangun sinergi di antara Pertamina Group, yaitu terdiri dari PT Pertamina (Persero) dan anak-anak usahanya baik yang bergerak di usaha hulu migas, hilir migas, maupun non migas. Value Creation dari sinergi Pertamina Group di tahun 2018 berhasil mencapai USD 1,9 miliar.

Tahun 2018, Pertamina menjalankan program Berkah Energi Pertamina, yaitu sebuah program sebagai reward Pertamina untuk para konsumen yang dengan setia menggunakan produk Pertamina. Program ini dipadukan dengan aplikasi My Pertamina yang menjadi bagian dari strategi Pertamina untuk lebih mendekatkan diri dengan konsumen. Program Berkah Energi Pertamina merupakan bentuk apresiasi kepada loyalitas konsumen di era modern ini seiring berkembangnya teknologi digital.

Program Berkah Energi Pertamina ini dilaksanakan serentak di seluruh wilayah Indonesia mulai dari 9 Agustus 2018 dan akan berakhir pada 31 Juli 2019. Untuk pengundian hadiah yang bertotal miliaran rupiah ini akan dilaksanakan dalam 3 tahapan periode. Pengundian tahap 1 jatuh pada bulan Desember 2018, tahap 2 pada bulan April 2019, dan pengundian tahap 3 direncanakan jatuh pada bulan Agustus 2019.

KINERJA OPERASIONAL

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, tahun 2018 Pertamina berhasil menunjukan peningkatan kinerja operasional yang cukup baik. Dari Sektor Hulu, Pertamina berhasil mencatat pertumbuhan produksi minyak dan gas sebesar 33% dibandingkan tahun sebelumnya dengan total produksi sebesar 921 MBOEPD.

Produksi minyak tahun 2018 mencapai sebesar 393 MBOPD, meningkat 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan produksi gas sebesar 3.059 MMSCFD, meningkat 50% dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, produksi panas bumi yang berasal dari area own operation mencapai 4.182 GWh atau lebih tinggi 7% dari tahun sebelumnya.

Selain berhasil meningkatkan produksi, Pertamina juga berhasil meningkatkan cadangan migas terbukti (proven reserves, P1) yang tercatat tahun 2018 adalah sebesar 426,25 MMBOE. Angka ini lebih tinggi 36% dibandingkan P1 tahun 2017. Reserve Replacement Ratio (RRR) migas adalah 137,81%. Angka RRR tahun 2018 lebih rendah dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 143%. Tambahan cadangan migas tahun 2018 sebagian besar berasal dari kegiatan anorganik melalui alih kelola wilayah kerja migas dalam negeri yang habis masa kontraknya, seperti misalnya WK Mahakam, Sanga-Sanga, Attaka, dan East Kalimantan. Hal ini menjadi bukti komitmen PT Pertamina untuk tetap menjaga keberlanjutan produksi migas nasional dengan terus melakukan kegiatan eksplorasi.

Kinerja operasi kilang tahun 2018 secara umum juga mengalami peningkatan. Pengolahan minyak mentah, gas dan intermedia tahun 2018 tercatat sebesar 336,54 MMbbl, meningkat 4% dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan volume produksi BBM (10 produk utama) meningkat 6% dibandingkan tahun 2017 menjadi 278,86 MMbbl.

Di Sektor Hilir, kinerja pemasaran Pertamina tahun 2018 juga menunjukan peningkatan yang cukup baik. Penjualan produk BBM tumbuh menjadi 70 juta KL dari tahun sebelumnya 67 juta KL, sedangkan produk non BBM relatif stabil dengan penjualan sebesar 16 juta KL. Penjualan gas meningkat signifikan menjadi 1.222.632 BBTU dari tahun sebelumnya 823.769 BBTU, penambahan signifikan ini akibat bergabungnya PGN menjadi entitas anak Pertamina.

Pertamina juga dapat menjalankan penugasan dari pemerintah mewujudkan BBM Satu Harga di Indonesia. Sampai dengan Akhir tahun 2018, secara nasional Pertamina telah merealisasikan pengoperasian dan uji operasi atas lembaga penyalur BBM Satu Harga sebanyak 125 (55 titik di tahun 2017 dan 70 titik di tahun 2018) titik di daerah-daerah Terdepan, Terluar dan Terpencil atau 3T. Dengan adanya SPBU ini, sekarang masyarakat dapat membeli BBM Premium dan Solar dengan harga yang sama dengan masyarakat di daerah lain yang sudah menikmati harga sesuai Peraturan Presiden No. 191 Tahun 2014 yaitu Premium Rp6.450/liter, dan produk Solar seharga Rp5.150/liter.

KINERJA KEUANGAN

Peningkatan kinerja operasional sepanjang tahun 2018 berdampak pada kinerja keuangan Perseroan. Secara umum, kinerja keuangan Pertamina tahun 2018 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya dan berada di atas target RKAP tahun 2018.

Jumlah penjualan dan pendapatan usaha lainnya tahun 2018 mencapai USD 57.934 juta, tumbuh 25,94% dibandingkan tahun sebelumnya USD 46.000 juta dan 108,46% di atas RKAP 2018 yang ditetapkan sebesar USD 53.416 juta. Pendapatan usaha Perseroan tahun 2018 utamanya dikontribusi oleh penjualan dalam negeri minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi dan produk minyak yang mencapai USD 44.743 juta, meningkat 12,45% dibandingkan tahun sebelumnya USD 39.789 juta.

Sementara pertumbuhan pendapatan terbesar tahun 2018 diperoleh dari pendapatan usaha dari aktivitas operasi lainnya yang pada tahun 2018 mengalami pertumbuhan sebesar 427,87% menjadi USD 3.906 juta dari USD 740 juta pada tahun 2017.

Namun demikian, peningkatan produksi dan penjualan juga diikuti oleh pertumbuhan beban pokok penjualan dan beban langsung lainnya yang pada tahun 2018 meningkat 29,47% dibandingkan tahun 2017 menjadi USD 48.714. Peningkatan beban pokok produksi dan beban langsung lainnya tersebut utamanya disebabkan meningkatnya harga minyak dan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD sepanjang tahun 2018. Hal ini membuat laba usaha yang dibukukan Pertamina tahun 2018 terkoreksi menjadi USD 6.246 juta dan laba tahun berjalan juga terkoreksi menjadi USD 2.636 juta. EBITDA 2018 sebesar USD 9.204 juta, naik 26,86% dibandingkan tahun 2017 sebesar USD 7.256 juta

PROSPEK DAN RENCANA KE DEPAN

Tahun 2019, kondisi ekonomi global diprediksi masih akan dibayangi oleh dampak perang dagang antara AS dan Tiongkok. Selain itu, The Fed juga memiliki rencana untuk kembali menaikan tingkat suku bunga acuan sebagai bagian dari upaya menstabilkan mata uang dan ekonomi AS.

Di tengah kondisi tersebut, industri minyak dan gas juga diwarnai dengan kekhawatiran akan menurunnya produksi minyak akibat krisis yang terjadi di Venezuela. Hal ini dikhawatirkan dapat kembali memicu meningkatnya harga minyak mentah di pasar dunia.

Di tengah kondisi tersebut, Pertamina menatap tahun 2019 dengan optimisme yang tinggi. Bergabungnya 13 Wilayah Kerja (WK) Eks Terminasi, di mana 8 WK telah efektif pada tahun 2018 telah meningkatkan cadangan migas terbukti (proven reserves, P1) Pertamina. Tidak hanya itu, produksi migas Pertamina juga akan mengalami peningkatan cukup signifikan, terutama dari WK Rokan yang merupakan WK dengan produksi minyak terbesar nasional.

Di aspek pengolahan migas, proyek pengembangan 4 kilang dan pembangunan 2 kilang baru tidak hanya akan meningkatkan kapasitas pengolahan kilang Pertamina hingga 2.000 MBSD tapi juga meningkatkan kualitas BBM yang diproduksi, dari Euro 2 menjadi Euro 5.

Kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No. 42 Tahun 2018 tentang Prioritas Pemanfaatan Minyak Bumi untuk Kebutuhan Dalam Negeri juga memberikan peluang bagi untuk menghemat biaya angkut minyak mentah impor yang selama ini dilakukan Pertamina.

Pada tahun 2014 melalui Peraturan Pemerintah No. 79 tahun 2014 mengenai Kebijakan Energi Nasional (KEN), pemerintah menetapkan target Bauran Energi Nasional dalam rangka mewujudkan ketahanan energi nasional, di mana proporsi EBT meningkat secara bertahap, yaitu 5% pada tahun 2015, 23% pada tahun 2025, dan 31% pada tahun 2050. Walaupun capaian Bauran Energi Nasional masih jauh dari target, Pertamina sebagai perusahaan energi nasional mendukung dan berkomitmen penuh pengembangan EBT. EBT Pertamina yang paling signifikan kemajuan pengembangannya adalah energi panas bumi yang dikelola oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE).

Di sisi lain, pemerintah memiliki jalan peta penyediaan bahan bakar nabati, di mana pada tahun 2018 Pertamina sebagai salah satu Badan Usaha Niaga Umum BBM (BU BBM) telah memenuhi target suplai dan pendistribusian bahan bakar nabati jenis biodiesel 20% (B20) ke pasar ritel maupun industri dengan total volume 16 juta kilo liter. Dengan penerapan B20, Pertamina berhasil mengurangi impor Solar cukup signifikan hingga akhir 2018. Di tahun 2019 pemerintah menargetkan penerapan B30. Peta jalan pemerintah yang cukup agresif ini berpotensi mengurangi impor Solar Pertamina lebih besar lagi, sekaligus menciptakan peluang bagi Pertamina untuk mengembangkan kilang produksi bahan bakar nabati (green refinery).

Upaya lain untuk menuju pengembangan energi ramah lingkungan adalah dengan mengoptimalkan bahan bakar gas. Di dalam negeri, permintaan terhadap gas sebagai energi fosil yang lebih ramah lingkungan diproyeksikan akan terus meningkat. Proyeksi tersebut berkaca pada mega proyek pengembangan kilang dan pembangunan kilang baru yang dilakukan oleh Pertamina hingga 5 sampai 6 tahun ke depan akan menyerap gas dalam volume cukup besar. Dengan telah terintegrasinya PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN) dengan Pertamina melalui holding BUMN migas, semakin terwujud integrasi infrastruktur gas, sekaligus menghemat biaya modal dan operasional. Kondisi ini menciptakan peluang bagi Pertamina untuk mengintegrasikan bisnis hulu dan hilir gas.

Dalam bisnis gas alam cair (LNG), kompetensi dan pengalaman yang dimiliki Pertamina menciptakan peluang untuk melakukan ekspansi bisnis ke luar negeri. Bila selama ini pasar tradisional LNG Pertamina adalah China, Jepang, dan Taiwan, saat ini Pertamina tengah mencari pasar LNG ke Asia Selatan dan Afrika. Ditandatanganinya kesepakatan pasokan LNG dengan Petrobangla Bangladesh pada tahun 2018 yang diinisiasi oleh pemerintah kedua negara menjadi pintu akses Pertamina untuk memperluas pasar di kawasan tersebut.

PENINGKATAN KUALITAS SDM

Bagi Pertamina, Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu mata rantai yang paling penting dari rantai bisnis yang terintegrasi. Karena itu, kami terus berupaya untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas SDM dengan menyelenggarakan program pendidikan dan pelatih sesuai dengan kebutuhan dan rencana perusahaan.

Selain itu, Pertamina juga membangun budaya perusahaan berkinerja tinggi yang didasari oleh perilaku kerja efektif berdasarkan Tata Nilai 6C (Clean, Competitive, Confident, Customer focus, Commercial, dan Capable) dan didukung iklim kerja yang kondusif berdasarkan keterlibatan Pekerja (employee engagament). Pemahaman dan pelaksanaan Tata Nilai 6C akan membentuk perilaku yang menjadi budaya, sebagai ciri khas Pertamina di antara perusahaanperusahaan lainnya.

TATA KELOLA PERUSAHAAN

Dalam rangka mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional, Pertamina juga memperkuat aspek tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance/GCG). Pertamina meyakini, penerapan prinsip tata kelola perusahaan menjadi faktor yang sangat penting dalam mewujudkan tujuan tersebut. Karena itu, Pertamina terus berupaya untuk meningkatkan kualitas penerapan GCG baik yang berkaitan dengan organ maupun mekanisme GCG.

Tahun 2018, sebagai bagian dari penerapan prinsip transparansi dan akuntabilitas, Pertamina mempererat kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melakukan pengawasan terhadap operasional Pertamina. Selain itu, pada tingkat internal Pertamina juga semakin memperkuat fungsi dari Komite Audit dan Internal Audit dalam melakukan pengawasan internal.

Pertamina juga mulai menerapkan ISO 31000: 2018 sebagai standar mutu di bidang manajemen risiko yang merupakan pengembangan dari standar sebelumnya yaitu ISO 31000: 2009. Standar tersebut berisi prinsip-prinsip, kerangka kerja, serta panduan dalam pengelolaan risiko sesuai dengan karakter bisnis, organisasi dan culture Perusahaan sehingga dapat mendukung tercapainya tujuan ERM di Pertamina. Tiga fondasi utama dalam ISO 31000:2018 yang diimplementasikan dalam pengelolaan risiko di Pertamina, terdiri dari Prinsip (Risk Management Principles), Kerangka Kerja (Risk Management Framework) dan Proses Manajemen Risiko (Risk Management Process).

PERUBAHAN KOMPOSISI DIREKSI

Tahun 2018, komposisi Direksi Pertamina mengalami perubahan sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor SK - 97/ MBU/04/2018 tanggal 20 April 2018, Nomor SK - 242/MBU/09/2018 tanggal 13 September 2018, dan Nomor SK-232/ MBU/08/2018 tanggal 28 Agustus 2018 selaku Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Perseroan.

Dengan demikian, komposisi Direksi Pertamina pada 31 Desember 2018 adalah sebagai berikut:

APRESIASI

Pertamina telah berhasil melalui tahun 2018 dengan capaian kinerja yang baik. Direksi memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kepercayaan, komitmen dan kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan, khususnya kepada jajaran manajemen dan seluruh karyawan yang telah bekerja keras di tengah tantangan yang terjadi di industri yang terus meningkat.

Direksi juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada jajaran Dewan Komisaris atas arahan yang diberikan kepada Direksi yang sangat membantu dalam pencapaian kinerja Perseroan tahun 2018. Direksi juga memberikan penghargaan yang setinggitingginya kepada pemegang saham, pelanggan dan mitra kerja, atas kepercayaan dan kerja sama yang sudah terjalin dengan sangat baik. Perseroan akan terus menjunjung komitmen untuk memberikan yang terbaik kepada seluruh pemangku kepentingan dan pemegang saham.

PERNYATAAN DIREKSI DAN DEWAN KOMISARIS TENTANG TANGGUNG JAWAB ATAS LAPORAN TAHUNAN 2018 PT PERTAMINA (PERSERO)

Sesuai dengan prinsip Good Corporate Governance (tata kelola perusahaan yang baik) dan peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia, maka PT Pertamina (Persero) menerbitkan Laporan Tahunan 2018. Laporan Tahunan 2018 PT Pertamina (Persero) menyajikan informasi mengenai kinerja perusahaan, penerapan tata kelola perusahaan, pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan, Laporan Keuangan Konsolidasian PT Pertamina (Persero) untuk periode 1 Januari sampai 31 Desember 2018, dan informasi lainnya yang relevan dan signifikan bagi para pemangku kepentingan.

Kami, segenap Direksi dan Dewan Komisaris PT Pertamina (Persero) yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bertanggung jawab penuh atas kebenaran isi Laporan Tahunan 2018 PT Pertamina (Persero).

Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya.

Jakarta, 2019


32
PERTAMINA Laporan Tahunan 2018