PROFIL PERUSAHAAN

Fungsi Penunjang

HUMAN CAPITAL PERAN

SUMBER DAYA MANUSIA

Bagi Pertamina, Sumber Daya Manusia (SDM)/Human Capital (HC) merupakan salah satu mata rantai yang paling penting dari rantai bisnis yang terintegrasi. Kinerja dan kontribusi dari setiap individu berpotensi untuk menentukan laju pertumbuhan bisnis dalam setiap aspek. Seiring dengan visi Pertamina untuk menjadi Perusahaan Energi Nasional kelas dunia perlu diiringi dengan peningkatan kualitas seluruh SDM dalam organisasi. Untuk mendukung pencapain Visi Perusahaan, Pertamina menyusun HC Strategy House yang merefleksikan visi dan strategi HC yang selaras dengan kebutuhan bisnis. Dengan demikian, diharapkan pengelolaan sumber daya manusia berjalan dengan terstruktur dan efektif agar setiap individu mampu memberikan kontribusi terbaik sesuai kapabilitasnya.

Klik di Sini untuk Lihat detil Gambar

KEBIJAKAN PERENCANAAN DAN PENGELOLAAN TALENT SOURCING

Pertamina melakukan perencanaan tenaga kerja (strategic workforce planning) dengan mempertimbangkan sejumlah aspek secara komprehensif di antaranya produktivitas, kinerja keuangan, strategi bisnis, rencana perubahan organisasi, internal movement, dan jumlah pekerja yang akan pensiun. Hasil dari strategic workforce planning tersebut diterjemahkan ke dalam 6 (enam) strategi pemenuhan jabatan (job fulfillment strategies) yaitu:

  1. Buy, melakukan rekrutmen eksternal sesuai kebutuhan perusahaan, baik fresh graduate maupun experienced hire dengan status PWTT maupun PWT.
  2. Borrow, mengoptimalkan sumber daya anak perusahaan melalui mekanisme perbantuan ke PT Pertamina (Persero).
  3. Transform, menggunakan metode baru dalam menyelesaikan pekerjaan melalui reorgansasi, penggunaan teknologi, dan transformasi digital.
  4. Regroup, melalukan perubahan strategi bisnis maupun business prosess re-engineering.
  5. Build, melakukan pengembangan kapabilitas pekerja sesuai dengan tuntutan bisnis untuk memastikan ketersedian suksesor di setiap level jabatan.
  6. Bind, mempertahankan top talent melalui program pengembangan yang dapat meningkatkan nilai tambah terhadap Perusahaan.

BUDAYA KORPORAT

Pertamina membangun budaya perusahaan berkinerja tinggi yang didasari oleh perilaku kerja efektif berdasarkan Tata Nilai 6C dan didukung iklim kerja yang kondusif berdasarkan keterlibatan Pekerja (employee engagament). Pemahaman dan pelaksanaan Tata Nilai 6C akan membentuk perilaku yang menjadi budaya, sebagai ciri khas Pertamina di antara perusahaan-perusahaan lainnya. Setiap individu Pekerja di Pertamina harus memastikan dirinya berperilaku sesuai dengan Tata Nilai 6C ini. Tata Nilai 6C tersebut terdiri dari; Clean, Competitive, Confident, Customer focus, Commercial, dan Capable.

Guna meningkatkan Strong Values dan menurunkan Limited Values, meningkatkan Employee Engagement (EE) dan konsistensi implementasi Praktik-Praktik Profesional (Practice Pulse Check atau PPC) di lingkungan Pertamina, setiap tahun dilakukan Survei Theme O Meter. Survei tersebut bertujuan untuk mengukur dan memperoleh masukan dari para pekerja dan manajemen atas ketiga hal tersebut di atas. Pada tahun 2018, survei Theme O Meter (ToMS) dilakukan pada bulan Desember di lingkungan PT Pertamina (Persero) dan beberapa Anak Perusahaan.

Jumlah responden survei Theme O Meter mengalami peningkatan dari 9.042 pekerja pada tahun 2017 menjadi 10.395 pekerja pada tahun 2018. Peningkatan jumlah responden dimaksud menunjukkan makin meningkatnya kepedulian pekerja terhadap kesehatan budaya Perusahaan.

Hasil Survei Theme O Meter, secara umum menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir dengan indeks tertinggi dicapai di tahun 2018, dengan rincian sebagai berikut:

a. Employee Engagement (EE): 86,1% dan Practise Pulse Check (PPC): 78,7%. Berikut tren pergerakan indeks EE dan PPC.

Dari hasil survei EE dan PPC lima tahun terakhir, menunjukan kecenderungan penurunan gap antara EE dan PPC, hal ini mencerminkan peningkatan dalam employee engagement dan praktik manajemennya. Namun untuk beberapa aspek masih perlu ditingkatkan, yaitu terkait Performance Management, Carrier Management, Innovation dan Excellent Execution.

Hasil survei seluruh dimensi EE telah mencapai target 85%, mulai dari dimensi Aspirations, Accountabilities, Collaboration, Recognition, dan People Manager Interaction. Sedangkan hasil seluruh dimensi PPC yang di atas 77% adalah People Performance Management, Employee Engagement, Close Leadership Gap, Sense of Urgency For Change, Motivation with Career / Opportunity and Values, danExecution Excellence.

b. Entropi Budaya mengalami penurunan 0,46% dari 13.24% tahun 2017 menjadi 12,78% tahun 2018 (semakin rendah indeks Entropi Budaya maka semakin sehat suatu perusahaan). Nilai Entropi Budaya tahun 2018 semakin mendekati kategori Prima/Sehat.

RESEARCH & TECHNOLOGY

Untuk mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional, Pertamina harus dapat mengoptimalkan sumber daya yang ada seraya terus mencari sumber daya baru. Untuk itu, Pertamina membentuk Research and Technology Center (RTC).

RTC merupakan fungsi yang dibentuk dengan tujuan untuk mendukung aspirasi Pertamina menuju perusahaan energi kelas dunia melalui kegiatan inovasi yang terintegrasi dan secara umum mencapai standar yang sama dengan perusahaan energi kelas dunia lainnya. RTC mendukung Pertamina dalam 4 (empat) aspek kegiatan riset dan pengembangan yaitu:

  1. Mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki saat ini dan meningkatkan produksi minyak dan gas dari lapangan yang ada;
  2. Mengakses sumber daya yang baru, termasuk sumber daya yang belum tergali dari wilayah yang belum terjamah;
  3. Meningkatkan margin atau keuntungan bisnis Pertamina melalui pengembangan ide, menyediakan solusi dan menyebarkan penggunaan teknologi baru;
  4. Mendukung keberlanjutan bisnis Pertamina melalui diversifikasi bisnis seperti bisnis petrokimia, kimia dan energi baru terbarukan.

Tahun 2018, RTC telah menjalankan beberapa proyek penelitian dan pengembangan antara lain:

1. Kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi di fungsi Upstream Research & Technology yang terbagi menjadi 5 (lima) bidang riset yaitu Exploration Research, Development Research, Drilling and Well Construction Research, Production Research dan Geothermal Research. Beberapa proyek utama yang telah berjalan di fungsi ini selama tahun 2018 ialah sebagai berikut:

a. Improved Development Module Material Selection for Tubing/Pipeline CO2 Environment;

b. Rancang bangun Adsorben Hg, As dan H2S untuk Eksplorasi Geothermal;

c. Riset Digital Petrophysics;

d. Development of Stuck Pipe Early Warning System for Drilling Rigs; serta

 e. Chemical selection di Laboratorium Pertamina untuk peningkatan produksi dengan EOR di Lapangan Jirak dan Rantau Pertamina EP

2. Kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi di fungsi Downstream Research & Technology yang terbagi menjadi 4 (empat) bidang riset yaitu Oil and Gas Research, Process Development Research, Materials and Chemicals Research dan Petrochemical and Petroleum Non Fuel Research. Di fungsi ini, kegiatan yang menjadi proyek utama selama tahun 2018 ialah kegiatan penelitian terkait dengan pengembangan Aspal Pertamina.

3. Kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi di fungsi New & Renewable Energy yang terbagi menjadi 4 (empat) bidang riset yaitu New Energy Development Research, Renewable Energy Development Research, Power Development and Storage Management Research serta Carbon Capture and Storage Research. Beberapa proyek utama yang berjalan di fungsi ini antara lain adalah:

a. Riset dan Pengembangan Biobutanol & Bioethanol 2nd Gen;

b. Pengembangan Komponen Material Elektroda, Optimasi Formulasi dan Produksi Prototype Lithium Ion Battery (LIB);

c. Utilisasi CO2 untuk Value Added Product; serta d. PyGas Production by Biomass Pyrolisis

Agar kinerjanya dapat berjalan lebih optimal, RTC juga didukung oleh fungsi R&T Planning and Commercial yang memiliki tiga pilar utama, yaitu: pilar proses bisnis dengan disusunnya sistem tata kelola (STK) RTC, pilar infrastruktur pengelolaan dan pengembangan fasilitas riset serta pilar sumber daya manusia sebagai aset yang akan mengelola dan menentukan arah pengembangan produk dan / atau proses di Pertamina.

Pertamina telah mendaftarkan 134 HKI, di mana RTC berpartisipasi sebanyak 41 paten dengan 19 paten telah granted, di antaranya adalah formulasi refrigeran hidrokarbon sebagai pengganti refrigeran sintetik R-12 dan R-134a (Musicool), proses pembuatan katalis pengolahan hidro yang selektif pada penjenuhan olefin dan penyingkiran senyawa nitrogen dalam umpan hidrokarbon dan produk yang dihasilkan dari proses tersebut (Katalis NHT), pelarut berbahan hidrokarbon untuk membersihkan logam dan proses pembuatannya (Solphy -2) dan komposisi bahan bakar nilai oktan minimal 100 (Pertamax Racing).

QUALITY SYSTEM AND KNOWLEDGE MANAGEMENT

Pertamina membentuk Fungsi Quality System and Knowledge Management (QS&KM) dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja Perusahaan melalui penciptaan, budaya perbaikan yang berkelanjutan, peningkatan efektivitas implementasi sistem standar dan budaya berbagi pengetahuan yang dijalankan dalam koridor proses bisnis selaras dengan Prioritas World Class Pertamina.

Fungsi QS&KM menjamin implementasi kualitas proses bisnis Perusahaan dalam empat pilar mutu Pertamina, yaitu Continuous Improvement Program (CIP), System & Standard Management (SSM), Knowledge Management (KMS) serta Quality Management Assessment (QMA). Keempat pilar tersebut memiliki peran berbeda di setiap level korporasi dalam menjamin kualitas bisnis tersebut. Dalam rangka implementasi kualitas proses bisnis tersebut, Fungsi QSKM pada 2018 didukung oleh personel sebanyak 31 orang dengan kompetensi yang sesuai dengan perkembangan dan tuntutan bisnis.

Pada 2018, Fungsi QS&KM telah menjalankan tugas, program kerja, serta pencapaian kinerja mendukung Visi Pertamina yaitu Menjadi Perusahaan Energi Nasional Kelas Dunia. Fungsi QSKM senantiasa menjamin kualitas yang baik di seluruh unit operasi, unit bisnis, serta anak Perseroan di dalam dan luar negeri sesuai dengan Kebijakan Sistem Manajemen Pertamina dan Code of Pertamina, Pertamina menerapkan kebijakan tersebut melalui Fungsi QSKM guna menjamin kualitas budaya perbaikan berkelanjutan seluruh unit operasi/bisnis/regional dan anak Perseroan melalui empat pilar utama kegiatan sebagai berikut:

1. Continuous Improvement Program (CIP) CIP merupakan program kegiatan untuk menyelesaikan masalah pekerjaan dan meningkatkan efisiensi melalui metode PDCA dan DELTA di lingkungan kerja Pertamina. Pada 2018, Pertamina berhasil menciptakan nilai (value creation) sebesar lebih dari Rp40 triliun sebagai wujud komitmen untuk menjalankan bisnis secara efisien dalam bentuk saving cost, additional revenue maupun reduction cost. Pada 2018 juga telah dilakukan site visit sustainability dalam rangka memastikan keberlanjutan implementasi hasil CIP Insan Mutu Pertamina. Dari kegiatan ini berhasil didapatkan value creation sebesar Rp525 miliar dari 30 hasil CIP. Penciptaan nilai yang berhasil dilakukan Pertamina merupakan wujud komitmen Perusahaan untuk menjalankan bisnis secara efisien dalam bentuk penghematan dan efektifitas proses dalam mencapai bahkan melampaui target revenue yang ditetapkan. Pada 2018, tercatat 3169 CIP yang terselesaikan dengan peningkatan CIP dari tahun 2017. Semakin banyaknya CIP yang terselesaikan memiliki makna bahwa insan Pertamina mulai membiasakan diri untuk menyelesaikan masalah pekerjaan dengan menggunakan PDCA dan DELTA (Delapan Langkah Tujuh Alat).

Di tahun 2018, Direktorat Manajemen Aset berhasil melakukan beberapa pencapaian kinerja berikut:

a. Pemindahbukuan Aset Penunjang Usaha (APU) Direktorat Manajemen Aset melakukan pemindahbukuan sejumlah Aset Penunjang Usaha (APU) dengan tujuan sebagai berikut:

• Pengelolaan Aset Penunjang Usaha (APU) secara terpusat, terpadu dan terintegrasi

• Biaya perawatan Aset Penunjang Usaha (APU) tidak membebani Direktorat Teknis

b. Penghapusbukuan aktiva Direktorat Manajemen Aset membantu proses penghapusan aktiva Direktorat Teknis di tahun 2018 terhadap 643 aktiva tetap, material, resale commodities, dan scrap. Direktorat Manajemen Aset saat ini sedang mengusulkan penyesuaian prosedur Penghapusan Aktiva sehingga proses birokrasi yang dilalui dapat lebih efektif dan efisien.

c. Pertamina sampai saat ini sedang melakukan penyelesaian permasalahan aset dengan berkerja sama dengan fungsi dan instansi terkait pengadaan lahan

d. Pertamina telah melakukan proses pengadaan lahan guna mendukung kebutuhan operasional perusahaan

e. Transformasi digital dan Penulisan sejarah

• Direktorat Manajemen Aset sepanjang tahun 2018 masih terus melakukan pengembangan terhadap aplikasi SIMA sehingga dapat mendukung proses bisnis di lingkungan Manajemen Aset.

• Penulisan sejarah seluruh aset Pertamina dengan cara penelusuran dokumen tanah, penyusunan kronologis perolehan tanah, serta dokumentasi dalam rangka memperkuat status kepemilikan tanah Pertamina

f. Optimalisasi Aset Penunjang Usaha (APU)

• Optimalisasi Aset Penunjang Usaha (APU) dilakukan melalui skema bisnis swakelola, sewa, pinjam pakai, kerja sama dan divestasi (scrap).

• Pertamina melakukan forum Sinergi Anak Perusahaan dan BUMN karya dalam rangka optimalisasi aset Pertamina

• Rencana optimalisasi aset dengan skema kerja sama dengan anak perusahaan Pertamina sebagai vehicle

• Kerja sama Bandara Warukin antara Dishub dan Pertamina dengan Penugasan kepada PT PAS

g. Pertamina melakukan pengembangan aset dengan bekerja sama dengan Patra Jasa

h. Proses pengajuan terkait peningkatan status kepemilikan/ sertifikasi aset Kantor Pusat dan Unit Operasi Pelaksanaan pengadaan barang/jasa dan Amandemen

i. Pencapaian kegiatan pengadaan barang/ jasa yang telah diselesaikan selama periode bulan Januari sampai Desember 2018 sebanyak 10.838 proses pengadaan barang/jasa.

2. Knowledge Management System (KMS) KMS berperan dalam meningkatkan budaya berbagi pengetahuan serta mengelola pengetahuan Perusahaan secara terintegrasi. Pertamina memaksimalkan implementasi tekonologi dalam melaksanakan kegiatan berbagi pengetahuan melalui webinar serta pengelolaan aset pengetahuan yang memudahkan diakses di seluruh lingkungan Perusahaan dalam Knowledge Management melalui portal KOMET. Selain itu, KMS juga mengelola Hak Kekayaan Intelektual sebagai hasil dari proses perbaikan berkelanjutan di Pertamina berbasis CIP. Kegiatan berbagi pengetahuan tersebut dilakukan melalui tatap muka (offline), informasi (online) seperti webinar, dan pengelolaan portal KOMET yang bertujuan untuk menciptakan, mengumpulkan, memantau dan mendistribusikan aset pengetahuan di Pertamina.

3. Quality Management Assessment (QMA) QMA berbasis Kriteria Kinerja Ekselen Pertamina (KKEP) berperan dalam mewujudkan terciptanya kinerja ekselen di seluruh Unit Bisnis/ Unit Operasi/Anak Perusahaan. Pertamina merealisasikan hal ini dengan memonitor integrasi antara good plan-good execution dan good achievement dari kinerja ekselen tersebut. Pencapaian di setiap Unit Bisnis/Unit Operasi/ Anak Perusahaan dapat mendorong pencapaian kinerja ekselen perusahaan secara korporat. Hingga akhir tahun 2018, QMA telah diterapkan pada 32 Unit Bisnis/Unit Operasi/Anak Perusahaan dengan kategori Emerging Company.

Pertamina menetapkan kebijakan dan rencana jangka panjang dengan fokus atas implementasi serta praktik manajemen mutu yang ekselen bagi Pertamina. Oleh karena itu, Fungsi QSKM bersama dengan BUMN maupun Perusahaan lain berkolaborasi terkait pengelolaan mutu secara ekselen serta mampu meningkatkan daya saing Perseroan. Salah satu bentuk kolaborasi ini adalah dengan pertukaran tenaga asesor untuk asesmen KPKU, Penugasan Auditor Sistem Standar dalam Cross Functional Internal Audit di beberapa Perusahaan. Diharapkan kolaborasi ini dapat memperkuat sumber daya Pertamina dalam meningkatkan jaminan mutu dalam hal produk dan jasa.

Dalam menjamin operasi yang efektif, Fungsi QSKM dalam Pertamina Standardization & Certification mengelola seluruh proses implementasi manajemen sistem standar bagi seluruh unit operasi, unit bisnis dan anak Perseroan dalam rangka memenuhi harapan pelanggan. Fungsi System Business Process sebagai bagian dari QSKM akan mengupayakan proses pengelolaan dokumen Perseroan, proses pembuatan sistem tata kerja dan mekanisme korespondensi Perseroan yang secara dinamis didesain untuk mendukung proses bisnis dan operasi Perseroan.

Dalam menjamin dan meningkatkan kualitas inovasi dari Insan Mutu Pertamina maka fungsi Quality Management Corporate akan berupaya melakukan audit sustainability agar hasil inovasi yang telah dihasilkan Insan Mutu Pertamina tetap berjalan dengan baik. Selain itu fungsi QMC juga mengupayakan agar hasil inovasi yang telah ada dapat direplikasi di Unit Operasi/Bisnis/Anak Perusahaan. Serta untuk menjaga aset pengetahuan yang telah ada fungsi Knowledge Management telah mengelola Hak Kekayaan Intelektual sebagai hasil dari proses perbaikan berkelanjutan di Pertamina berbasis CIP.

CORPORATE ICT

Information, Communication & Technology (ICT) semakin mengambil peran di dunia bisnis. Saat ini hampir tidak ada bisnis yang dapat bertahan tanpa melibatkan peran ICT. Demikian juga dengan Pertamina.

Pertamina menerapkan ICT sesuai dengan kebutuhan dan alignment terhadap strategi dan program kerja korporasi dan memerhatikan kebutuhan masing-masing unit bisnis maupun unit supporting. Fungsi Corporate ICT di Pertamina bertanggung jawab terhadap penyediaan layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) secara menyeluruh dan terintegrasi di semua lini perusahaan baik di PT Pertamina (Persero) maupun di Anak Perusahaan. Tahun 2018, terjadi perubahan struktur organisasi Corporate ICT dimulai dengan perubahan nama Corporate Shared Service (CSS) menjadi Corporate ICT (CICT) dan adanya 2 fungsi baru, fungsi IT ASP (Architecture, Security & Policy) dan Fungsi Digital Transformasi. Fungsi IT ASP dibentuk untuk merumuskan policy, arsitektur dan keamanan informasi sebagai bentuk strategi fungsi Corporate ICT dalam menghadapi ancaman kejahatan cyber dan Fungsi Digital Transformasi dibentuk untuk mengawal transformasi digital di Pertamina.

TRANSFORMASI DIGITAL PERTAMINA

Menimbang semakin pentingnya peran ICT di dunia usaha, maka transformasi digital menjadi sebuah keharusan untuk meningkatkan daya saing. Sejak tahun 2017 Pertamina telah melakukan transformasi digital yang ditandai dengan Digitalisasi Marketing. Tahun 2018, perjalanan Transformasi Digital Pertamina memasuki babak baru yang diawali dengan kegiatan Kick-Off BTP Pertamina Digital Transformation dan Pertamina Digital Expo.

Filosofi Transformasi Digital Pertamina:

Fokus pada tema utama Transformasi Digital

2. Diarahkan berdasarkan kebutuhan bisnis dan dilaksanakan secara terintegrasi

3. Dilakukan secara holistik aspek people, process dan technology

4. Fleksibilitas dalam pengembangan solusi

Tim Transformasi Digital Pertamina telah merumuskan 16 Tema Utama yang akan menjadi prioritasi dalam Transformasi Digital dan pada tahun 2018 dipilih 9 tema utama yaitu Digitalisasi SPBU, B2B – CLM (Customer Loyalty Management), Logistic Planning System, Integrated SCM Planning, Predictive Maintenance, Integrated GGR (Geology, Geophysics & Reservoir), SSO/SSC (Shared Service Organization/ Shared Service Center), Digital HSSE dan .

Pertamina menyadari bahwa transformasi digital tidak hanya terkait dengan aspek teknologi dan proses, namun aspek people (culture) juga menjadi bagian hal yang penting untuk diperhatikan. Karena itu, sepanjang tahun 2018 Pertamina menjalankan program digital culture, antara lain dengan program Pertamina Digital Community, Digital Expo, Digital Awareness, Digital Roadshow, survei Digital Acceleration Index (DAI) dan Benchmarking Digital Culture.

Selain itu, tahun 2018 juga dilaksanakan kegiatankegiatan yang melibatkan pekerja yang menjadi bagian dari transformasi digital, seperti kegiatan Pertamina Energy Hackathon 2018, e-Sport Competition, Paper Competition, dan sebagainya.

PROGRAM STRATEGIS FUNGSI CORPORATE ICT TAHUN 2018

Tahun 2018, dalam rangka mendukung Pertamina mewujudkan visi dan misi perusahaan, Corporate ICT telah menjalankan beberapa program strategis, antara lain :

1. Integrasi Data Perpajakan dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Corporate ICT mendukung program integrasi data perpajakan Pertamina dengan DJP secara H2H (Host-to-Host). Saat ini Pertamina sudah mengimplementasikan program H2H E-Faktur dan E-Bupot dan menjadi BUMN pertama yang mengimplementasikan program ini.

2. Alih Kelola Bisnis Hulu Pada tahun 2018 Corporate ICT sudah banyak terlibat dalam alih kelola bisnis hulu untuk mengawal masa transisi alih kelola untuk aspek ICT. Beberapa proyek alih kelola selama tahun 2018 seperti alih kelola PHE East Ambalat, PHE Tuban East Java, PHE Ogan Komering, PHE OSES, Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) dan Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).

3. Digital Culture Kegiatan Digital Culture diperlukan untuk mengubah cara berpikir dan bekerja organisasi, dengan pola pikir Agile, Collaborative, Innovative, Customer Centric, Data-Driven, dan Engaged guna menghadapi digital disruption. Digital Culture menjadi kontributor bagi BTP Digital Transformation.

4. Corporate Command Center Project Corporate Command Center bertujuan untuk membangun pusat komunikasi intensif dan informasi operasional Pertamina dengan data real-time untuk mendukung visi Pertamina 2025 menjadi Perusahaan Energi Nasional Kelas Dunia. Dengan adanya Corporate Command Center, Pertamina akan memiliki pusat informasi manajemen dan operasional secara end-to-end (hulu sampai hilir) yang bersifat real-time dan menjadi sebuah Executive Gallery dan showcase kinerja Pertamina bagi stakeholder dan tamu-tamu penting (VVIP) Pertamina.

5. Pengembangan Big Data Analytics untuk mendukung Corporate Business Analytics Pengembangan big data analytics dilakukan untuk membangun data warehouse yang terpadu dan andal, mengembangkan data analytics dari sumber data ERP dan non ERP yang terpadu, dan memberikan kemampuan analytics pada informasi/data guna mendukung pengembangan bisnis.

6. Standarisasi Infrastruktur Jaringan Komunikasi Data di Pertamina (Persero) Tujuan dilakukannya standarisasi infrastruktur jaringan komunikasi data di Pertamina (Persero) adalah untuk memberikan layanan komunikasi Pertamina dengan melakukan Standarisasi Jaringan Data Pertamina dan implementasi Software Defined WAN (SDWAN) serta redesign Sistem Video Conference di Pertamina (Persero).

7. Implementasi One Data Center

Implementasi 1 (One) Data Center Pertamina, sehingga semua sistem informasi bersifat Pertamina Wide dan standarisasi Support system di Unit/Area untuk memperlancar, memudahkan arus informasi dan meningkatkan keamanan Sistem Informasi.

8. Digital Reporting Service

Digital Reporting Service diimplementasikan untuk mengurangi backlog, menyediakan report sesuai kebutuhan user tepat waktu, mengurangi human error (otomatisasi) atas report yang dihasilkan, dan membantu dalam pengambilan keputusan.

9. Data Quality Control Automation Peningkatkan kontrol terhadap kualitas data yang dikelola oleh Shared Processing Center (SPC) dan Otomatisasi proses pemeriksaan kualitas data.

10. Pertamina World Class IT Governance Tujuan Pertamina World Class IT Governance adalah menyusun dan mengimplementasikan framework IT governance berbasis best practice yang selaras dengan proses bisnis Pertamina. Membenahi, membangun, hingga menerapkan standar atas proses dan STK yang terintegrasi untuk Pertamina Wide.

11. Cyber Security Resilience Implementation (CSRI)

CSRI merupakan salah satu upaya dalam mewujudkan transformasi ketahanan digital Pertamina dan merupakan kelanjutan dari proyek CSMA (Cyber Security Maturity Assessment) pada tahun 2017.

MANAJEMEN ASET

Dalam memaksimalkan potensi aset, pengembangan jaringan bisnis, serta peningkatan pendapatan Perusahaan, Pertamina membentuk Direktorat Manajemen Aset yang terintegrasi dengan Unit Operasi dan Anak Perusahaan dalam menjalankan proses bisnis pengelolaan aset dan pengadaan barang/jasa sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan bisnis.

Direktorat Manajemen Aset bertanggung jawab atas pengelolaan Aset Penunjang Usaha (APU) Pertamina dalam rangka mendukung bisnis inti Perusahaan agar lebih efektif dan efisien. Pertamina melakukan penyempurnaan Struktur Organisasi Direktorat Manajemen Aset Level Manager Ke Atas berdasarkan Surat Keputusan No.Kpts-58/ C00000/2017-S0 tanggal 25 Oktober 2017 dan Struktur Organisasi Direktorat Manajemen Aset Level di bawah Manager berdasarkan Surat Keputusan No.Kpts-01/K00000/2018-S0 tanggal 22 Januari 2018. Dengan adanya penyempurnaan organisasi tersebut diharapkan Pertamina dapat melakukan pengelolaan Aset Penunjang Usaha (APU) dalam rangka meningkatkan pendapatan Perusahaan dan mendukung bisnis inti perusahaan agar lebih efektif dan efisien.

Direktorat Manajemen Aset memiliki misi untuk melaksanakan pengelolaan aset secara professional sebagai partner strategis kegiatan bisnis Pertamina dan berdasarkan prinsip komersial dengan mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance), melalui pilar utama kegiatan yaitu:

1. Peningkatan pelayanan kepada customer Pertamina sebagai strategic business partner Pertamina melaksanakan peningkatan pelayanan guna mendukung kegiatan inti bisnis Pertamina, berupa:

• Penyediaan lahan untuk kebutuhan perusahaan

• Penyediaan fasilitas kebutuhan kantor & Rumah Dinas Pekerja (RDP)

• Pengelolaan gedung, fasilitas, sarana dan prasarana yang efektif dan efisien

2. Monetisasi Aset Penunjang Usaha Dalam rangka meningkatkan pendapatan dan mengurangi beban operasional perusahaan dalam melakukan pengelolaan Aset Penunjang Usaha, Pertamina melakukan:

• Optimalisasi Aset Penunjang Usaha terutama untuk aset yang bersifat Free (bersertifikat) & Clear (dikuasai)

• Peningkatan nilai Aset Penunjang Usaha

• Sinergi anak perusahaan beserta afiliasinya

• Sinergi BUMN

3. Peningkatan status kepemilikan lahan Dalam rangka peningkatan status kepemilikan lahan, Pertamina melakukan:

• Pengamanan aset dengan bekerja sama dengan fungsi HSSE

• Pengosongan aset dari penghuni tanpa hak dengan bekerja sama dengan fungsi HSSE dan instansi terkait

• Sertifikasi lahan

• Penyelesaian permasalahan lahan

Recovery aset

4. Restrukturisasi aset Guna pengelolaan aset yang lebih efektif dan efisien, Pertamina melakukan restrukturisasi aset berupa:

• Divestasi aset

• Inbreng kepada anak perusahaan

Ruistlag atau tukar guling kepada lembaga/ instansi pemerintah lainnya

• Penyertaan modal kepada pemerintah

5. Procurement Excellence

• Sentralisasi pengadaan barang & jasa komoditi strategis (Korporat, Direktorat, Unit Operasi/Unit Bisnis)

• Sinergi Pertamina Incorporated (Pemetaan & Optimalisasi Kompetensi AP melalui Kontrak Payung)

• Optimalisasi Inventory & Lean Warehouse

• Digitalisasi Procurement (Procurement 4.0)

• Implementasi ISO 37001 : 2016

• Sertifikasi Internasional Kompetensi Procurement

HEALTH, SAFETY & ENVIRONMENT

Health Safety Security Environment (HSSE) merupakan aspek mendasar dalam operasional Pertamina. Setiap prosedur dan tahapan kerja di seluruh kegiatan pertambangan dan produksi hingga distribusi dijalankan sesuai aturan dan pedoman K3 yang berlaku. Seluruh entitas pertambangan dan operasional Pertamina dari mulai operator di lapangan hingga pihak manajemen, serta kontraktor pihak ketiga yang terlibat dengan kegiatan Pertamina diwajibkan mematuhi implementasi HSSE.

Aspek HSSE merupakan salah satu aspek utama dari proses bisnis Pertamina. Manajemen menetapkan bahwa HSSE & Sustainabilty menjadi fondasi dalam strategi korporat 2019 – 2026, dengan mandat utama implementasi budaya HSSE Excellence dengan baik di semua aspek operasional.

Mandat tersebut kemudian dituangkan dalam kebijakan HSSE Perusahaan yang ditandatangani oleh Direktur Utama pada Agustus 2018 dengan yang memuat komitmen sebagai berikut:

1. Mengutamakan aspek HSSE Perusahaan dalam pengelolaan bisnis perusahaan;

2. Mematuhi peraturan perundangan HSSE serta menggunakan teknologi tepat guna sesuai standar nasional dan internasional;

3. Mengurangi risiko serendah mungkin untuk mencegah terjadinya insiden pada personel, aset, informasi dan lingkungan;

4. Melakukan intervensi terhadap kondisi maupun tindakan yang dinilai tidak aman;

5. Memastikan pemahaman dan implementasi Corporate Life Saving Rules (CLSR) pada pekerja dan mitra kerja;

6. Meningkatkan kesadaran dan kompetensi pekerja serta mitra kerja agar dapat melaksanakan pekerjaan secara benar, aman dan berwawasan lingkungan;

7. Melaporkan seluruh insiden secara transparan dan melakukan investigasi untuk mencegah terjadinya insiden serupa;

8. Menjadikan kinerja HSSE personel, aset, data dan informasi Perusahaan dalam penilaian dan penghargaan terhadap seluruh pekerja.

Sebagai langkah / upaya implementasi kebijakan tersebut, Manajemen telah menetapkan 8 program strategis HSSE yaitu :

1. HSSE Governance

2. Safety Culture

3. Emergency Readiness

4. Safe Work Practices

5. Environment Excellent

6. Security Excellent Level

7. HSE Leading Programs Standardization

8. OH-IH Excellent

Klik Disini Lihat detil Gambar

Sedangkan program utama HSSE yang dilaksanakan selama tahun 2018 adalah :

1. Penyusunan SUPREME menuju one Pertamina HSSE Management System dengan pendekatan berbasis risiko, menganut prinsip perbaikan berkelanjutan dan PDCA serta bertahap akan menggantikan protokol ISRS, SMP, Fit to Work

2. Implementasi Reward & Consequences atas kinerja HSSE serta memasukkan bobot HSSE dalam fit proper test dan fit interview pejabat dan blast learning from event (LFE)

3. Melaksanakan crisis management exercise dan emergency drill secara rutin untuk melatih kesiapan saat menghadapi kondisi krisis/ sebenarnya

4. Penerbitan 11 Corporate Life Saving Rules yang dikombinasikan dengan Demo Room untuk peningkatan kompetensi pekerja, khususnya outsourcing

5. Pelaksanaan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) dan audit Protocol Pertamina Environment Regulation Compliance Assurance (PERCA) sebagai baseline pengelolaan lingkungan UO/ Lokasi/ AP yang tidak masuk penilaian PROPER

6. Pelaksanaan cross & internal directorate management walkthrough (MWT) sebagai wadah pembelajaran leader serta wadah komunikasi langsung leader ke frontliner

7. Pelaksanan audit HSSE terintegrasi di 74 lokasi unit operasi / field, yang terdiri dari audit HSSE Manajemen sistem berbasi protokol ISRS, audit fit to work (FtW), audit Sistem Manajemen Pengamanan dan Survei Budaya

Pada tahun 2018, mulai dilaksanakan audit/ assessment yang terintegrasi, dengan penambahan jumlah AP/ Unit Operasi/ Field yang diaudit/ assess dibandingkan Tahun 2017. Adapun audit/ asesmen HSSE terintegrasi meliputi:

1. Audit HSSE MS Protokol ISRS 2018 Tahun 2018 dilaksanakan audit HSSE MS Protokol ISRS di 74 lokasi unit operasi / field, yang dilaksanakan oleh internal asesor dan eksternal asesor. Jumlah lokasi audit meningkat sebanyak 12 AP/ Unit Operasi/ Field, bila dibandingkan dengan jumlah lokasi assessment tahun 2017 sebanyak 62 AP/ Unit Operasi/ Field. Sebanyak 41 AP/ Unit Operasi/ Field berhasil memperoleh level excellent, dengan 11 AP/ Unit Operasi/ Field melebihi target level yang ditetapkan.

2. Pelaksanaan Audit/ Assessment Fit to Work (FtW) Tahun 2018 ini mulai dilakukan audit Fit to Work, sebagai baseline data untuk selanjutnya dilakukan penyusunan program kerja dalam rangka mewujudkan OH-IH excellent. Audit FtW dilaksanakan di 77 AP/ Unit Operasi/ Field. Audit/ assessment FtW level dinilai dengan skala 0-4,0 dan sebanyak 60 AP/ Unit Operasi/ Field (78% dari total AP/ Unit Operasi/ Field) memperoleh FtW Level ≥2,0.

3. Audit Berbasis Protokol Sistem Manajemen Pengamanan (SMP) Audit SP tahun 2018 dilaksanakan di 73 lokasi, jumlah ini meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2017 yang dilaksanakan di 38 lokasi. Hasil dari pelaksanaan SMP tahun 2018 adalah sebanyak 42 lokasi mendapatkan peringkat Gold/ Emas dengan rata-rata nilai seluruh AP/ Unit Operasi/ Field yang memperoleh Level Gold adalah sebesar 87%. Audit dilaksanakan oleh internal assessor Pertamina.

4. Survei Budaya HSE Pada tahun 2018, pengukuran terhadap maturity level budaya HSE dilaksankan untuk mengetahui perubahan yang terjadi setelah pelaksanaan program-program perbaikan di Tahun 2018. Secara umum, pada tahun 2018 skor budaya HSE PT Pertamina (Persero) adalah sebesar 3,97 atau naik sebesar 0,25 dibandingkan tahun 2017, dengan populasi responden yang berada pada level budaya Pathological hingga Calculative berkurang 6,69%.

Selain hal tersebut dalam aspek lingkungan, pada tahun 2018 PT Pertamina (Persero) berhasil meraih 83 PROPER Emas dan Hijau dengan rincian 13 Unit Operasi/ Field berhasil meraih PROPER Emas dan 70 Unit Operasi/ Field berhasil meraih PROPER Hijau.

INTEGRATED SUPPLY CHAIN

Fungsi ISC sebagai penanggung jawab pelaksanaan Optimasi Hilir dan kegiatan pengadaan/penjualan minyak mentah dan produk kilang dituntut untuk dapat melakukan pengadaan minyak mentah dan produk kilang secara efisien sehingga dapat meningkatkan pendapatan Pertamina. Oleh karena itu Fungsi ISC terus melakukan transformasi untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Roadmap transformasi Fungsi ISC terdiri dari 3 (tiga) fase utama, yaitu: Fase 1.0 atau Fase Quick Win, Fase 2.0 atau Fase World Class ISC, dan Fase 3.0 atau Fase Talent Engine. Dalam Breakthrough Project (BTP) tahun 2018, ISC ikut memberikan kontribusi dalam program Pertamina untuk melakukan efisiensi di seluruh lini antara lain :

1. BTP Downstream Operational Excellence (DOE)

2. Optimalisasi FSO Crude Teluk Semangka

3. Maksimalisasi Pembelian Crude Domestik Bagian KKKS

Program BTP Downstream Operational Excellence (DOE) merupakan kolaborasi BTP antara 3 Fungsi yaitu Pengolahan, Pemasaran dan ISC dengan target penurunan angka Integrated Port Time (IPT), optimasi penggunaan infrastruktur di Pengolahan dan Pemasaran, optimasi source pengadaan impor minyak mentah dan produk, dan akselerasi pengembangan infrastruktur dalam mendukung IPT.

Dalam rangka menindaklanjuti dan mengimplementasikan Permen ESDM No.42 Tahun 2018 perihal Prioritas Pemanfaatan Minyak Bumi untuk Pemenuhan Kebutuhan dalam Negeri, serta untuk memenuhi kebutuhan kilang Pertamina, saat ini ISC mendapatkan minyak mentah dari domestik (GOI, Anak Perusahaan Pertamina dan Pembelian dari KKKS) & pembelian impor. Secara value, pembelian impor relatif lebih tinggi dari minyak mentah domestik karena ada tambahan biaya transportasi. Sementara itu saat ini beberapa minyak mentah domestik seperti, KKKS belum sepenuhnya diserap secara maksimal karena terkendala masalah pajak. Hal ini bertujuan antara lain untuk meningkatkan pembelian MM Domestik bagian KKKS sehingga diharapkan porsi MM domestik yang diolah kilang Pertamina akan lebih besar dan secara keseluruhan akan meningkatkan margin hilir.

74
PERTAMINA Laporan Tahunan 2018