ANALISIS DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN

Tinjauan Kinerja Usaha

SEKTOR HULU

Kegiatan usaha Pertamina di sektor hulu yang dikelola oleh Direktorat hulu mencakup kegiatan eksplorasi, pengeboran, pengembangan dan produksi minyak, gas dan panas bumi, penyediaan jasa teknologi, serta jasa pemboran dan services baik dalam maupun luar negeri. Dalam rangka mencapai pertumbuhan sektor hulu (upstream growth) sebagai salah satu dari 8 Pilar Prioritas Strategi Pertamina, strategi usaha di sektor hulu adalah meningkatkan produksi dan menambah cadangan migas baru, baik secara organik melalui kegiatan Improved Oil Recovery (IOR) dan Enhanced Oil Recovery (EOR) pada aset yang telah ada, maupun secara anorganik dengan melakukan strategi merger and acquisition (M&A) blok-blok migas di dalam maupun di luar negeri.

Kegiatan tersebut dilaksanakan Perusahaan melalui Entitas Anak Perusahaan Hulu (APH) yang bertindak sebagai strategic armlength Perusahaan di sektor hulu, yakni sebagai berikut :

  • PT Pertamina EP (PEP)
  • PT Pertamina Hulu Energi (PHE)
  • PT Pertamina EP Cepu (PEPC)
  • PT Pertamina EP Cepu Alas Dara Kemuning (PEPC ADK)
  • PT Pertamina Internasional Eksplorasi Produksi (PIEP)
  • PT Pertamina Geothermal Energy (PGE)
  • PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI)
  • PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI)
  • PT Elnusa Tbk.

Kinerja Sektor Hulu Tahun 2018

Pada tahun 2018 Pertamina memproduksi minyak dan gas secara total sebesar 921 MBOEPD, lebih tinggi 33% dibandingkan pencapaian produksi tahun 2017. Produksi minyak tahun 2018 yakni sebesar 393 MBOPD, meningkat 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan produksi gas sebesar 3.059 MMSCFD, meningkat 50% dibandingkan tahun sebelumnya. Kontributor produksi migas diurutkan dari yang terbesar yakni PEP, PHI, PHE, PIEP, dan PEPC. Produksi wilayah kerja terminasi sebesar 58 MBOEPD atau 3% dari produksi Pertamina, dicatatkan di PHE dan PHI. Apabila dibandingkan dengan tahun lalu, secara umum angka produksi migas meningkat. WK luar negeri memberi kontribusi produksi 16,6% dari keseluruhan produksi Pertamina, yang berasal dari WK di di Asset Asia, Asset Middle East dan Asset Africa.

Panas bumi diproduksi oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), yang mengelola total 14 wilayah kerja panas bumi (WKP) dengan total kapasitas terpasang sebesar 1.822 MW, terdiri dari 617 MW dari WKP own operation dan 1.205 MW dari WKP joint operation. WKP yang dioperasikan sendiri (own operation) terdiri dari :

1. Area Kamojang (kapasitas 235 MW dan produksi setara listrik YTD Desember 2018 sebesar 1.871 GWh),

2. Ulubelu (kapasitas 220 MW dan produksi setara listrik YTD Desember 2018 sebesar 1.410 GWh),

3. Lahendong (kapasitas 120 MW dan produksi setara listrik YTD Desember 2018 sebesar 725 GWh) dan Karaha (kapasitas 30 MW produksi setara listrik YTD Desember 2018 sebesar 176 GWh),

4. Sibayak (kapasitas 12 MW, sedang tidak berproduksi karena kerusakan PLTP milik pihak ketiga).

Total realisasi produksi setara listrik PGE dari area own operation pada tahun 2018 adalah sebesar 4.182 GWh. Pencapaian ini lebih tinggi 7% dari tahun sebelumnya.

Tambahan cadangan migas terbukti (proven reserves, P1) yang tercatat tahun 2018 adalah sebesar 426,25 MMBOE. Angka ini lebih tinggi 36% dibandingkan P1 tahun 2017. Reserve Replacement Ratio (RRR) migas adalah 137,81%. Angka RRR tahun 2018 lebih rendah dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 143%. Tambahan cadangan migas tahun 2018 sebagian besar berasal dari kegiatan anorganik melalui alih kelola wilayah kerja migas dalam negeri yang habis masa kontraknya, seperti misalnya WK Mahakam, Sanga-Sanga, Attaka, dan East Kalimantan.

Tambahan Cadangan Migas Terbukti (P1) (MMBOE)

Pertamina Hulu Mahakam (PHM) pada tahun 2018 menyelesaikan 58 sumur pemboran (completed), 73 workover sumur, dan 6.671 well service. Produksi minyak PHM hingga Desember 2018 adalah sebesar 35,2 MBOPD dan gas sebesar 879 MMSCFD. Akuisisi Blok Mahakam menyumbang tambahan sumber daya 2C minyak sebesar 51.33 MMBO & 2C gas 1265.01 BSCF atau total 2C migas setara 269.67 MMBOE. Selain itu juga menambah cadangan P1 minyak sebesar 22.77 MMBO & P1 gas sebesar 794.58 BSCF atau total tambahan P1 migas setara 159.91 MMBOE. Tantangan yang dihadapi oleh PHM adalah declining rate produksi yang tinggi yang mencapai 57%. Angka ini lebih besar 8 % dari asumsi RKAP. Hal ini disebabkan beberapa sumur existing mengalami water breakthough dan pressure declining yang signifikan.

Kegiatan Eksplorasi

Sepanjang tahun 2018, realisasi pemboran eksplorasi sebanyak 14 sumur yang terdiri dari PEP sebanyak 8 sumur, PHE 5 sumur, dan PGE 1 sumur. Sedangkan total realisasi Seismik 2D adalah sebesar 2.490 km yang terdiri dari PEP 1.090 km dan PHE 1.400 km. Total realisasi Seismik 3D seluas 928 km2 terdiri dari PEP 507 km2 dan PHE 421 km2.

Realisasi Sumber Daya 2C di tahun 2018 mencapai sebesar 794,31 MMBOE, terdiri dari 270,19 MMBO minyak dan 3.036,63 BSCF gas. Kontribusi sumber daya 2C dari PEP sebanyak 71 MMBOE, PHE 195 MMBOE, dan PHI 529 MMBOE.

Pada bulan Agustus 2018 PT Pertamina EP melalui kegiatan eksplorasi di Sumur Akasia Maju (AMJ)-001 berhasil menemukan sumber daya hidrokarbon baru sebesar 11.45 MMBOE. Keberhasilan ini juga didapatkan dari pemboran lain yang dilakukan oleh PT Pertamina EP, di antaranya Sumur Titanum (TTN)-001, Pinus Harum (PHR)- 001 dan Wolai (WOL)-001. Sedangkan untuk PT PHE keberhasilan dalam penemuan sumber daya hidrokarbon juga didapatkan dari pemboran Sumur N-7, SES-1, Kumis-2 dan KKX-1. Pemboran sumur-sumur tersebut juga bertujuan untuk pembuktian prospek baru kegiatan eksplorasi yang pada akhirnya akan dapat membantu peningkatan produksi PT Pertamina. Hal ini menjadi bukti komitmen PT Pertamina untuk tetap menjaga keberlanjutan produksi migas nasional dengan terus melakukan kegiatan eksplorasi ketika perusahaan migas lainnya yang beroperasi di Indonesia saat ini masih menunda kegiatan eksplorasinya, akibat turunnya harga minyak dunia.

Dalam rangka mendukung kegiatan eksplorasi yang berkelanjutan, selain kegiatan pemboran juga dilakukan study yang bertujuan untuk menemukan dan atau mematangkan play concept baru, terutama di area frontier. Study dilakukan dengan melibatkan seluruh pekerja di Anak Perusahaan Hulu Pertamina, di antaranya study yang bertujuan untuk melihat peluang berkembangnya Play Pra Tersier di Salawati Basin Papua serta Studi Delta di Cekungan Kalimantan Timur–Utara untuk melihat peluang eksplorasi dengan analog delta Mahakam.

Pengembangan Usaha Hulu

Pertamina berupaya meningkatkan pertumbuhan cadangan, produksi dan lifting migas dan panas bumi (geothermal) agar ketahanan energi nasional tetap terjaga dengan cara melakukan kegiatan ekspansi secara agresif, selektif dan proaktif melalui kegiatan pengembangan usaha secara anorganik sepanjang tahun 2018. Adanya beberapa Wilayah Kerja di Indonesia yang habis masa kontraknya di tahun 2018, 2019 dan 2021 merupakan opportunity yang baik untuk Pertamina dalam upaya mengembangkan portofolio serta meningkatkan produksi dan cadangan migas khususnya di Indonesia.

Pada Tahun 2018 Pertamina telah berhasil memperoleh 13 Wilayah Kerja (WK) Terminasi yang berakhir masa kontraknya di tahun 2018 – 2021. WK yang efektif dikelola Pertamina pada tahun 2018 sebanyak 8 WK, yaitu Ogan Komering, Tuban, Sanga-Sanga, South East Sumatera, North Sumatera Offshore, Tengah (masuk ke dalam WK Mahakam), Attaka dan East Kalimantan. 2 WK yang akan efektif di tahun 2019 yaitu WK Raja dan WK Jambi Merang. 2 WK yang akan efektif di tahun 2020 yaitu WK Kepala Burung dan WK Salawati. 1 WK yang akan efektif di tahun 2021 yaitu WK Rokan yang merupakan penghasil minyak terbesar nasional, saat ini Pertamina dan Pemerintah sedang melakukan penyusunan kontrak kerja sama dengan skema gross split. Sedangkan WK Mahakam yang hak pengelolaannya diserahkan kepada Pertamina di tahun 2015 mulai dioperasikan Pertamina pada 1 Januari 2018.

Pemerintah juga telah menetapkan Pertamina sebagai pemenang penawaran WK Minyak dan Gas Bumi Eksplorasi yaitu WK Maratua.

Prospek ke Depan Sektor Hulu

Tantangan ke depan sektor hulu migas secara umum adalah upaya berkontribusi dalam mengurangi ketergantungan terhadap kebutuhan minyak impor. Kebutuhan bahan bakar minyak dalam negeri terus meningkat sekitar 13% per tahun. Hal ini berarti kebutuhan pasokan minyak yang dibutuhkan juga meningkat. Mengindikasikan bisnis sektor hulu migas masih sangat menarik. Namun demikian perlu diketahui bahwa harga migas akhir-akhir ini cenderung fluktuatif dan rendah yang agak mengurangi minat investasi sektor hulu.

Peningkatan kebutuhan konsumsi migas dalam negeri belum dapat dipenuhi oleh peningkatan produksi dalam negeri. Sebagai akibatnya, Indonesia semakin tergantung pada minyak impor. Untuk itu peningkatan produksi migas dalam negeri merupakan syarat mutlak yang perlu terus upayakan. Baik melalui penemuan cadangan migas raksasa (giant oil field) baru dan juga melalui optimalisasi produksi lapangan-lapangan mature eksisting melalui mekanisme peningkatan keandalan peralatan dan fasilitas produksi, IOR, EOR dan penerapan reservoir management yang tepat.

Dapat dikatakan bahwa blok-blok di luar negeri di mana Pertamina memiliki operasi dan partisipasi keikutsertaan modal melalui PIEP, di satu sisi menyimpan potensi dapat menambah revenue dan menambah sumber supply minyak ke kilang-kilang domestik. Namun di sisi lain juga menyimpan tantangan mengenai seberapa jauh Pertamina dapat berperan lebih aktif dan masuk lebih dalam terkait kegiatan operasional lapangan-lapangan migas di luar negeri. Hal ini bertujuan untuk lebih meningkatkan performa operasi yang meliputi efisiensi, keandalan dan kemampuan eksekusi proyek.

Selain itu, blok-blok migas yang telah habis masa kontraknya dan dialihkelolakan oleh Pemerintah kepada Pertamina memang menyimpan potensi penambahan produksi dan cadangan migas. Akan tetapi, di balik itu juga menyimpan tantangan tersendiri yang berhubungan dengan penuruan secara alami produksi migas dari lapangan-lapangan yang sudah tua. Upaya menggenjot produksi sumur-sumur tua perlu terus dilakukan. Atau setidaknya mempertahankan rate produksi atau meminimalkan proses-proses natural declining yang dialami sumur-sumur tua. Kegiatan eksplorasi untuk menemukan sumber cadangan migas raksasa baru perlu ditingkatkan dengan memanfaatkan teknologi terkini dengan tingkat akurasi tinggi.

Beberapa isu yang perlu juga menjadi pertimbangan dalam pengembangan bisnis hulu migas di masa depan di antaranya adalah beberapa isu global yang saling terkait. Revolusi industri 4.0 ditandai dengan semakin maraknya pemanfaatan teknologi digital yang mendorong otamasi di segala lini kehidupan serta pertukaran data yang cepat dalam kegiatan bisnis. Hal ini juga mempengaruhi perubahan-perubahan secara cepat atau disebut juga disrupsi pada pola konsumen generasi milenial yang secara natural telah lahir, tumbuh dan berkembang di era digital. Tren penggunaan energi di masa mendatang tentunya juga akan dipengaruhi oleh tren konsumen generasi ini. Hal lainnya yang mempengaruhi tren konsumsi energi adalah upaya-upaya pengurangan emisi karbon melalui peningkatan pemanfaatan energi terbarukan, dan penggunaan peralatan atau kendaraan yang tidak menggunakan energi berbasis karbon.

Tumbuhnya penggunaan kendaraan berbahan bakar listrik di dunia juga patut mulai diperhitungkan. Hal ini berpotensi mengurangi penggunaan bahan bakar minyak di masa mendatang. Sebagaimana diketahui, sektor transportasi merupakan sektor terbesar konsumen bahan bakar minyak Indonesia.

Namun demikian, Pertamina sejauh ini telah cukup konsisten mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi dalam tren penggunaan energi masa depan. Produksi energi ramah lingkungan dari panas bumi yang selama ini dilakukan konsisten melalui PT PGE menjadi batu pijakan yang bagus sekaligus persiapan bagi Pertamina masuk ke bisnis energi ramah lingkungan.

SEKTOR PENGOLAHAN DAN PENGEMBANGAN KILANG

Kinerja dan highlight pengolahan Saat ini, Pertamina memiliki enam kilang yaitu Refinery Unit (RU) II Dumai, RU III Plaju, RU IV Cilacap, RU V Balikpapan, RU VI Balongan, dan RU VII Kasim. Kapasitas pengolahan terpasang total dari kilangkilang tersebut mencapai 1.031 MBOPD, atau sekitar 90% dari kapasitas pengolahan yang ada di Indonesia. Operasi kilang-kilang tersebut adalah sebagai berikut:

1. Operasi Kilang BBM, terdiri dari Kilang RU II sampai dengan RU VII yang memproduksi BBM dan non BBM serta produk lainnya.

2. Operasi Kilang Petrokimia, terdiri dari Kilang Paraxylene di RU IV Cilacap yang memproduksi Paraxylene dan benzene serta produk lainnya, Kilang polypropylene di RU III Plaju yang memproduksi Polytam (Polypropylene Pertamina) serta Kilang OCU (Olefien Convertion Unit) di RU VI Balongan yang memproduksi Propylene.

3. Operasi Kilang Lube Base di RU IV Cilacap yang memproduksi Lube Base HVI-60, HVI-95, HVI-160, HVI650, paraffinic, Slack Wax, Minarex dan Asphalt.

Sejalan dengan cita-cita mewujudkan ketahanan energi nasional, Pertamina berkewajiban untuk mengamankan pasokan dan memenuhi kebutuhan BBM di dalam negeri. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Pertamina telah mengambil sejumlah upaya strategis, antara lain melakukan optimasi unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) di RU IV Cilacap dan optimasi unit Residue Catalytic Cracking (RCC) di RU VI Balongan. Pertamina juga telah mengoperasikan kilang Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) Tuban. Upaya lainnya untuk meningkatkan kinerja adalah dengan melakukan revamping dan upgrading pada RU eksisting dan terus mengupayakan pembangunan kilang minyak baru sejalan dengan rencana Perseroan.

Tahun 2018, Pertamina telah mencanangkan rencana kerja strategis atau yang disebut dengan program 8 Pilar Prioritas Strategi Pertamina yang salah satu fokusnya untuk menuju world class refinery melalui 5 aspek, yaitu Safety & Environmental , Reliability, Profitability, Quality dan Sustainability. Program kerja ini menjadi acuan bagi seluruh Refinery Unit dalam menjalankan proses bisnisnya.

OPTIMASI DAN EFISIENSI KINERJA

Untuk memenuhi kebutuhan BBM di dalam negeri, Pertamina harus dapat memastikan bahwa produksi di kilang miliknya dapat berjalan dengan optimal. Untuk itu, Pertamina telah melakukan berbagai upaya optimasi proses pengolahan dengan tetap mengedepankan dan efisiensi kinerja kilang secara berkelanjutan untuk meningkatkan performance kilang Pertamina. Upaya yang dilakukan Pertamina di antaranya adalah:

Optimalisasi Pengolahan Crude Domestik Bagian KKKS

Tahun 2018, Pertamina melakukan optimalisasi pengolahan crude domestik di kilang. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi pengolahan crude impor di kilang, sesuai dengan arahan pemerintah melalui Peraturan Menteri ESDM No. 42 tahun 2018 tentang Prioritas Pemanfaatan Minyak Bumi Untuk Pemenuhan Kebutuhan Dalam Negeri. Upaya tersebut membuahkan hasil yang cukup baik, di mana pengolahan crude domestik mengalami peningkatan menjadi 62% dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar 58%.

Upgrade Material Kilang untuk Fleksibilitas Pengolahan Crude

Untuk mengatasi terbatasnya ketersediaan crude super heavy import yang dapat diolah di kilang karena sulphur content yang tinggi (sour crude), Perseroan melakukan upgrade material kilang untuk meningkatkan fleksibilitas pengolahan sour crude. Upgrade material kilang dilakukan secara bertahap, dimulai tahun 2018 di RU VI Balongan selanjutnya RU V Balikpapan dan RU IV Cilacap di tahun 2019.

Integrasi Power PLN dengan Power RU IV Cilacap

Konsumsi Refinery Fuel Oil dan Fuel Gas di kilang selama ini sebagian besar menggunakan fuel gas dan fuel oil hasil processing crude di kilang. Sebagai bagian dari efisiensi penggunaan Refinery Fuel Oil dan Fuel Gas, Pertamina melakukan kerja sama dengan PT PLN untuk pemanfaatan potensi outsource listrik dari PLN sebesar 30 MW ke RU IV Cilacap. Diharapkan integrasi tersebut sudah bisa dimanfaatkan pada pertengahan tahun 2019.

Optimasi Produk Intermedia antar Kilang

Produk Intermedia merupakan produk yang belum jadi dan memiliki nilai jual rendah. Untuk meningkatkan margin kilang dan meminimalkan produk tersebut, maka dilakukan optimasi antar kilang dengan mengolahnya kembali supaya menjadi produk yang bernilai tinggi (valuable).

INVESTASI DAN PENGEMBANGAN

Tahun 2018, terdapat beberapa proyek investasi dan pengembangan di sektor pengolahan yang dimulai atau tengah dalam perencanaan, antara lain :

1. JV Calciner (Dumai) Proyek pembangunan calciner dan fasilitas bending coke di Dumai melalui kemitraan strategis untuk mengolah 300 KTA Green Petroleum Coke (GPC) Dumai dengan tambahan 100 KTA GPC impor menjadi Calcined Petroleum Coke (CPC) anoda grade sebesar 300 KTA menggunakan teknologi Shaft Kiln. Saat ini proyek dalam tahapan pelaksanaan engineering study dan perizinan.

2. Open Access RU III Plaju Proyek yang bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas kilang dalam mengolah crude. Crude supply via pipa ke RU III Plaju terus menurun, sedangkan crude supply via kapal terkendala pendangkalan alur Sungai Musi. Dengan adanya open acces tersebut, kilang RU III Plaju dapat mengoptimalkan kapasitas produksinya untuk turut membantu pasokan BBM di wilayah Indonesia Barat.

KINERJA TAHUN 2018

Tahun 2018, realisasi pengolahan (total intake) konsolidasi lebih tinggi 3,8% dibandingkan realisasi tahun 2017 pada periode yang lama.

Yield total output kilang (perbandingan total output terhadap total intake) tahun 2018 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu dari 94,69% tahun 2017 menjadi 94,44% pada tahun 2018. Penurunan tersebut dikarenakan adanya penyesuaian optimasi hilir dan beberapa kendala unit operasi.

Data mengenai persentase perbandingan input dan output kilang dalam 5 tahun terakhir disajikan pada diagram berikut:

Sementara itu, yield valuable product tahun 2018 adalah 79,57%, lebih tinggi dibandingkan tahun 2017 sebesar 78,13%.Valuable Product terdiri dari produk: Premium, Pertalite, Pertamax, Pertamax Plus/ Pertamax Turbo, Kerosene, Avtur, Solar, Dexlite, Pertadex, Paraxylene dan Benzene.

HIGHLIGHT PENGEMBANGAN KILANG

Saat ini Pertamina mengelola proyek-proyek skala raksasa di sektor pengolahan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan, sekaligus mendukung pengembangan usaha Pertamina ke bisnis petrokimia. Sejak Oktober 2016 Pertamina membentuk Direktorat Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia (MP2) yang difokuskan untuk menangani megaproyek yang terdiri dari program revitalisasi kilang eksisting (proyek Residual Fuel Catalytic Cracking/RFCC Cilacap, Proyek Langit Biru Cilacap/PLBC, dan Proyek Refinery Development Master Plan/RDMP di kilang Balikpapan, Cilacap, Dumai dan Balongan, serta pembangunan kilang baru (Grass Root Refinery/GRR).

Berdasarkan roadmap peningkatan kapasitas kilang yang telah disusun Pertamina, target produksi BBM setelah proyek-proyek RFCC, PLBC, RDMP dan New GRR selesai akan mencapai 2 juta barrel per hari di tahun 2025. Terealisasinya proyek ini akan membuat Indonesia lepas dari ketergantungan impor BBM dan menghasilkan pendapatan yang signifikan serta kontribusi kepada negara dalam bentuk devisa. Selain itu, pembangunan kilang minyak baru juga berpotensi meningkatkan nilai tambah ekonomi melalui penciptaan nilai tambah di sektor hilir dengan mengintegrasikan kilang minyak dengan petrokimia.

SEKTOR PEMASARAN

Pertamina menjalankan bisnis pada dua segmen yang sangat berbeda karakteristiknya, yaitu segmen ritel dan segmen korporat. Karena itu, pemasaran produk Pertamina dilakukan melalui dua fungsi utama yaitu Pemasaran Ritel dan Pemasaran Korporat. Pemasaran Ritel menjual produk Bahan Bakar Minyak (BBM) di sektor transportasi, pelumas dan LPG untuk rumah tangga dan non rumah tangga baik produk bersubsidi maupun produk non subsidi. Sementara, Pemasaran Korporat menjual produk Bahan Bakar Minyak (BBM) di sektor industri, penerbangan, perkapalan, dan produk Non BBM lainnya seperti aspal dan produk petrokimia untuk sektor industri. Kedua fungsi utama tersebut didukung oleh Infrastruktur yang andal mulai dari truk tangki BBM, skid tank, depot, pelabuhan hingga kapal. Sehingga, energi terdistribusi ke seluruh Indonesia dengan lancar.

Kegiatan pemasaran ritel dilakukan baik secara langsung maupun melalui lembaga penyalur (sistem dealership). Pertamina memasarkan BBM ritel untuk sektor transportasi, rumah tangga dan nelayan melalui SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) yang tersebar di seluruh Indonesia. Hingga 2019, Jumlah lembaga penyalur Pertamina ialah 7.146 yang tersebar di seluruh Indonesia baik SPBU Reguler, Mini, Modular, dan SPBU Nelayan.

Klik di Sini untuk Lihat detil Gambar

Untuk menjaga standar pelayanan di SPBU Pertamina, Pertamina melalui program Pertamina Way mengembangkan program SPBU Pasti Pas melalui penilaian Audit berupa staf yang terlatih, Fasilitas dan Peralatan, Produk dan Layanan Tambahan, Format Fisik, dan Kualitas-Kuantitas.

Kemudian pada tahun 2016, Pertamina mulai mengembangkan program layanan excellent berupa Pasti Prima Pengembangan program Pasti Prima terdiri dari 5 (lima) pilar utama yaitu Energi terintegrasi (Produk Pertamina lainnya), lini bisnis Non-Fuel Retail yang nyaman dan lengkap, Pelayanan yang efisien dan ramah, Pemasaran modern (digital dan loyalti), dan Fasilitas umum yang dikelola dengan baik. Dengan Program Pasti Prima maka konsumen akan mendapatkan pengalaman baru terutama layanan digital yang disesuikan dengan gaya hidup saat ini yang di implementasikan di area SPBU.

Pada tahun 2018, produk BBM yang didistribusikan secar ritel mencakup Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) berupa produk Kerosene dan Solar (Diesel). Premium didistribusikan sebagai Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP). Sementara produk Pertalite (Mogas RON 90), Pertamax (Mogas RON 92), Pertamax Turbo (Mogas RON 98), Dexlite (CN 51), Pertamina Dex (CN 53) dipasarkan sebagai Jenis Bahan Bakar Umum (JBU).

Selain produk BBM, Pertamina juga memasarkan produk gas domestik. Sejak tahun 1968, Pertamina berkomitmen untuk melayani seluruh masyarakat Indonesia dengan menyediakan LPG dan Produk Gas sebagai bahan baku dan bahan bakar untuk keperluan rumah tangga, transportasi, komersial dan industri. LPG semakin dikenal oleh masyarakat dengan adanya program Pemerintah meng yaitu Program Konversi Minyak Tanah ke LPG, dengan mengganti penggunaan minyak tanah ke LPG yang lebih ekonomis, lebih efisien dan lebih ramah lingkungan.

Dalam perkembangannya Pertamina terus mengembangkan varian produk gas domestik untuk meningkatkan pelayanan dan memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini. Produk-produk gas domestik Pertamina saat ini meliputi produk LPG untuk kebutuhan memasak rumah tangga yaitu ELPIJI 12 kg, Bright Gas 5,5 kg, Bright Gas 12 kg, produk LPG untuk komersial yaitu ELPIJI 50 kg, dan ELPIJI Bulk, produk gas turunan LPG lainnya antara lain Bright Gas Can (LPG kemasan kaleng), HAP (Hydrocarbon Aerosol Propellant atau pendorong produk aerosol), Musicool (bahan pendingin/refrigerant), dan Vi-Gas bahan bakar LPG untuk kendaraan.

BBM SATU HARGA

Pertamina mendapatkan penugasan dari Pemerintah untuk mewujudkan BBM Satu Harga di Indonesia. Sampai dengan akhir tahun 2018 , secara nasional Pertamina telah merealisasikan pengoperasian dan uji operasi atas lembaga penyalur BBM Satu Harga sebanyak 125 titik ( 55 titik di tahun 2017 dan 70 titik di tahun 2018) di daerah-daerah Terdepan, Terluar dan Terpencil atau 3T. Dengan adanya SPBU ini, sekarang masyarakat dapat membeli BBM Premium dan Solar dengan harga yang sama dengan masyarakat di daerah lain yang sudah menikmati harga sesuai Peraturan Presiden No. 191 Tahun 2014 yaitu Premium Rp 6.450,- / liter, dan produk Solar seharga Rp 5.150,- / liter.

Klik di Sini Lihat detil Gambar

LAYANAN PRIMA DI HARI RAYA

Guna memastikan penyaluran BBM aman selama masa Ramadhan Idul Fitri dan Natal-Tahun Baru, Pertamina mengadakan Satgas RAFI dan Naru selama tahun 2018. Selama Satgas RAFI (Ramadhan Idul Fitri 2018), Pertamina menyediakan layanan tambahan bagi para Masyarakat yang memanfaatkan momen Lebaran dan akhir tahun yang terdiri atas Kiosk Pertamax, Serambi Pertamax dan Motor Kemasan dengan realisasi penjualan sebanyak 2.417 KL Pertamax - 183 KL Dexlite (selama RAFI) dan 973 KL Pertamax – 114 KL Dexlite(selama NARU 2018).

LAYANAN DI ERA DIGITAL

Untuk meningkatkan loyalitas konsumen di era digital yang diprediksi penuh dengan tantangan ke depan, Pertamina memiliki program MyPertamina. MyPertamina merupakan cashless payment sekaligus one stop digital service Pertamina yang diluncurkan pada 20 Desember 2017. Tahun 2018, MyPertamina terus dikembangkan, dan saat ini tidak hanya dapat digunakan di SPBU, namun juga di Bright Store dan Bright Oli Mart.

PEMASARAN NON RITEL

Avtur

Pesatnya perkembangan industri aviasi, baik di Indonesia maupun di dunia merupakan peluang bagi Pertamina. Dengan kapasitas yang dimilikinya Pertamina dapat memberikan layanan dan memenuhi kebutuhan perusahaan penerbangan. Pertamina memiliki produk bahan bakar penerbangan, baik produk jet A-1 maupun aviation gasoline. Pertamina menggunakan merek Avtur untuk produk jet A-1 yang dijual ke perusahaan penerbangan dalam dan luar negeri di bandar udara (bandara) dalam negeri (domestik). Pengisian Avtur di dalam negeri dilakukan melalui Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) yang tersebar di 8 Marketing Operation Region (MOR). Sedangkan pengisian bahan bakar jet A-1 di bandara di luar negeri dilakukan dengan melakukan reseller agreement dengan mitra setempat.

Pertamina terus memperluas jaringan pengisian bahan bakar penerbangan baik di dalam maupun luar negeri. Pada tahun 2018, Pertamina menambah satu DPPU di satu bandara baru di dalam negeri. Sedangkan penambahan layanan pengisian Avtur di luar negeri terbanyak di China.

Hingga akhir tahun 2018, jaringan pengisian bahan bakar pesawat udara Pertamina telah merambah wilayah Eropa, Australia, Asia Timur, Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Timur Tengah. Sebagian besar konsumen yang dilayani di lokasi-lokasi tersebut adalah maskapai berjadwal. Selain konsumen maskapai berjadwal, Pertamina juga mendukung penerbangan non reguler/ ad-hoc seperti penerbangan pesawat kepresidenan, VVIP, charter flight dan delivery flight pesawat baru di berbagai lokasi di dunia.

Di sisi komersial, sepanjang tahun 2018 Pertamina aktif mengikuti tender penyediaan bahan bakar untuk pengisian di berbagai bandara di dunia sekaligus bekerja sama dengan supplier bahan bakar setempat melalui reseller agreement. Di sisi infrastruktur pengisian bahan bakar, Pertamina terus melakukan modernisasi keandalan sarana dan fasilitas pengisian bahan bakar pesawat, meningkatkan keandalan stok, dan melakukan integrasi sistem informasi dan kustomisasi layanan operasi.

Petrokimia

Salah satu produk non BBM yang dipasarkan oleh Pertamina adalah Petrokimia. Produk yang dipasarkan meliputi produk Bitumen (Aspal), Paraxylene, Benzene, Propylene & Polypropylene, dan non BBM lainnya seperti Sulphur, Solvent, Rubber Processing Oil, Smooth Fluid, Petroleum Coke, dan Kimia Pertanian.

Pada tahun 2018, pencapaian realisasi penjualan produk petrokimia relatif stabil dari penjualan tahun 2017, dengan pertumbuhan penjualan sekitar 4% dalam tiga tahun terakhir.

Permintaan pasar terhadap produk-produk petrokimia masih berpotensi meningkat, oleh karena itu pada aktivitas pemasarannya selain memasarkan hasil produksi kilang juga melakukan kegiatan trading untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia, aktifitas trading terutama untuk produk Bitumen, Benzene, Paraxylene dan Sulphur yang menyumbang volume 550 ribu MT atau sekitar 22% dari total penjualan produk petrokimia.

Tahun 2018, Pertamina melakukan pengembangan pasar dengan merambah pasar ekspor, antara lain ke Malaysia, China, India sampai Eropa. Produk utama yang dijual ke pasar ekspor adalah Green Coke Slack Wax, EXDO-4 dengan volume mencapai 275 ribu MT. Selain hal tersebut Pertamina juga fokus merancang pengembangan infrastruktur supply point produk Bitumen, dan penetrasi pasar produk Smooth Fluid, dan non Karsinogenik EXDO-4 yang lebih ramah lingkungan ke pasar domestik. 

BBM Industri & Marine

Selain memasarkan BBM ritel, Pertamina juga memasarkan BBM ke sektor industri dan Kelautan dalam skala besar. Hingga saat ini, Pertamina memiliki lebih dari 100.000 konsumen di seluruh Indonesia. Beberapa konsumen Pertamina yaitu PLN, TNI/POLRI, kontraktor kerja sama, industri pertambangan, industri kertas, industri baja, perkebunan, manufaktur dan industri lainnya.

Saat ini, segmen pasar terbesar adalah segmen listrik/ PLN. Namun permintaan BBM dari PLN cenderung menurun seiring kebijakan pengurangan penggunaan BBM dengan konversi energi ke gas, batubara dan energi terbarukan lainnya (air, geothermal, dan lain-lain).

Di bidang marine, Pertamina memasarkan BBM dengan fokus pada pengembangan jaringan layanan penjualan BBM di semua pelabuhan vital Indonesia. Pemasaran BBM di bidang marine dilakukan melalui sinergi BUMN dan kerja sama dengan pihak swasta. Di samping itu, Pertamina juga memiliki potensi yang sangat besar untuk melakukan ekspansi ke luar negeri, terlebih hal itu juga didukung dengan kebijakan Pemerintah berupa Pemberian pembebasan Pengenaan PPN di Indonesia untuk kapal-kapal ocean going. Selain itu, Pertamina juga dapat memanfaatkan jalur pelayaran yang melewati wilayah perairan Indonesia (misal rute Australia – Jepang/Korea/China) menjadi potensi yang cukup besar untuk meningkatkan volume sektor bunker.

Dalam memasarkan BBM ke sektor industri dan marine, Pertamina memiliki berbagai keunggulan. Pertamina menjamin ketersediaan pasokan BBM yang ditunjang dengan tujuh kilang domestik, lebih dari 115 Terminal BBM, sarana dan fasilitas angkut darat dan laut yang lengkap tersebar di seluruh Indonesia. Kualitas dan kuantitas BBM Pertamina terjamin dengan standar Dirjen Migas maupun standar internasional.

Kunci kesuksesan Pertamina dalam persaingan di era globalisasi terletak pada hubungan kemitraan jangka panjang yang berdedikasi pada pemenuhan kebutuhan konsumen. Antara lain melalui layanan after sales berupa layanan Vendor Held Stock serta Techincal Support & Safety Advisor yang andal dalam rangka menyediakan energy total solution kepada pelanggan dengan mengusung Tagline ”We Bring Energy Solution”. Melengkapi portofolio produk untuk pemenuhan energi bagi pelanggan, Industrial Fuel Marketing menerapkan pemasaran terintegrasi energi primer dan sekunder, berupa penyediaan BBM, Gas, hingga penyediaan energi sekunder berupa listrik melalui sinergi dengan Anak Perusahaan.

Tuntutan pelanggan yang semakin tinggi dengan kecenderungan pengadaan BBM melalui sistem tender serta kebijakan multi supplier untuk memastikan persaingan yang sehat dalam supply logistik yang dibutuhkan konsumen. Pertamina menjawab tantangan tersebut dengan memberikan harga yang kompetitif, ketersediaan suplai yang andal, layanan kredit /term of payment (TOP) dengan jangka waktu yang bersaing, serta Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi. Di tahun 2018 Pertamina masih memiliki posisi yang kuat di pasar domestik dengan penguasaan pangsa pasar di atas 70% untuk sektor industrial dan marine fuel. Kepuasan pelanggan konsumen Pertamina yang diukur setiap tahun melalui survei untuk mengetahui Customer Satisfaction Index (CSI) dan Customer Loyalty Index (CLI), pada tahun 2018 hasil survei menunjukkan nilai 4,0 dalam skala likert.

Kinerja Operasi Gas

Di segmen hilir gas, bisnis yang dilakukan Pertamina antara lain penjualan gas (pipa), transportasi gas, regasifikasi, dan penjualan CNG transportasi. Selain itu, Pertamina juga berperan sebagai penjual gas pipa maupun LNG. Untuk gas pipa, Pertamina melayani baik pelanggan industri, pembangkit listrik (PLN) maupun rumah tangga (gas kota). Dengan bergabungnya PT PGN Tbk. (PGN) ke Pertamina, infrastruktur PGN dan Pertagas diintegrasikan, dan PGN akan mengelola bisnis hilir gas domestik.

Di bisnis hilir gas, volume penjualan gas di tahun 2018 naik 36% dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan volume transportasi naik 55% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan signifikan baik volume penjualan maupun transportasi gas terutama dikarenakan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN) telah berintegrasi dengan Pertamina.

 

KINERJA PEMASARAN

Di tahun 2018, tingkat penjualan produk BBM maupun Non BBM mencapai tumbuh masing-masing 5% dan 1% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini dikontribusikan oleh penjualan produk Pertalite, Solar, Avtur, dan LPG. Sedangkan kinerja bisnis hilir gas meningkat cukup signifikan dengan bergabungnya PGN. Bisnis gas ke depan akan fokus pada pemenuhan kebutuhan kilang Pertamina serta penugasan penjualan gas bagian negara baik gas pipa maupun LNG.

Bisnis gas ke depan akan fokus pada pemenuhan kebutuhan kilang Pertamina serta penugasan penjualan gas bagian negara baik gas pipa maupun LNG.

 

 

SEKTOR INFRASTRUKTUR DAN SUPPLY CHAIN PEMASARAN

Dalam memenuhi kebutuhan energi, khususnya BBM, Pertamina mengelola dan mengoperasikan infrastruktur di seluruh Indonesia.

• ±500 Stasiun Pengisian Bulk Elpiji

• ±60 Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU)

• ±20 Terminal LPG

• >1 Lube Oil Blending Plant (LOBP)

• >100 Terminal BBM

• Mengelola >60 unit Tanker Milik dan >100 unit Tanker Charter

• >5.500 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU)

• >100 Dermaga

• >10 SPM (Single Point Mooring)

• >5 lokasi STS (Ship to Ship)

• ±10 CBM (Conventional Buoy Mooring)

• > 100 Kapal Ringan

• ±2 Bitumen Plant

• ±2 Chemical Storage Plant

• >30 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG)

Pengembangan Infrastruktur Pemasaran

Breakthrough Project (BTP) Rencana Induk Pengembangan Infrastruktur Pemasaran yang telah disusun untuk periode 2020, 2025 dan 2030 yang terintegrasi dengan seluruh perencanaan jangka panjang di Direktorat Pemasaran, Direktorat Pengolahan, Direktorat Gas, Direktorat Keuangan dan Fungsi ISC mencakup proyek-proyek strategis dan rencana induk pengembangan infrastruktur sebagai berikut:

1. Pembangunan dan pengembangan Terminal BBM di 5 lokasi (Region I, III, dan V).

2. Penggantian pipa Cikampek-Plumpang yang ditargetkan selesai tahun 2019-2020 dan pengembangan pipa CB II Lomanis Tasikmalaya dan CY II Lomanis-Rewulu.

3. Relokasi DPPU Sultan Hasanudin di Makasar, Sultan Thaha di Jambi, Sepinggan di Balikpapan, DEO di Sorong, Supadio di Pontianak, Ahmad Yani di Semarang dan Mutiara di Palu (sedang dalam pengerjaan) dan pembangunan DPPU Kertajati di Majalengka.

4. Pembangunan dan Pengembangan terminal LPG: a. Pembangunan Tangki LPG Pressurized di Terminal LPG di Region I. b. Pembangunan Tangki LPG Pressurized di Terminal LPG di Region III. c. Pembangunan Tangki LPG Pressurized di Terminal LPG di Region IV. d. Pembangunan Terminal LPG tangki LPG Pressurized di Region I.

5. Pembangunan dan Pengembangan Terminal LPG di Indonesia Timur: Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No. 2157 K/10/MEM/2017 Tanggal 31 Mei 2017 tentang Penugasan kepada PT Pertamina (Persero) dalam Pembangunan dan Pengoperasian Tangki Penyimpanan Bahan Bakar Minyak dan LPG, dengan lokasi yang ditetapkan pada lampiran I Kepmen ESDM tersebut mencakup 14 lokasi di NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, dan Papua, maka secara bertahap Pertamina telah memulai pembangunan di Nusa Tenggara dan Papua.

6. Proyek yang sedang berjalan saat ini:

a. Pembangunan DPPU di Region III untuk melayani pengisian pesawat udara di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB).

b. Pembangunan Tangki LPG Refrigerated di Terminal LPG Jawa Barat untuk mengantikan/ mendaratkan STS.

c. Pembangunan Tangki LPG Pressurized di Region V.

d. Pembangunan Tangki LPG Pressurized di Terminal LPG Region I.

e. Pembangunan Tangki LPG Pressurized di Terminal LPG Region II.

f. Pembangunan TBBM di Region IV.

Usaha Perkapalan

Sampai akhir tahun 2018, Pertamina mengelola 67 armada kapal milik sendiri dengan masuknya 1 armada baru Pertamina Shipping yatu MT Pasaman pada tanggal 27 April 2018 dan 200 kapal charter untuk mengangkut kargo internal. Armada kapal Pertamina akan bertambah 4 kapal baru yang saat ini tengah dalam proses pembangunan di mana penambahan armada baru tersebut untuk memperkuat distribusi BBM domestik (White Oil).

Sejalan dengan komitmen Pemerintah sejak tahun 2017, Pertamina berperan aktif dalam sinergi BUMN dengan telah ditandatanganinya kesepakatan kerja sama antara Pertamina dan NSHI (National Shipbuilding & Heavy Industries). Pertamina juga ikut berkontribusi memajukan sektor maritim nasional secara konsisten dan menjaga kepatuhan terhadap asas cabotage dengan mewajibkan armada kapalnya yang beroperasi di Indonesia menggunakan bendera Indonesia dan memberdayakan awak kapal berkebangsaan Indonesia.

Selain memastikan transportasi kargo ke seluruh pelosok Indonesia, pelaksanaan distribusi perlu didukung oleh layanan marine di setiap pelabuhan yang disinggahi. Saat ini terdapat 107 pelabuhan yang dikelola Pertamina, yang terdiri dari 46 Terminal Khusus (Tersus) dan 61 Terminal untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) Pertamina. Pertamina juga mengelola 169 dermaga, 13 Single Point Mooring (SPM), 7 lokasi Ship to ship (STS) transfer, 11 Central Buoy Mooring (CBM)/Multiple Buoy Mooring (MBM), dan 2 Island Berth.

Sejalan dengan pencanangan 8 Pilar Prioritas Strategi Pertamina untuk mendukung visinya sebagai “Perusahaan Energi Kelas Dunia”. Pertamina memiliki 8 Prioritas strategis perkapalan, yaitu safety operation, environmental compliance, vessels & port reliability, shipping cost, vessel performance, vessel ownership, service excellence, dan manpower.

Pertamina menerapkan operational excellence untuk kapalkapal milik dan terminalnya dengan implementasi TMSA (Tanker Management & Self-Assessment) yang saat ini telah meraih skor 2,81 dan pencapaian SIRE (Ship Inspection Report) sebanyak 23 unit kapal milik. Implementasi tersebut sangat dibutuhkan untuk kapal yang akan melakukan trading sebagai prasyarat untuk sandar di pelabuhan minyak internasional. Diikuti oleh implementasi MTMSA (Marine Terminal Mangement Self-Assessment) yang saat ini telah diimplementasikan kepada 2 unit terminal, yaitu terminal Baubau dan terminal Cilacap. Hal yang sama juga dilakukan oleh usaha Vetting Inspection, dengan adanya perubahan passing/initial grading untuk medium risk dari tahun 2017 sebesar 60% menjadi 65% di tahun 2018. Pada tahun 2018, Pertamina juga berhasil untuk melakukan renewal sertifikat ISO 9001:2015, pencapaian ISM Compliance sebesar 100%, comply terhadap MARPOL, dan skala low risk khusus kapal milik meningkat dari 25 kapal menjadi 30 kapal.

PT Pertamina International Shipping (PT PIS) PT Pertamina International Shipping (PT PIS)

didirikan berdasarkan Akta No.37 tanggal 23 Desember 2016 dibuat di hadapan Lenny Janis Ishak, S.H., Notaris di Jakarta dengan penyertaan modal sebesar USD 10 Juta, ditambah 4 (empat) unit kapal MR dan 1 (satu) unit Floating Storage Offloading (FSO), yaitu MT Fastron, MT Sungai Gerong, MT Sambu, MT Sei Pakning dan FSO Pertamina Abherka melalui mekanisme spin-off pada tahun 2017.

Sebagai langkah awal dalam upaya mewujudkan visi PT PIS yaitu “To be the Choice of a World Class Company”, PT PIS fokus pada kegiatan angkutan kargo FOB, charter out 4 (empat) unit kapal MR dan 1 (satu) unit FSO serta optimalisasi kargo internal antara lain pemenuhan kebutuhan critical organization perusahaan, mendukung aktivitas perkapalan Pertamina, pengelolaan angkutan impor dan third party trading ISC, mengelola transportasi laut dan floating storage, menyewa qualified ship management dan penjajakan untuk ekspansi market kapal LNG. Dengan kontrak volume angkutan kargo impor produk dengan ISC Pertamina memberikan ruang gerak untuk dapat bertumbuh dari sisi aset dan profitabilitas.

Sampai akhir tahun 2018, dengan masuknya 1 armada baru PT PIS, yaitu MT PIS Pioneer pada tanggal 30 Maret 2018, armada yang dikelola PT PIS menjadi 6 kapal milik dan dibutuhkan kurang lebih 38 unit kapal charter untuk mengangkut kargo impor ISC. Armada PT PIS akan bertambah 2 kapal baru pada tahun 2020 yang saat ini tengah dalam proses pembangunan di Japan Marine United Corporation (JMUC), di mana penambahan armada baru tersebut untuk memperkuat portfolio angkutan crude oil PT PIS.

Pada tahun 2018 PT PIS telah menjalankan bisnis jasa angkutan kargo impor produk dan pengembangan bisnis perusahaan dengan menambahkan bisnis jasa angkutan kargo impor crude serta penetrasi jasa angkutan kargo pihak ketiga.

PT PIS telah mendirikan anak perusahaan di Singapura dengan nama Pertamina International Shipping Pte. Ltd. Perusahaan tersebut merupakan shipping arm PT PIS yang akan bergerak dalam supporting angkutan impor Pertamina serta melakukan penetrasi pada pasar kargo pihak ketiga Internasional dengan memulai operasinya di Singapura sebagai salah satu hub terbesar di dunia. PIS Pte. Ltd. juga akan menjadi wadah peletakan aset kapal melaui Special Purpose Vehicle (SPV) sebagai upaya mitigasi risiko sesuai dengan best International shipping practice dan upaya untuk kepentingan mendapatkan pendanaan investasi.

96
PERTAMINA Laporan Tahunan 2018