ANALISIS DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN

Tinjauan Kinerja Keuangan

LAPORAN LABA RUGI

Penjualan dan Pendapatan Usaha Lainnya Penjualan dan pendapatan usaha lainnya diperoleh dari penjualan dalam negeri minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi dan produk minyak, penggantian biaya subsidi dari Pemerintah, penjualan ekspor minyak mentah, gas bumi dan produk minyak, imbalan jasa pemasaran dan pendapatan usaha dari aktivitas operasi lainnya.

Selama tahun 2018, penjualan dan pendapatan usaha lainnya Pertamina mencapai USD 57.934 juta atau lebih tinggi 25,94% dibanding pencapaian tahun 2017 sebesar USD 46.000 juta. Pencapaian tahun 2018 tersebut merupakan kontribusi dari:

1. Penjualan dalam negeri minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi dan produk minyak sebesar USD 44.743 juta atau 77,23% dari total penjualan dan pendapatan usaha lainnya

2. Penggantian biaya subsidi dari Pemerintah sebesar USD 5.632 juta atau 9,72% dari total penjualan dan pendapatan usaha lainnya

3. Penjualan ekspor minyak mentah, gas bumi dan produk minyak sebesar USD 3.637 juta atau 6,28% dari total penjualan dan pendapatan usaha lainnya

4. Imbalan jasa pemasaran sebesar USD 15 juta atau 0,03% dari total penjualan dan pendapatan usaha lainnya

5. Pendapatan usaha dari aktivitas operasi lainnya USD 3.906 juta atau 6,74% dari total penjualan dan pendapatan usaha lainnya

Kenaikan penjualan dan pendapatan usaha lainnya selama tahun 2018 terutama dipengaruhi oleh kenaikan penjualan dalam negeri minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi dan produk minyak. Penjualan dalam negeri minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi dan produk minyak pada tahun 2018 sebesar USD 44.743 juta atau naik 12,45% dibanding tahun 2017 sebesar USD 39.789 juta. Faktor utama penyebab kenaikan tersebut dipengaruhi oleh ratarata harga jual produk yang lebih tinggi karena dipengaruhi realisasi ICP dan kuantitas penjualan yang lebih tinggi di tahun 2018 dibandingkan dengan tahun 2017. Rata-rata ICP tahun 2018 sebesar USD 67,47/barrel sedangkan rata-rata ICP tahun 2017 sebesar USD 51,17/barrel. Untuk harga rata-rata MOPS PSA tahun 2018 sebesar USD 81,71/barrel sedangkan harga rata-rata MOPS PSA tahun 2017 sebesar USD 64,78/barrel.

Faktor lain penyebab kenaikan penjualan dalam negeri minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi dan produk minyak pada tahun 2018 adalah peningkatan volume penjualan. Volume penjualan produk minyak selama tahun 2018 mencapai 88,72 juta KL sedangkan tahun 2017 mencapai 85,74 juta KL. Peningkatan signifikan terjadi pada penjualan produk Jenis Bahan Bakar Minyak Umum (JBU), di mana volume penjualan tahun 2018 mencapai 17,75 juta KL atau naik 122% dengan kenaikan volume penjualan di tahun 2017 sebesar 3,24 juta KL.

Pada tahun 2018, penggantian biaya subsidi dari pemerintah sebesar USD 5.632 juta atau naik 57,67% dibandingkan tahun 2017 sebesar USD 3.572 juta.

Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh:

• Kenaikan harga rata-rata CP Aramco selama tahun 2018 sebesar USD 540/MMT dibandingkan harga rata-rata CP Aramco tahun 2017 sebesar USD 487/ MMT. Seiring dengan kenaikan harga rata-rata CP Aramco tersebut, volume penjualan LPG Refill 3 kg PSO juga mengalami kenaikan. Volume penjualan LPG Refill 3 kg tahun 2018 sebesar 6,55 juta MT atau naik 4% dari volume penjualan tahun 2017 sebesar 6,31 juta MT.

• Kenaikan volume penjualan Solar/Biosolar PSO tahun 2018 sebesar 15,36 juta KL atau naik 7,2% dari tahun 2017 sebesar 14,33 juta KL.

Penjualan ekspor minyak mentah, gas bumi dan produk minyak selama tahun 2018 mencapai USD 3.637 juta atau naik 94,08% dibandingkan dengan pencapaian tahun 2017 sebesar USD 1.874 juta. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan realisasi rata-rata ICP dan MOPS tahun 2018.

Imbalan jasa pemasaran pada tahun 2018 sebesar USD 15 juta mengalami penurunan signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar USD 25 juta. Imbalan jasa pemasaran merupakan komisi jasa yang diperoleh Pertamina dalam memasarkan minyak mentah, gas bumi, dan LNG milik Pemerintah.

Pendapatan usaha dari aktivitas operasi lainnya tahun 2018 sebesar USD 3.906 juta mengalami peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar USD 740 juta. Faktor utama penyebab kenaikan tersebut dipengaruhi oleh adanya Peraturan Presiden Nomor 43 Tahun 2018 yang menyebabkan penyesuaian harga jual eceran jenis bahan bakar minyak tertentu dan jenis bahan bakar minyak khusus penugasan.

Beban-beban

Pada tahun 2018, beban pokok penjualan dan beban langsung lainnya mencapai USD 48.714 juta atau naik 29,47% dari realisasi di tahun 2017 sebesar USD 37.625 juta. Beban-beban tersebut terdiri dari beban pokok penjualan, beban produksi hulu dan lifting, beban eksplorasi dan beban dari aktivitas operasi, dengan kontribusi kenaikan terbesar yaitu kenaikan dari beban pokok penjualan.

Beban pokok penjualan selama tahun 2018 sebesar USD 42.788 juta atau naik 28,97% dari tahun 2017 sebesar USD 33.176 juta. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya harga pembelian bahan baku dan impor produk yang dipengaruhi kenaikan realisasi ICP dan publikasi harga minyak di tahun 2018 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pada tahun 2018, realisasi beban produksi hulu dan lifting sebesar USD 4.387 juta atau naik 28,24% dari realisasi tahun 2017 sebesar USD 3.421 juta. Kontribusi kenaikan tertinggi pada tahun 2018 berasal dari beban depresiasi dan deplesi yaitu naik sebesar USD 162 juta dibandingkan tahun 2017. Realisasi kenaikan beban depresiasi dan deplesi tersebut terutama disebabkan dengan adanya entitas baru PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI). Di sisi lain, realisasi beban kontrak juga ikut mengalami kenaikan yaitu sebesar USD 361 juta dibandingkan tahun 2017. Realisasi beban kontrak tersebut terutama dari entitas PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) di mana pada tahun 2018 mengelola empat anak perusahaan baru yaitu PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), Pertamina Hulu Attaka (PHA), Pertamina Hulu Sangasanga (PHSS) dan Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT).

Beban eksplorasi tahun 2018 sebesar USD 268 juta atau naik 62,23% dari tahun 2017 sebesar USD 165 juta. Kenaikan beban eksplorasi tersebut sebagai upaya Pertamina dalam pencarian cadangan minyak dan gas bumi baru seiring dengan adanya kenaikan lifting tahun 2018 sebesar 34.379 MBO sedangkan tahun 2017 sebesar 33.574 MBO.

Penambahan beban dari aktivitas operasi lainnya sebesar 47,39% atau sebesar USD 1.272 juta dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar USD 863 juta terutama disebabkan adanya kontribusi beban atas kegiatan operasional anak perusahaan Pertamina yang bergerak disektor pelayaran yaitu PT Pertamina International Shipping (PIS). Adapun dalam pengembangan operasional bisnis PIS yaitu jasa angkutan Lube Base Oil dan Additive milik Pertamina Lubricants, jasa angkutan Asphalt milik Petrokimia Pertamina dan STS operation.

Beban usaha terdiri dari beban penjualan dan pemasaran serta beban umum dan administrasi. Pada tahun 2018, beban penjualan dan pemasaran mengalami penurunan 6,73% yaitu dari sebesar USD 3.189 juta di tahun 2017 menjadi sebesar USD 2.973 juta. Hal ini terutama disebabkan oleh penurunan beban umum dan administrasi sebesar USD 1.330 juta atau turun 16,82% dari tahun 2017 sebesar USD 1.599 juta yang disebabkan oleh rendahnya realisasi biaya maintenance dan komponen biaya umum lainnya serta upaya dalam pelaksanaan efisiensi perusahaan.

Laba Tahun Berjalan

Tingginya prosentase kenaikan penjualan dan pendapatan usaha lainnya sebesar 25,94% dari tahun sebelumnya, menyebabkan laba usaha tahun 2018 naik 20,42%, di mana laba usaha tahun 2018 sebesar USD 6.246 juta dan laba usaha tahun 2017 sebesar USD 5.187 juta. Realisasi kenaikan tersebut berasal dari segmen hilir Pertamina di mana kenaikan tersebut dipengaruhi oleh adanya Peraturan Presiden Nomor 43 Tahun 2018 yang menyebabkan penyesuaian harga jual eceran jenis bahan bakar minyak tertentu dan jenis bahan bakar minyak khusus penugasan.

Adapun beban pokok penjualan dan beban langsung lainnya naik sebesar 29,47% dari tahun sebelumnya hal tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan beban pokok penjualan sebagai dampak kenaikan ICP di tahun 2018 dibandingkan tahun 2017. Penurunan laba setelah beban pajak penghasilan disertai dengan adanya kenaikan beban pajak penghasilan neto, terkait meningkatnya harga minyak di tahun 2018 dibandingkan dengan tahun sebelumnya sehingga laba tahun berjalan mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Laba tahun berjalan merupakan laba usaha dikurangi dengan sejumlah beban yang dikeluarkan dalam kegiatan usaha perusahaan. Laba tahun berjalan tahun 2018 sebesar USD 2.636 juta atau naik 3,25% dari tahun 2017 sebesar USD 2.553 juta.

Laba usaha tahun 2018 sebesar USD 6.246 juta atau naik 20,42% dari tahun 2017 sebesar USD 5.187 juta. Adapun kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan penjualan dan pendapatan usaha lainnya yang sebagian besar berasal dari kontribusi penjualan dalam negeri minyak mentah, gas, energi panas bumi, dan hasil minyak serta pendapatan usaha lainnya. Realisasi penjualan dalam negeri minyak mentah, gas, energi panas bumi, dan hasil minyak sebesar USD 44.742,51 juta atau 112,5% dari realisasi 2017 sebesar USD 39.788,78 juta. Hal ini terutama disebabkan meningkatnya kuantitas penjualan Pertalite, Solar, Premium, LPG Mixed dan BBM non subsidi.

EBITDA

EBITDA untuk tahun 2018 sebesar USD 9.204 juta atau naik 26,85% dari tahun 2017 sebesar USD 7.256 juta, karena terdapat peningkatan penjualan dalam negeri atas minyak mentah, gas, energi panas bumi, dan hasil minyak. Di sisi lain terdapat kenaikan realisasi ICP dan publikasi harga minyak di tahun 2018 dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mempengaruhi beban pokok penjualan dan beban langsung lainnya. Adapun terkait kenaikan realisasi ICP menyebabkan kenaikan beban pajak di sektor hulu tahun 2018 sehingga mengalami kenaikan 158,2%, di mana pajak kini tahun 2018 sebesar USD 2.627 juta dan pajak tangguhan sebesar USD 386 juta.

LAPORAN POSISI KEUANGAN

ASET

Pada akhir tahun 2018, jumlah aset Pertamina tercatat sebesar USD 64.718 juta yang terdiri dari 35,78% aset lancar dan 64,22% aset tidak lancar. Jumlah aset tersebut mengalami kenaikan 12,67% dibandingkan tahun 2017 sebesar USD 57.439 juta.

Aset Lancar

Aset lancar merupakan aset yang diharapkan dapat memberikan manfaat ekonominya dalam kurun waktu kurang dari satu tahun atau kurang dari satu siklus operasi. Aset lancar tahun 2018 mencapai USD 23.154 juta atau naik 20,87% dari jumlah aset lancar tahun 2017 sebesar USD 19.156 juta. Hal ini terutama disebabkan oleh kenaikan kas dan setara kas, piutang usaha, piutang pemerintah dan persediaan. Di sisi lain terdapat penurunan dari kas yang dibatasi penggunaannya dan investasi jangka pendek.

Aset Tidak Lancar

Aset tidak lancar merupakan aset yang diharapkan dapat memberikan manfaat ekonominya dalam kurun waktu lebih dari satu tahun. Realisasi jumlah aset tidak lancar tahun 2018 mencapai USD 41.564 juta atau naik 8,57% dari tahun 2017 sebesar USD 38.283 juta. Hal ini terutama disebabkan oleh kenaikan aset tetap, minyak dan gas serta panas bumi dan piutang pemerintah. Di sisi lain terdapat penurunan pada penyertaan jangka panjang dan pajak dibayar di muka.

LIABILITAS

Pada akhir tahun 2018, jumlah liabilitas Pertamina tercatat sebesar USD 35.108 juta yang terdiri dari 39,80% liabilitas jangka pendek dan 60,20% liabilitas jangka panjang. Jumlah liabilitas tersebut naik 15,39% dibandingkan tahun 2017 sebesar USD 30.426 juta.

Liabilitas Jangka Pendek

Liabilitas jangka pendek merupakan kewajiban yang dapat diharapkan untuk dilunasi dalam jangka pendek. Liabilitas jangka pendek tahun 2018 mencapai USD 13.973 juta atau naik 42,04% dibandingkan tahun 2017 sebesar USD 9.837 juta. Hal ini terutama disebabkan oleh kenaikan pinjaman jangka pendek, utang pajak, utang pemerintah dan beban akrual. Di sisi lain terdapat penurunan dari utang usaha dan pendapatan tangguhan.

Liabilitas Jangka Panjang

Liabilitas jangka panjang merupakan kewajiban yang penyelesaiannya melebihi satu periode akuntansi. Liabilitas jangka panjang tahun 2018 mencapai USD 21.135 juta atau naik 2,65% dibandingkan tahun 2017 sebesar USD 20.589 juta. Hal ini terutama disebabkan oleh kenaikan liabilitas pajak tangguhan dan utang obligasi. Di sisi lain terdapat penurunan dari liabilitas jangka panjang dan liabilitas imbalan kerja karyawan.

EKUITAS

Jumlah ekuitas per 31 Desember 2018 tercatat sebesar USD 29.610 juta atau naik 9,61% dari USD 27.013 juta pada 31 Desember 2017.

Peningkatan tersebut terutama disebabkan adanya penambahan modal saham menjadi sebesar USD 15.267 juta atau naik sebesar 13,76% dibandingkan tahun 2017 sebesar USD 13.420 juta. Realisasi ini menunjukkan terdapat perubahan akibat penambahan penyertaan modal negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Pertamina, yang berasal dari pengalihan seluruh saham seri B milik Negara pada PT Perusahaan Gas Negara Tbk sebanyak 13.809.038.755 lembar saham yang mewakili 56,96% total saham PGN. Adapun pada tahun 2018 Pertamina menandatangani berita acara serah terima pengoperasian / penggunaan Barang Milik Negara (BMN) berupa jaringan gas dan SPBG dengan Sekretaris Jenderal Direktorat Minyak dan Gas Bumi Kementrian ESDM selaku kuasa pengguna anggaran / barang. Nilai aset BMN tersebut adalah sebesar Rp 5,8 triliun, sehingga meningkatkan bantuan Pemerintah yang belum ditentukan statusnya.

LAPORAN ARUS KAS

Pada tahun 2018, Pertamina memiliki arus kas positif dari aktivitas operasional, yaitu sebesar USD 3.169 juta. Aktivitas investasi berkontribusi pada pengurangan arus kas sebesar USD 3.504 juta dan arus kas untuk pendanaan mencapai USD 3.269 juta.

Arus Kas dari Aktivitas Operasi

Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi selama tahun 2018 lebih rendah USD 908 juta dibandingkan tahun 2017. Hal ini terutama disebabkan adanya peningkatan pembayaran kas kepada pemasok dan kepada pemerintah sebagai akibat kenaikan harga rata-rata ICP tahun 2018. Di sisi lain, kenaikan harga rata-rata ICP tahun 2018 menyebabkan kenaikan pendapatan di entitas hulu dan berdampak terhadap peningkatan pembayaran pajak penghasilan badan.

Arus Kas dari Aktivitas Investasi

Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi selama tahun 2018 lebih tinggi USD 1.125 juta dibandingkan tahun 2017. Hal ini seiring dengan kenaikan aset tetap, aset minyak, gas dan panas bumi serta penambahan investasi jangka panjang.

Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan

Arus kas dari aktivitas pendanaan selama tahun 2018 lebih tinggi USD 5.241 juta dibandingkan tahun 2017. Hal ini terutama disebabkan adanya penambahan kas dari penerimaan pinjaman jangka pendek (trust receipt) sebagai akibat kenaikan harga rata-rata ICP tahun 2018.

Return on Equity (ROE)

ROE Pertamina pada tahun 2018 mencapai 13,21%, di atas RKAP 2018 sebesar 2,08%. Return on Equity (ROE) merupakan salah satu profitability ratio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari investasi pemegang saham di perusahaan. Return on Investment (ROI) ROI Pertamina pada tahun 2018 mencapai 15,66%, di atas RKAP 2018 sebesar 10,29%.

Return on Investment (ROI)

sebagai perbandingan antara EBITDA dengan capital employed digunakan untuk menganalisis keseimbangan antara laba dengan dana yang telah diinvestasikan untuk kegiatan operasi perusahaan.

Rasio Kas (Cash Ratio)

Rasio kas Pertamina pada tahun 2018 mencapai 66,83%, di atas RKAP 2018 sebesar 44,23%. Rasio kas diperoleh dengan membandingkan kas dan setara kas ditambah dengan investasi jangka pendek dengan jumlah liabilitas jangka pendek.

Rasio Lancar (Current Ratio)

Rasio lancar Pertamina pada tahun 2018 mencapai 165,71%, di bawah RKAP 2018 sebesar 170,17%. Rasio lancar (current ratio) merupakan salah satu liquidity ratio yang digunakan Perusahaan untuk mengukur seberapa jauh aset lancar yang dimiliki Perusahaan dapat digunakan untuk melunasi liabilitas jangka pendek.

Periode Penagihan (Collection Period)

Periode penagihan Pertamina di tahun 2018 adalah 50 (lima puluh) hari atau lebih cepat 4 (empat) hari dibandingkan dengan periode penagihan dalam RKAP 2018 yaitu 54 (lima puluh empat) hari.

Perputaran Persediaan (Inventory Turnover)

Perputaran persediaan Pertamina pada tahun 2018 adalah 40 (empat puluh) hari atau lebih cepat 23 (dua puluh tiga) hari dibandingkan dengan RKAP 2018 yaitu 63 (enam puluh tiga) hari. Hal ini terutama dipengaruhi adanya kenaikan nilai persediaan sebagai akibat kenaikan harga rata-rata ICP dan harga publikasi minyak tahun 2018.

Total Asset Turn Over (TATO)

TATO Pertamina pada tahun 2018 sebesar 99,23%, lebih tinggi dibandingkan RKAP 2018 sebesar 87,07%. TATO merupakan activity ratio untuk menilai efektivitas penggunaan dana yang tertanam dalam jumlah aset dalam rangka menghasilkan pendapatan. TATO dihitung dengan membandingkan total pendapatan dengan capital employed.

Total Modal Sendiri (TMS) terhadap Total Aset (TA)

TMS terhadap TA Pertamina pada tahun 2018 sebesar 40,31%, lebih tinggi dari RKAP 2018 sebesar 35,63%. TMS terhadap TA dihitung dengan membandingkan total modal sendiri dengan total aset. Total modal sendiri merupakan total ekuitas dikurangi dengan saldo laba belum ditentukan penggunaannya.

Secara umum kewajiban Pertamina sepanjang tahun 2018 mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 2017. Peningkatan kewajiban tersebut disebabkan meningkatnya utang jangka pendek sebagai akibat kenaikan harga rata-rata ICP tahun 2018 dibandingkan dengan 2017. Secara keseluruhan Perseroan masih mampu menjaga dengan baik stabilitas utang dengan menurunkan rasio liabilitas jangka panjang terhadap aset untuk memastikan terjaminnya pembayaran hutang yang akan jatuh tempo 12 bulan ke depan.

Sedangkan kemampuan Perseroan dalam memenuhi kewajibannya ditunjukkan dengan rasio laba terhadap aset dan pendapatan yang menunjukkan nilai positif yang mencerminkan kemampuan Perseroan dalam membayar kewajibannya.

TINGKAT KOLEKTABILITAS PIUTANG

Pada tahun 2018, Pertamina memiliki tingkat kolektibilitas piutang sebesar 50 hari, lebih lama 12 hari dari tingkat kolektibilitas tahun 2017. Hal ini terutama disebabkan terdapat peningkatan piutang usaha seiring dengan peningkatan pendapatan usaha dari penjualan dalam negeri minyak mentah, gas, energi panas bumi, dan hasil minyak serta pendapatan usaha lainnya terkait dengan subsidi pemerintah.

Berikut adalah grafik yang menunjukkan kolektibilitas piutang Pertamina dalam 5 tahun terakhir.

KONTRIBUSI KEPADA PEMERINTAH (DIVIDEN DAN PAJAK)

KEBIJAKAN DIVIDEN

Kebijakan dividen Pertamina kepada pemerintah mengacu kepada keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan pendanaan pengembangan Perseroan. RUPS tanggal 2 Mei 2018 memutuskan kewajiban Pertamina untuk membayar dividen atas kinerja tahun 2017 sebesar Rp 8,57 triliun dengan dividend payout ratio 25%. Kewajiban tersebut seluruhnya telah disetorkan kepada pemerintah. Pada tahun 2017, dividen atas laba bersih 2016 ditetapkan RUPS tanggal 16 Maret 2017 sebesar Rp 12,1 triliun dengan dividend payout ratio 29% yang seluruhnya telah disetorkan oleh Pertamina ke pemerintah. Pada tahun 2016, dividen atas laba bersih 2015 ditetapkan RUPS tanggal 31 Mei 2016 sebesar Rp 6,8 triliun dengan dividend payout ratio 36% yang seluruhnya telah disetorkan oleh Pertamina ke pemerintah.

KETAATAN SEBAGAI WAJIB PAJAK

Salah satu bentuk kontribusi Pertamina kepada negara diwujudkan melalui pemenuhan kewajiban perusahaan sebagai wajib pajak dan sebagai pemotong/pemungut pajak. Sebagai wajib pajak, Perseroan selalu patuh dalam memenuhi kewajiban Pajak Penghasilan (PPh) Badan. Sedangkan sebagai pemotong dan pemungut pajak, Perusahaan berperan aktif dalam melakukan pemotongan dan pemungutan terhadap setiap objek kena pajak.

Besaran Pajak yang Dibayarkan

Pembayaran pajak Pertamina yang terdiri dari PPh Potong/Pungut, Pajak dibayar di muka, PPN Keluaran, cukai/bea masuk, dan Pajak Daerah sampai dengan transaksi bulan Desember 2018 adalah sebesar Rp 79,91 triliun. Bila dibandingkan periode yang sama di tahun 2017 sebesar Rp 75,92 triliun, terdapat kenaikan sebesar 5,26%.

Pernyataan Kepatuhan Waktu Membayar Pajak

Pertamina telah melakukan pembayaran pajak meliputi PPh Potong/Pungut, PPN, PBB dan pajak daerah lainnya dalam jangka waktu sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku. Selain itu, Pertamina juga telah menyampaikan dokumen pelaporan pajak, seperti SPT Masa PPh dan PPN, SPT Tahunan PPh Badan dan dokumen kewajiban perpajakan lainnya kepada otoritas perpajakan yang berwenang dalam jangka waktu sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku.

KINERJA ANAK PERUSAHAAN

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Pertamina membentuk sejumlah anak perusahaan, di mana Pertamina memiliki pengendalian keuangan dan operasional melalui kepemilikan sebesar 100% ataupun mayoritas. Hingga Akhir tahun 2018, anak perusahaan Pertamina berjumlah 25 perusahaan dengan bidang usaha, data jumlah aset, pendapatan usaha dan laba bersih dua tahun terakhir disajikan pada tabel berikut:

PENILAIAN PERUSAHAAN

Tingkat Kesehatan Perusahaan (TKP)

Dengan tetap mengacu pada Kep.Men. BUMN No KEP-100/MBU/2002 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan BUMN, pencapaian Skor tingkat perusahaan pada tahun 2018 sebesar 86,72 yang berarti perusahaan dalam kondisi SEHAT AA. Hasil tersebut diperoleh dari beberapa aspek penilaian sebagai berikut:

Kriteria Penilaian Kinerja Unggul (KPKU)

Tahun 2018, Pertamina telah melaksanakan asesmen kinerja perusahaan berbasis Kriteria Penilaian Kinerja Unggul (KPKU) dengan kriteria yang diadopsi dari “Malcolm Baldridge Criteria for Performance Excellence” yang dilakukan oleh Asesor FEB BUMN.

Proses asesmen meliputi kegiatan klarifikasi, verifikasi dan site visit dari 7 fokus Utama KPKU dengan Kerangka Kerja (Perspektif Kesisteman) KPKU BUMN seperti di bawah ini:

KPKU BUMN merupakan sebuah alat yang dapat digunakan untuk menilai/mengukur semua elemen sistem pengelolaan perusahaan dan faktor-faktor peningkatan proses juga peningkatan hasil sebagai pertimbangan ketika melakukan penilaian.

Hasil Penilaian KPKU 2018

Berdasarkan hasil asesmen KPKU BUMN tahun 2018, Pertamina memperoleh skor 755.75 dengan kategori “Industri Leader”, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 739.50.

Prospek Dan Rencana Ke Depan

Di tengah berbagai kekhawatiran mengenai kondisi ekonomi dan industri migas global, Pertamina menatap tahun 2019 dengan optimisme yang tinggi. Produksi dan penjualan Pertamina diyakini akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Di sektor hulu, bergabungnya 13 Wilayah Kerja (WK) Eks Terminasi akan meningkatkan cadangan migas terbukti (proven reserves, P1) Pertamina. Terlebih 8 WK telah efektif menjadi bagian dari Pertamina sejak tahun 2018. Hal ini akan memberikan dampak yang positif terhadap peningkatan produksi Pertamina di tahun 2019 dan seterusnya. Tidak hanya itu, produksi migas Pertamina juga akan mengalami peningkatan cukup signifikan, terutama dari WK Rokan yang merupakan WK dengan produksi minyak terbesar nasional yang akan habis kontrak pengelolaannya oleh operator lama pada tahun 2021.

Di sektor hilir, kebutuhan BBM domestik terus meningkat yang dapat diartikan sebagai peluang bagi Pertamina untuk meningkatankan penjualannya, baik di segmen industri maupun ritel. Namun demikian, kebijakan pemerintah melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, Kategori N, dan Kategori O berimplikasi pada BBM yang didistribusikan di dalam negeri harus memenuhi standar kualitas Euro 4. Pertamina berkomitmen untuk menghadirkan BBM berkualitas tinggi di tanah air. Untuk itu, dalam rangka memenuhi kebutuhan BBM domestik dari segi kuantitas maupun kualitas ini, Pertamina melalui mega proyek kilang sedang dan akan mengembangkan 4 kilang (Refinery Development Master Plan atau disingkat RDMP) serta membangun 2 kilang baru (new grass root refinery atau disingkat NGRR). Keseluruhan mega proyek ditargetkan selesai pada tahun 2025 dengan kapasitas pengolahan kilang meningkat dari 1,3 juta barrel per hari menjadi 2 juta barrel per hari dan menghasilkan BBM dengan standar Euro 5.

Namun demikian, dalam rangka menghadirkan BBM berkualitas tinggi, Pertamina juga memperhatikan terpenuhinya komponen Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 79 tahun 2014 mengenai Kebijakan Energi Nasional (KEN), pemerintah menetapkan target Bauran Energi Nasional dalam rangka mewujudkan ketahanan energi nasional, di mana proporsi EBT meningkat secara bertahap, yaitu 5% pada tahun 2015, 23% pada tahun 2025, dan 31% pada tahun 2050. Kerja keras dan komitmen kuat dari berbagai pihak diperlukan mengingat capaian Bauran Energi Nasional saat ini cukup jauh dari target. Namun demikian, Pertamina sebagai perusahaan energi nasional mendukung dan berkomitmen penuh pengembangan EBT. EBT Pertamina yang paling signifikan kemajuan pengembangannya adalah energi panas bumi yang dikelola oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE).

Komitmen pemerintah untuk menyediakan bahan bakar alternatif juga diwujudkan dengan kebijakan pendistribusian bahan bakar nabati. Sesuai jalan peta penyediaan bahan bakar nabati jenis biodiesel pemerintah, pada tahun 2018 Pertamina sebagai salah satu Badan Usaha Niaga Umum BBM (BU BBM) telah memenuhi target suplai dan pendistribusian bahan bakar nabati jenis biodiesel 20% (B20) ke pasar ritel maupun industri dengan total volume 16 juta kilo liter. Dengan penerapan B20, Pertamina berhasil mengurangi impor Solar cukup signifikan hingga akhir 2018. Di tahun 2020 pemerintah menargetkan penerapan B30. Peta jalan pemerintah yang cukup agresif ini berpotensi mengurangi impor Solar Pertamina lebih besar lagi, sekaligus menciptakan peluang bagi Pertamina untuk mengembangkan kilang produksi bahan bakar nabati (green refinery). Di sisi lain, kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No. 42 Tahun 2018 tentang Prioritas Pemanfaatan Minyak Bumi untuk Kebutuhan Dalam Negeri juga memberikan peluang bagi untuk menghemat biaya angkut minyak mentah impor yang selama ini dilakukan Pertamina.

Upaya lain untuk menuju pengembangan energi ramah lingkungan adalah dengan mengoptimalkan bahan bakar gas. Di dalam negeri, permintaan terhadap gas sebagai energi fosil yang lebih ramah lingkungan diproyeksikan akan terus meningkat. Proyeksi tersebut berkaca pada mega proyek pengembangan kilang dan pembangunan kilang baru yang dilakukan oleh Pertamina hingga 5 sampai 6 tahun ke depan akan menyerap gas dalam volume cukup besar. Dengan telah terintegrasinya PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN) dengan Pertamina melalui holding BUMN migas, semakin terwujud integrasi infrastruktur gas, sekaligus menghemat biaya modal dan operasional. Kondisi ini menciptakan peluang bagi Pertamina untuk mengintegrasikan bisnis hulu dan hilir gas.

Dalam bisnis gas alam cair (LNG), kompetensi dan pengalaman yang dimiliki Pertamina menciptakan peluang untuk melakukan ekspansi bisnis ke luar negeri. Bila selama ini pasar tradisional LNG Pertamina adalah China, Jepang, dan Taiwan, saat ini Pertamina tengah mencari pasar LNG ke Asia Selatan dan Afrika. Ditandatanganinya kesepakatan pasokan LNG dengan Petrobangla Bangladesh pada tahun 2018 yang diinisiasi oleh pemerintah kedua negara menjadi pintu akses Pertamina untuk memperluas pasar di kawasan tersebut.

KELANGSUNGAN USAHA

Tahun 2018, tidak terdapat faktor yang berpengaruh signifikan terhadap kelangsungan usaha Pertamina. Kondisi lingkungan internal dan eksternal Perseroan berada dalam kondosi yang cukup baik bahkan mengalami tren peningkatan.

Manajemen Pertamina telah melakukan sejumlah langkah antisipatif untuk mengurangi dan mengantisipasi berbagai risiko yang mungkin dihadapi Perseroan dengan menerapkan sistem manajemen risiko yang baik. Manajemen Pertamina telah menetapkan sejumlah faktor yang dapat berpengaruh signifikan terhadap kelangsungan usaha Pertamina, antara lain:

Fluktuasi Harga Minyak Mentah Dunia

Sebagai industri komoditas, bisnis minyak dan gas sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah dunia. Harga minyak mentah dunia sebagian besar dipengaruhi oleh kesetimbangan antara pasokan dan permintaan dunia terhadap komoditas tersebut. Faktorfaktor yang mempengaruhi pasokan dan permintaan minyak mentah dunia antara lain transisi penggunaan bahan bakar fosil ke EBT yang terjadi di sejumlah negara yang menyebabkan permintaan terhadap minyak mentah menurun; faktor geopolitik seperti sanksi Amerika Serikat terhadap Iran dan Venezuela, di mana kedua negara ini termasuk produsen minyak mentah dunia yang cukup besar; dan pertumbuhan ekonomi baik di negara-negara maju maupun negara emerging markets yang mempengaruhi permintaan atas pasokan minyak dan gas maupun energi secara umum.

Nilai Tukar Mata Uang Asing

Mengingat Pertamina masih melakukan impor baik minyak mentah, LNG, maupun produk minyak dan gas, maka Pertamina sangat terekspos dengan perubahan nilai tukar Rupiah terhadap USD.

STRATEGI PERTAMINA UNTUK KEBERLANJUTAN USAHA

Kontrak Jangka Panjang

Untuk meminimalisir terekspos dengan risiko fluktuasi harga minyak mentah, Pertamina melakukan kontrak jangka Panjang untuk pembelian minyak mentah karena harga ditentukan pada saat tanggal pembelian.

Mitigasi Risiko Nilai Tukar Mata Uang Asing

Mitigasi risiko nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing dilakukan Pertamina dengan cara melakukan lindung nilai. Rasio lindung nilai minimum ditetapkan berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 16/21/ PBI/2014 tentang Penerapan Prinsip Kehati-hatian Dalam Pengelolaan Utang Luar Negeri Korporasi Non Bank. Mitigasi lain yang dilakukan Pertamina adalah dengan membuat analisa secara berkala dampak melemah dan menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap USD terhadap keuangan Perusahaan.

118
PERTAMINA Laporan Tahunan 2018