KINERJA EKONOMI

Dampak Ekonomi Langsung

MENOPANG KEMANDIRIAN ENERGI UNTUK NEGERI

Tinjauan Ekonomi Global dan Nasional

Perekonomian global pada tahun 2018 belum menunjukkan perbaikan dibanding tahun sebelumnya. Menurut proyeksi Dana moneter internasional (IMF), pertumbuhan ekonomi global tahun 2018 sebesar 3,7%, sama dengan tahun 2017. Angka 3,7% merupakan hasil revisi yang dilakukan oleh lembaga keuangan internasional tersebut dengan mempertimbangkan sejumlah faktor. Sebelumnya, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 3,9%. Namun, prediksi itu direvisi setelah mencermati perkembangan ekonomi selepas April, dimana pertumbuhan ekonomi sejumlah negara utama terlihat tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, IMF menilai prediksi pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,9% terlalu optmis sehingga diturunkan menjadi 3,7%.

Menurut Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian Indonesia 2018, perekonomian global 2018 ditandai dengan ketidakpastian yang meningkat. Hal itu dipicu oleh tiga perkembangan yang kurang menguntungkan. Pertama, pertumbuhan ekonomi dunia melambat dari 3,8% pada 2017 menjadi 3,7% pada 2018. Pertumbuhan ekonomi yang melambat kemudian menurunkan pertumbuhan volume perdagangan dunia dan harga komoditas global. Kedua, suku bunga Federal Funds Rate (FFR) naik lebih cepat dan lebih tinggi dari respons tahun sebelumnya, sehingga memicu risiko pembalikan aliran modal dari negara berkembang. Ketiga, ketidakpastian pasar keuangan global meningkat dipicu beberapa faktor seperti peningkatan ketegangan perdagangan Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok dan negara lain, risiko geopolitik seperti perundingan Brexit dan krisis di beberapa negara berkembang seperti Argentina dan Turki. Ketiga faktor ini kemudian mendorong investor global menarik dananya dan mengancam stabilitas eksternal negara berkembang. Mata uang berbagai negara melemah tajam terhadap dolar AS dan menimbulkan kerentanan instabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Ketidakpastian ekonomi global mendorong beragam respons dari berbagai negara dengan mengoptimalkan interaksi kebijakan moneter dan fiskal. Di negara maju, sebagian negara maju non-AS mengambil kebijakan moneter bias longgar untuk menjaga momentum pertumbuhan. Sementara itu, konsolidasi fiskal negara maju berlangsung perlahan, kecuali AS yang melakukan stimulus fiskal dalam jumlah besar.

Adapun di negara-negara berkembang, tantangan terbesar dalam kebijakan ekonomi tahun 2018 adalah dalam mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan fiskal untuk merespons peningkatan risiko eksternal. Sebagian besar negara berkembang menempuh kebijakan moneter ketat sebagai respons terhadap pengetatan kebijakan moneter global yang memicu arus modal keluar. Di sisi lain, kebijakan fiskal terus diseimbangkan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga fiskal keberlanjutan.

Di tengah perekonomian global yang diwarnai ketidakpastian tersebut, Indonesia masih mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi. Badan Pusat Statistik menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2018 mencapai 5,17%, lebih tinggi dibandingkan tahun 2017, yang tercatat sebesar 5,07%. Angka ini memang masih di bawah target yang ditetapkan pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar 5,4%. Namun demikian, pencapaian Indonesia tersebut tetap bermakna positif. Adanya pertumbuhan ekonomi menjadi penanda bahwa arah pembangunan ekonomi Indonesia sudah berada pada jalur yang benar. Bahkan, angka 5,17% merupakan pencapaian tertinggi sejak tahun 2014.

Fluktuasi Harga Minyak Dunia

Pertumbuhan ekonomi dunia yang stagnan menekan aktivitas perdagangan dunia. Pertumbuhan volume perdagangan dunia 2018 melambat menjadi 3,7% dari pertumbuhan pada tahun sebelumnya sebesar 4,7%. Penurunan pertumbuhan volume perdagangan dunia terutama terlihat pada impor negara maju. Penurunan aktivitas perdagangan juga sejalan dengan penurunan purchasing manager index (PMI) di berbagai negara utama dunia yang mengindikasikan turunnya aktivitas ekonomi di negara-negara tersebut. Penurunan aktivitas ekonomi global tahun 2018 memberikan kontribusi terhadap turunnya sebagian besar harga komoditas dunia.

Penurunan juga terjadi pada harga komoditas ekspor utama Indonesia (indeks harga komoditas ekspor Indonesia/ IHKEI) yang bergerak searah dengan perlambatan aktivitas manufaktur dunia.

Walaupun berbagai komoditas mengalami tren penurunan harga, namun beberapa komoditas mengalami tren yang berbeda, misalnya harga komoditas minyak mentah dan batu bara. Kedua komoditas ini mengalami peningkatan harga. Untuk komoditas minyak, peningkatan harga secara umum disebabkan oleh berbagai gangguan produksi di tengah kesepakatan penurunan produksi negaranegara OPEC+ yang terdiri dari anggota OPEC dan 10 negara non-anggota OPEC yang memiliki kontribusi 55% terhadap total produksi minyak dunia. Selain itu peningkatan harga juga disebabkan oleh peningkatan produksi AS yang terbatas.

Rerata harga minyak dunia meningkat sampai Oktober 2018, sebelum kemudian merosot terus, bahkan sampai ke level yang lebih rendah dibandingkan dengan harga pada akhir tahun 2017. Rerata harga minyak Brent pada 2018 tercatat 71 dolar AS per barel, meningkat dibandingkan dengan rerata harga pada 2017 sebesar 54 dolar AS per barel.

OPEC+ merespon peningkatan harga minyak tersebut dengan menyepakati peningkatan produksi minyak pada Juni 2018. Upaya ini dilakukan sekaligus untuk mengantisipasi penurunan pasokan akibat sanksi ekspor minyak terhadap Iran yang dikenakan oleh pemerintah Amerika Serikat. Walau diputuskan pada Juni, peningkatan produksi OPEC+ baru bisa direalisasikan pada Oktober 2018 saat gangguan produksi Libya mereda dan produksi minyak AS meningkat di luar dugaan sebelumnya. Dampak penurunan pasokan dari sanksi Iran juga lebih rendah dari perkiraan karena AS pada akhirnya memberikan pengecualian terhadap delapan negara untuk dapat tetap mengimpor minyak Iran.

Respons kebijakan yang diambil OPEC+ berhasil menurunkan harga minyak dunia. Namun, di luar faktor tersebut, harga minyak juga tertekan akibat permintaan yang melambat sejalan dengan penurunan aktivitas ekonomi global. Berbagai faktor tersebut menyebabkan harga minyak Brent turun tajam sejak November 2018 hingga ke level 53 dolar AS per barel, lebih rendah dari harga minyak pada akhir 2017 sebesar 55 dolar AS per barel.

Mengantisipasi perkembangan harga minyak dunia, Pemerintah RI untuk menerbitkan berbagai kebijakan terkait dengan migas yang berdampak kepada operasi dan kinerja Pertamina. Kebijakan tersebut diambil untuk melepas tekanan kepada neraca perdagangan Indonesia, khususnya dari impor migas, menjaga cadangan devisa negara serta untuk menjaga daya beli masyarakat.

Mengacu pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 41 tahun 2018 tentan Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel dalam Kerangka Pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Peraturan ini menjadi landasan yang mewajibkan Pertamina sebagai Badan Usaha BBM untuk menyalurkan BBM dengan kandungan biodiesel, baik untuk pasar ritel maupun industri.

Dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 42 tahun 2018 tentang Prioritas Pemanfaatan Minyak untuk Memenuhi Kebutuhan Domestik, ada kewajiban bagi Perusahaan untuk memprioritaskan penyerapan minyak mentah dan kondensat domestik untuk diolah dalam kilang Perusahaan. Sementara kontraktor berkewajiban menawarkan sebagian muatannya ke Perusahaan sebelum dijual/diekspor oleh pihak lain.

Pemerintah juga mengeluarkan Peraturan No. 43 tahun 2018 yang menggantikan Peraturan Presiden No.191 tahun 2014, yang memungkinkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, berdasarkan kondisi tertentu, untuk menentukan harga jual eceran produk bahan bakar tertentu (subsidi dan bahan bakar penugasan) berbeda dengan perhitungan formula.

64
PERTAMINA Laporan Keberlanjutan 2018