KINERJA EKONOMI

Kinerja Pertamina Tahun 2018

SEKTOR HULU

Kegiatan usaha Pertamina di sektor Hulu yang dikelola oleh Direktorat Hulu mencakup kegiatan eksplorasi, pengeboran, pengembangan dan produksi minyak, gas dan panas bumi, penyediaan jasa teknologi, serta jasa pemboran dan services baik dalam maupun luar negeri. Dalam rangka mencapai pertumbuhan sektor Hulu (upstream growth) sebagai salah satu dari 8 Pilar Prioritas Strategi Pertamina, strategi usaha di sektor Hulu adalah meningkatkan produksi dan menambah cadangan migas baru, baik secara organik melalui kegiatan Improved Oil Recovery (IOR) dan Enhanced Oil Recovery (EOR) pada aset yang telah ada, maupun secara anorganik dengan melakukan strategi merger and acquisition (M&A) blok-blok migas di dalam maupun di luar negeri.

Kegiatan tersebut dilaksanakan Perusahaan melalui Entitas Anak Perusahaan Hulu (APH) yang bertindak sebagai strategic armlength Perusahaan di sektor hulu, yakni sebagai berikut :

• PT Pertamina EP (PEP)

• PT Pertamina Hulu Energi (PHE)

• PT Pertamina EP Cepu (PEPC)

• PT Pertamina EP Cepu Alas Dara Kemuning (PEPC ADK)

• PT Pertamina Internasional Eksplorasi Produksi (PIEP)

• PT Pertamina Geothermal Energy (PGE)

• PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI)

• PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI)

• PT Elnusa Tbk.

Kinerja Sektor Hulu Tahun 2018

Pada tahun 2018 Pertamina memproduksi minyak dan gas secara total sebesar 921 MBOEPD, lebih tinggi 33% dibandingkan pencapaian produksi tahun 2017. Produksi minyak tahun 2018 yakni sebesar 393 MBOPD, meningkat 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan produksi gas sebesar 3.059 MMSCFD, meningkat 50% dibandingkan tahun sebelumnya. Kontributor produksi migas diurutkan dari yang terbesar yakni PEP, PHI, PHE, PIEP, dan PEPC. Produksi wilayah kerja terminasi sebesar 58 MBOEPD atau 3% dari produksi Pertamina, dicatatkan di PHE dan PHI. Apabila dibandingkan dengan tahun lalu, secara umum angka produksi migas meningkat. WK luar negeri mengkontribusikan produksi 16,6% dari keseluruhan produksi Pertamina, yang berasal dari WK di di Asset Asia, Asset Middle East dan Asset Africa.

Panas bumi diproduksi oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), yang mengelola total 14 wilayah kerja panas bumi (WKP) dengan total kapasitas terpasang sebesar 1.822 MW, terdiri dari 617 MW dari WKP own operation dan 1.205 MW dari WKP joint operation. WKP yang dioperasikan sendiri (own operation) terdiri dari :

Area Kamojang (kapasitas 235 MW dan produksi setara listrik YTD Desember 2018 sebesar 1.871 GWh), Ulubelu (kapasitas 220 MW dan produksi setara listrik YTD Desember 2018 sebesar 1.410 GWh), Lahendong (kapasitas 120 MW dan produksi setara listrik YTD Desember 2018 sebesar 725 GWh) dan Karaha (kapasitas 30 MW produksi setara listrik YTD Desember 2018 sebesar 176 GWh). Sibayak (kapasitas 12 MW, sedang tidak berproduksi karena kerusakan PLTP milik pihak ketiga)

Total realisasi produksi setara listrik PGE dari area own operation pada tahun 2018 adalah sebesar 4.182 GWh. Pencapaian ini lebih tinggi 7% dari tahun sebelumnya.

Produksi Minyak dan Gas Harian

Produksi Minyak dan Gas dalam 1 Tahun

Tambahan cadangan migas terbukti (proven reserves, P1) yang tercatat tahun 2018 adalah sebesar 426,25 MMBOE. Angka ini lebih tinggi 36% dibandingkan P1 tahun 2017. Reserve Replacement Ratio (RRR) migas adalah 137,81%. Angka RRR tahun 2018 lebih rendah dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 143%. Tambahan cadangan migas tahun 2018 sebagian besar berasal dari kegiatan anorganik melalui alih kelola wilayah kerja migas dalam negeri yang habis masa kontraknya, seperti misalnya WK Mahakam, Sanga-Sanga, Attaka, dan East Kalimantan.

Tambahan Cadangan Migas Terbukti (P1) (MMBOE)

Pertamina Hulu Mahakam (PHM) pada tahun 2018 menyelesaikan 58 sumur pemboran (completed), 73 workover sumur, dan 6.671 well service. Produksi minyak PHM hingga Desember 2018 adalah sebesar 35,2 MBOPD dan gas sebesar 879 MMSCFD. Akuisisi Blok Mahakam menyumbang tambahan sumber daya 2C minyak sebesar 51.33 MMBO & 2C gas 1265.01 BSCF atau total 2C migas setara 269.67 MMBOE. Selain itu juga menambah cadangan P1 minyak sebesar 22.77 MMBO & P1 gas sebesar 794.58 BSCF atau total tambahan P1 migas setara 159.91 MMBOE. Tantangan yang dihadapi oleh PHM adalah declining rate produksi yang tinggi yang mencapai 57%. Angka ini lebih besar 8 % dari asumsi RKAP. Hal ini desebabkan beberapa sumur existing mengalami water breakthough dan pressure declining yang signifikan. 

SEKTOR PENGOLAHAN DAN PENGEMBANGAN KILANG

Kinerja dan highlight pengolahan

Saat ini, Pertamina memiliki enam kilang yaitu Refinery Unit (RU) II Dumai, RU III Plaju, RU IV Cilacap, RU V Balikpapan, RU VI Balongan, dan RU VII Kasim. Kapasitas pengolahan terpasang total dari kilang-kilang tersebut mencapai 1.031 MBOPD, atau sekitar 90% dari kapasitas pengolahan yang ada di Indonesia.

Operasi kilang-kilang tersebut adalah sebagai berikut:

• Operasi Kilang BBM, terdiri dari Kilang RU II sampai dengan RU VII yang memproduksi BBM dan non BBM serta produk lainnya.

• Operasi Kilang Petrokimia, terdiri dari Kilang Paraxylene di RU IV Cilacap yang memproduksi Paraxylene dan Benzene serta produk lainnya, Kilang Polypropylene di RU III Plaju yang memproduksi Polytam (Polypropylene Pertamina) serta Kilang OCU (Olefien Convertion Unit) di RU VI Balongan yang memproduksi Propylene.

• Operasi Kilang Lube Base di RU IV Cilacap yang memproduksi Lube Base HVI-60, HVI-95, HVI-160, HVI650, Paraffinic, Slack Wax, Minarex dan Asphalt.

Sejalan dengan cita-cita mewujudkan ketahanan energi nasional, Pertamina berkewajiban untuk mengamankan pasokan dan memenuhi kebutuhan BBM di dalam negeri. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Pertamina telah mengambil sejumlah upaya strategis, antara lain melakukan optimasi unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) di RU IV Cilacap dan optimasi unit Residue Catalytic Cracking (RCC) di RUVI Balongan. Pertamina juga telah mengoperasikan kilang Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) Tuban. Upaya lainnya untuk meningkatkan kinerja adalah dengan melakukan revamping dan upgrading pada RU eksisting dan terus mengupayakan pembangunan kilang minyak baru sejalan dengan rencana Perseroan.

Tahun 2018, Pertamina telah mencanangkan rencana kerja strategis atau yang disebut dengan program 8 Pilar Prioritas Strategi Pertamina yang salah satu fokusnya untuk menuju world class refinery melalui 5 aspek, yaitu Safety & Environmental , Reliability, Profitability, Quality dan Sustainability. Program kerja ini menjadi acuan bagi seluruh Refinery Unit dalam menjalankan proses bisnisnya.

Kinerja Tahun 2018

Tahun 2018, realisasi pengolahan (total intake) konsolidasi lebih tinggi 3,8% dibandingkan realisasi tahun 2017 pada periode yang lama.

Yield total output kilang (perbandingan total output terhadap total intake) tahun 2018 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu dari 94,69% tahun 2017 menjadi 94,44% pada tahun 2018. Penurunan tersebut dikarenakan adanya penyesuaian optimasi hilir dan beberapa kendala unit operasi.

Data mengenai presentase perbandingan input dan output kilang dalam 5 tahun terakhir disajikan pada diagram berikut.

Sementara itu, yield valuable product tahun 2018 adalah 79,57%, lebih tinggi dibandingkan tahun 2017 sebesar 78,13%. Valuable Product adalah terdiri dari produk : Premium, Pertalite, Pertamax, Pertamax Plus/Pertamax Turbo, Kerosene, Avtur, Solar, Dexlite, Pertadex, Paraxylene dan Benzene.

 

 

SEKTOR PEMASARAN

Pertamina menjalankan bisnis pada dua segmen yang sangat berbeda karakteristiknya, yaitu segmen ritel dan segmen korporat. Karena itu, pemasaran produk Pertamina dilakukan melalui dua fungsi utama yaitu Pemasaran Ritel dan Pemasaran Korporat. Pemasaran Ritel menjual produk Bahan Bakar Minyak (BBM) di sektor transportasi, pelumas dan LPG untuk rumah tangga dan non-rumah tangga baik produk bersubsidi maupun produk non subsidi. Sementara, Pemasaran Korporat menjual produk Bahan Bakar Minyak (BBM) di sektor industri, penerbangan, perkapalan, dan produk Non BBM lainnya seperti aspal dan produk petrokimia untuk sektor industri. Kedua Fungsi utama tersebut didukung oleh Infrastruktur yang andal mulai dari truk tangki BBM, skid tank, depot, pelabuhan hingga kapal. Sehingga, energi terdistribusi ke seluruh Indonesia dengan lancar.

Kegiatan pemasaran ritel dilakukan baik secara langsung maupun melalui lembaga penyalur (sistem dealership). Pertamina memasarkan BBM ritel untuk sektor transportasi, rumah tangga dan nelayan melalui SPBU (Stasiun Pengisian BBM Untuk Umum) yang tersebar di seluruh Indonesia. Hingga 2019, Jumlah lembaga penyalur Pertamina ialah 7.146 yang tersebar di seluruh Indonesia baik SPBU Reguler, Mini, Modular, dan SPBU Nelayan.

Selain produk BBM, Pertamina juga memasarkan produk gas domestik. Sejak tahun 1968, Pertamina berkomitmen untuk melayani seluruh masyarakat Indonesia dengan menyediakan LPG dan Produk Gas sebagai bahan baku dan bahan bakar untuk keperluan rumah tangga, transportasi, komersial dan industri. LPG semakin dikenal oleh masyarakat dengan adanya program Pemerintah yaitu Program Konversi Minyak Tanah ke LPG, dengan mengganti penggunaan minyak tanah ke LPG yang lebih ekonomis, lebih efisien dan lebih ramah lingkungan.

Dalam perkembangannya Pertamina terus mengembangkan varian produk gas domestik untuk meningkatkan pelayanan dan memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini. Produk-produk gas domestic Pertamina saat ini meliputi produk LPG untuk kebutuhan memasak rumah tangga yaitu ELPIJI 12 kg, Bright Gas 5,5 kg, Bright Gas 12 kg, produk LPG untuk komersial yaitu ELPIJI 50 kg, dan ELPIJI Bulk, produk gas turunan LPG lainnya antara lain Bright Gas Can (LPG kemasan kaleng), HAP (Hydrocarbon Aerosol Propellant atau pendorong produk aerosol), Musicool (bahan pendingin/refrigerant), dan Vi-Gas bahan bakar LPG untuk kendaraan.

Dari sisi pemasaran, pada tahun 2018 Pertamina masih memiliki posisi yang kuat di pasar domestik dengan penguasaan pangsa pasar di atas 70% untuk sektor industrial dan marine fuel. Kepuasan pelanggan konsumen Pertamina yang diukur setiap tahun melalui survei untuk mengetahui Customer Satisfaction Index (CSI) dan Customer Loyalty Index (CLI), pada tahun 2018 hasil survei menunjukkan nilai 4,0 dalam skala likert.

Grafik Kinerja Pemasaran

IKHTISAR PENCAPAIAN OPERASIONAL TAHUN 2018

KINERJA HULU

KINERJA PENGOLAHAN & PENGEMBANGAN KILANG

KINERJA PEMASARAN

 

Klik di Sini untuk Lihat Detil Gambar

KINERJA PERTAMINA

DISTRIBUSI MANFAAT EKONOMI (201-1)

Pengungkapan GRI Standard 103-3 klik di sini >>

 

 

 

70
PERTAMINA Laporan Keberlanjutan 2018