KINERJA EKONOMI

Pertamina Hijau

Sebagai perusahaan yang bergerak di industri ekstraktif, Pertamina memiliki kepedulian besar untuk memberi manfaat kembali kepada alam. Pertamina menyadari betapa alam turut mewujudkan bisnis yang berkelanjutan. Melalui sinergi dengan berbagai elemen masyarakat, Pertamina membuat dan melaksanakan program-program pelestarian lingkungan.

Dua Program besar yang diusung Pertamina dalam kerangka memberikan kembali kepada alam adalah program Penanaman Mangrove dan Keanekaragaman Hayati. Sepanjang tahun 2018, Pertamina melakukan penanaman mangrove sebanyak 52.000. Pohon Mangrove merupakan pohon yang dapat tumbuh di daerah pesisir. Hal tersebut jualah yang membuat Pertamina memilih jenis pohon ini untuk ditumbuhkembangkan, mengingat kebanyakan wilayah operasi Pertamina juga berada di tepi laut atau sungai besar. Selain itu, pohon mangrove juga menyediakan banyak efek domino terhadap peningkatan keanekaragaman Hayati di wilayah tersebut, seperti kepiting bakau, beragam jenis ikan, serangga, dan juga hewanhewan yang mengkonsumsi biji atau buah mangrove. Sementara itu, kawasan penanaman mangrove yang sudah terbentuk dengan baik dapat dijadikan sebagai sumber mata pencaharian bagi warga sekitar, tidak hanya dari pengelolaan hasil pohon mangrove berupa produk-produk kuliner dan kerajinan, namun juga dengan dijadikannya kawasan tersebut sebagai kawasan argowisata. Hutan Mangrove Karangsong merupakan salah satu contoh keberhasilan program penanaman mangrove tersebut.

Rehabilitasi Mangrove, Sang Tanaman Penyelamat

“Hutan bakau atau Hutan Mangrove dapat menyerap Karbondioksida (CO2) 5 kali lipat dibandingkan hutan daratan.”

Sebagai tanaman yang hidup dalam habitat perairan pesisir, Mangrove (Rhizophora) memiliki fungsi penting dalam menjaga ekosistem. Mangrove mampu menjaga populasi, sekaligus memperkuat struktur tanah di lingkungan pesisir yang dapat menjadi buffer zone untuk erosi atau abrasi yang terjadi akibat gerusan ombak laut.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan, di tahun 2017 Indonesia memiliki luasan Hutan Mangrove mencapai 3,5 juta hektar, yang merupakan terluas di dunia. Hal ini menunjukkan pentingnya Indonesia terutama dalam menyokong agenda perubahan iklim dunia melalui keberadaaan Hutan Mangrove.

Agar program rehabilitasi Hutan Mangrove dapat berjalan dengan baik, keterlibatan masyarakat pesisir di sekitar lokasi hutan menjadi faktor yang cukup menentukan. Proses menjaga dan melestarikan Hutan Mangrove oleh masyarakat di sekitar lokasi hutan akan memberikan jaminan kelangsungan ekosistem pesisir.

Seperti halnya upaya warga Desa Muara, Kecamatan Teluk Naga, Tangerang, Banten, untuk dapat memanfaatkan tanaman Mangrove dan membangkitkan perekonomian daerah patut diapresiasi. Pengelolaan potensi ekonomi Hutan Mangrove dilakukan dari hulu hingga ke hilir, seperti penjualan bibit Mangrove, taman pemancingan ikan, kuliner, perahu wisata, hingga pengolahan bahan baku industri tekstil. Pengembangan wilayah Ekowisata Kampung Mangrove Desa Muara ini telah diresmikan sejak tahun 2012.

Dukungan Pertamina bagi warga Desa Muara tak hanya melalui pemberian bibit pohon Mangrove, namun juga edukasi kepada masyarakat tentang teknik menanam dan merawat tanaman Mangrove dengan baik dan benar. Kami menggandeng Institut Pertanian Bogor sebagai pendamping masyarakat untuk dapat memberikan pengetahuan pengelolaan kawasan Hutan Mangrove oleh warga Desa Muara.

Demikian pula dengan warga Desa Karangsong, Indramayu, Jawa Barat, yang berhasil mengembangkan kawasan Ekowisata Mangrove di wilayahnya. Terletak di mulut Sungai Praja Gumiwang atau kerap disebut Muara Song, warga yang tergabung dalam kelompok Pantai Lestari di Desa Karangsong mulai melakukan penanaman Pohon Mangrove sejak tahun 2008. Setahun kemudian, Desa Karangsong mengeluarkan Peraturan Desa untuk melindungi kawasan Mangrove, sekaligus menjadi tonggak kesadaran warga atas kepedulian mereka terhadap lingkungan.

Didukung oleh Pertamina Refinery Unit VI Balongan, gelaran program rehabilitasi Hutan Mangrove ini terus mengalami eskalasi, hingga akhirnya wilayah Desa Karangsong menjadi Mangrove Center wilayah Indonesia Barat dan Edupark bagi para pengunjung.

Pemanfaatan produk olahan Mangrove dikembangkan warga, seperti bedak dan lulur untuk kosmetik, maupun produk makanan seperti kecap, sirup, teh, kopi, dodol, dan rempeyek. Selain itu, Desa Karangsong juga memiliki kebijakan mengintegrasikan pengetahuan Mangrove ke dalam kurikulum pendidikan Sekolah Dasar di Indramayu. Tujuannya tentu saja mengajak anak-anak untuk lebih mencintai lingkungan, khususnya Mangrove.

Tak hanya di 2 lokasi di atas, penanaman Mangrove juga dilakukan di sejumlah daerah di Indonesia; mulai dari Sei Siak dan Dumai, Teluk Kabung dan Pariaman, Medan, Balikpapan, Pulau Balang, Tarakan, Muara Gembong, Krueng Raya, hingga Pantai Jenu, di Tuban, Jawa Timur.**

Program lainnya yang digalakkan adalah Keanekaragaman Hayati. Secara garis besar, program ini bertujuan untuk melestarikan kekayaan flora dan fauna endemik asli Indonesia. Melalui unit operasi yang tersebar di seluruh Indonesia, Pertamina menyadari bahwa setiap wilayah Indonesia mempunyai satwa atau tumbuhan endemik asli daerah tersebut yang sudah berstatus langka, sangat langka, atau bahkan di ambang kepunahan. Oleh karena itu, Pertamina melaksanakan program Keanekaragaman Hayati sebagai upaya guna melestarikan atau bahkan dapat meningkatkan kekayaan alam asli Indonesia tersebut. Tidak kurang dari 25 jenis flora dan fauna menjadi sasaran program ini. Di tahun 2018 saja, terdapat 25 Program Keanekaragaman Hayati yang dilakukan, yang meliputi antara lain Konservasi elang laut di Kepulauan Seribu, konservasi tuntong laut di Aceh Tamiang, konservasi yaki hitam di Bitung.

Pengungkapan GRI Standard 203-1 dan 203-2 klik di sini >>

92
PERTAMINA Laporan Keberlanjutan 2018