KINERJA LINGKUNGAN

Peduli pada Kelestarian Bumi

Perubahan iklim menjadi persoalan global dan dampak negatifnya kian nyata saat ini, termasuk di Indonesia. Antara lain, terjadinya cuaca ekstrim, suhu udara lebih panas dibanding sebelumnya, hujan turun lebih deras dan waktunya kian sulit ditebak, sebaliknya saat musim kemarau datang maka waktunya lebih lama dari biasanya sehingga memicu gagal panen, dan sebagainya. Sulit dipungkiri bahwa perubahan iklim tidak hanya menimbulkan bencana lingkungan, tapi juga pada berdampak negatif terhadap kehidupan manusia dan makluk hidup lainnya.

Kalangan ilmuwan meyakini bahwa perubahan iklim disebabkan oleh perilaku manusia. Misalnya, penggunaan listrik, penggunaan bahan bakar minyak (BBM) berbahan fosil untuk industri maupun transportasi, penebangan hutan, dan lain-lain. Bahkan, penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE, sebagaimana dilansir Kompas penggunaan plastik turut menjadi faktor pemanasan global. Hal ini terjadi karena plastik mengeluarkan gas metana dan etilena pada saat terkena sinar matahari dan rusak.

Dampak penggunaan plastik sebagai salah satu penyumbang perubahan ikilim menjadi masalah besar di Indonesia. Sebab, penggunaan plastik di negeri ini sangat besar, yang berujung pada tingkat pembuangan sampah plastik yang masif, termasuk ke laut. Data dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.

Untuk mengurangi dampak perubahan iklim, sebanyak 171 negara menandatangani Perjanjian Paris (Paris Agreement), termasuk Indonesia. Perjanjian Paris merupakan kesepakatan global untuk menghadapi perubahan iklim. Adapun tujuan dibentuknya Perjanjian Paris tertuang dalam pasal 2, yaitu:

1. Menahan laju peningkatan temperatur global hingga di bawah 2 derajat celcius dari angka sebelum masa Revolusi Industri, dan mencapai upaya dalam membatasi perubahan temperatur hingga setidaknya 1,5 derajat celcius, karena memahami bahwa pembatasan ini akan secara signifikan mengurangi risiko dan dampak dari perubahan iklim.

2. Meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi terhadap dampak dari perubahan iklim, meningkatkan ketahanan iklim, dan melaksanakan pembangunan yang bersifat rendah emisi gas rumah kaca tanpa mengancam produksi pangan.

3. Membuat aliran finansial yang konsisten demi tercapainya pembangunan yang bersifat rendah emisi gas rumah kaca dan tahan terhadap perubahan iklim.

Pertamina sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendukung sepenuhnya komitmen pemerintah melalui Perjanjian Paris, sebagaimana disampaikan dalam Undang-undang No. 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to the United Nations Framework Convention on Climate Change: target reduksi GRK 29% (2030). Sesuai dengan Perjanjian Paris, kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (NDC) Indonesia adalah mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan upaya sendiri dan menjadi 41% jika ada kerja sama internasional dari kondisi tanpa ada aksi (business as usual) pada tahun 2030. Kontribusi tersebut akan diwujudkan pemerintah, antara lain, melalui sektor kehutanan, energi termasuk transportasi, limbah, proses industri dan penggunaan produk, dan pertanian. Pertamina sebagai leading sector penurunan emisi GRK, mendukung penuh upaya nasional dengan melakukan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim [103- 2]

Dukungan Pertamina untuk turut serta mengendalikan perubahan iklim sehingga bencana lingkungan dan kemanusiaan tidak semakin menjadi diwujudkan melalui berbagai kebijakan. Antara lain, mengelola penggunaan energi, air, emisi, efluen dan limbah dengan baik, serta melakukan berbagai kegiatan yang mendukung keanekaragaman hayati melalui Pertamina Hijau. [103-2] Pada Laporan ini, Pertamina menyampaikan data mengenai efisiensi energi, penurunan emisi, 3R (Reduce, Reuse, Recycle) limbah B3 maupun non-B3, efisiensi air dan keanekaragaman hayati. Data yang disampaikan belum mencakup keseluruhan operasi perusahaan, melainkan baru sebatas wilayah operasi yang menjadi kandidat PROPER HIJAU tahun 2018.

Grafik dalam Laporan ini bukan merupakan perbandingan dari tahun ke tahun, melainkan hasil perhitungan program inisiatif yang diambil Pertamina setiap tahun.

Dalam grafik efisiensi energi misalnya, inisiatif yang diambil Pertamina adalah mengganti lampu TL dengan lampu LED yang lebih hemat energi. Dengan inisiatif tersebut, maka total pemakaian energi akan mengalami penurunan, sedangkan penghematan energi akan mengalami peningkatan.

Konsumsi Energi dalam Organisasi

Perseroan telah menghitung total pemakaian energi dengan cakupan Induk Perusahaan Pertamina per Direktorat. Data pemakaian energi yang diperoleh dari lapangan menunjukkan data pemakaian energi untuk proses produksi dan pemakaian energi fasilitas pendukung, termasuk di dalamnya adalah penggunaan energi listrik, uap, gas, diesel, dan BBM. Selain penggunaan energi, Perseroan telah menghitung hasil efisiensi energi dengan cakupan yang sama (Induk Perusahaan Pertamina per Direktorat).

Sebagai bagian program konservasi energi, upaya Pertamina untuk mengurangi konsumsi energi dalam kegiatan operasional maupun kegiatan pendukungnya juga dilakukan dengan menerapkan teknologi dan peralatan dengan konsumsi energi yang rendah. Selain itu, Perseroan juga melakukan improvement agar konsumsi energi dapat seefisien dan seoptimal mungkin serta meningkatkan budaya hemat energi ke semua elemen. Penghematan energi juga dilakukan melalui penggunaan energi secara efisien di mana manfaat yang sama diperoleh dengan menggunakan energi lebih sedikit, ataupun dengan mengurangi konsumsi dan kegiatan yang menggunakan energi. Penghematan energi dapat menyebabkan berkurangnya biaya, meningkatnya efisiensi serta meningkatnya nilai lingkungan, serta kenyamanan.

Beberapa inisiatif yang dilakukan Pertamina dalam rangka efisiensi energi adalah sebagai berikut: [103-3, 302-4]

1. Perubahan sistem pembebanan pompa dan pemasangan VSD di TBBM Bandung Group.

2. Distribusi BBM klusterisasi di TBBM Rewulu.

3. Pemasangan Airator Nozzle di TBBM Surabaya Group.

4. Memecahkan deposit orifice chamber RCC di RU VI Kilang Balongan.

5. Modifikasi Refractory di RU II Kilang Sei Pakning.

6. Konservasi Condensate Piping System OBP di PT Pertamina EP Asset 2 Field Prabumulih.

7. Pemanfaatan Sweat Gas untuk Bahan Bakar Power Plant di PT Pertamina EP Asset 4 Field Sukowati.

8. Pemanfaatan system gravitasi pada penyaluran Brine di PT Pertamina Geothermal Energy Area Ulubelu.

Dengan berbagai inisiatif tersebut di atas, maka rekapitulasi penggunaan energi dan hasil penghematan energi Pertamina pada tahun pelaporan adalah sebagai berikut: [103-3, 302-1, 302-4]

Emisi

Isu perubahan iklim erat hubungannya dengan emisi gas rumah kaca. Oleh karena itu, Pertamina fokus dalam pengembangan serta pengimplementasian program penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Peraturan perundangan terkait emisi GRK yang menjadi rujukan Pertamina di antaranya: [103-2]

1. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 13/2009 mengenai Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Minyak dan Gas Bumi Pasal 6 dan 7: kewajiban mengidentifikasi, inventarisasi, pengelolaan emisi, pemantauan emisi, menghitung emisi dan melaporkan hasil pemantuan emisi.

2. Peraturan Menteri ESDM No. 31 tahun 2012 tentang Pelaksanaan Pembakaran Gas Suar Bakar (Flaring) pada Kegiatan Usaha Migas.

3. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 12 Tahun 2012 tentang Pedoman Penghitungan Beban Emisi Kegiatan Industri Minyak dan Gas Bumi.

4. Permen LH Nomor 3 Tahun 2014 tentang PROPER

5. Peraturan Presiden Nomor 61 tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) : target reduksi GRK 26% (2020).

6. Undang-undang No. 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to the United Nations Framework Convention on Climate Change: target reduksi GRK 29% (2030).

Emisi GRK Langsung (Cakupan 1) dan Tidak Langsung (Cakupan 2)

Sumber emisi GRK paling utama adalah pembakaran bahan bakar dimana sumber pembakaran bahan bakar dikelompokkan ke dalam 2 (dua) kategori, yaitu sumber bergerak (kendaraan operasional) dan sumber tidak bergerak/stasioner (genset). Jenis GRK utama hasil pembakaran bahan bakar adalah karbon dioksida (CO2), Metana (CH4) dan N2O.

Sementara itu, sumber emisi GRK tidak langsung (cakupan 2) yang berasal dari energi dari luar adalah jumlah konsumsi listrik (dalam kWh) per tahun.

Perseroan menyadari dampak emisi GRK baru perubahan iklim. Sebab itu, Pertamina berinisiatif untuk mengendalikan emisi GRK, yang dimulai dengan menginventarisasi sumber emisi dengan tahun dasar 2010, perhitungan serta pelaporan beban emisi gas rumah kaca secara berkala. Upaya pengurangan emisi GRK dilakukan melalui efisiensi energi, pemanfaatan suar bakar, konversi bahan bakar, penggunaan peralatan hemat energi dan rendah emisi serta optimasi dan modifikasi peralatan. Beberapa program unggulan yang dilakukan dalam rangka penurunan emisi GRK adalah sbb :

1. Elektrifikasi menggunakan sumber listrik geothermal

2. Penggantian zero flaring pemanfaatan sour gas

3. Pemanfaatan flare gas menjadi fuel gas heater

4. Pengurangan RCC Offgas di kilang

5. New Gantry System di TBBM

6. Implementasi rumah tera di TBBM

Dengan berbagai upaya tersebut, pada tahun pelaporan, total emisi gas rumah kaca yang meliputi CO2 (Karbondioksida), N2O (Nitro Oksida) dan CH4 (Metana) yang dihasilkan Perseroan tercatat sebesar 11,13 juta Ton CO2e dengan total penurunan emisi sebesar 23,09 juta TonCO2e. Sementara itu, total emisi udara yang dihasilkan Perseroan, yang terdiri dari SOx (Sulfur), NOx (Nitrogen Oksida), Materi Partikulat (PM), dan senyawa organik yang mudah menguap (VOC/Volatile Organic Compound), adalah sebesar 758,22 ribu Ton, dengan total penurunan emisi sebesar 22,05 juta Ton. Adapun intensitas total emisi proses produksi tercatat sebesar 0,081 Ton CO2e/Ton, dan intensitas total emisi proses produksi dan fasilitas pendukung sebesar 0,086 Ton CO2e/Ton. Data tersebut merupakan hasil konversi data hingga Juni 2018 dikalikan dua sehingga diperoleh data dalam setahun. [103-3, 305-1, 305-4, 305-5, 305-7]

Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa total emisi yang dihasilkan sebagian ada yang mengalami penurunan dan sebagian lagi mengalami kenaikan. Walau demikian, emisi yang mengalami kenaikan diikuti dengan meningkatnya angka penurunan emisi. Hal itu menunjukkan hasil dari komitmen Perseroan dalam upaya untuk menurunkankan emisi. Selain senyawa emisi gas rumah kaca yang disebutkan di atas, Pertamina juga menghasilkan emisi senyawa gas rumah kaca lain, namun jumlahnya relatif kecil sehingga tidak dimasukkan dalam Laporan. Senyawa itu antara lain N2O (dinitrogen oksida) dan CH4 (metana).

Emisi Zat Perusak Ozon

Emisi bahan perusak ozon (BPO) merupakan salah satu sumber perubahan iklim. BPO adalah senyawa kimia yang berpotensi dapat bereaksi dengan molekul ozon di lapisan stratosfer. BPO biasa terdapat di mesin pendingin ruangan (AC), kulkas, dan tabung pemadam api. Setidaknya, ada 23 senyawa kimia yang dikategorikan sebagai BPO, yakni CC-l4, CH-3, CC-13, CH3BR, CFC- 11, CFC-12, CFC-113, CFC-114, CFC-115, CFC-13, CFC-111, CFC-217, CFC-216, CFC-215, CFC-214, CFC-213, CFC-212, CFC-211, Halon-1211, Halon-1301, Halon-2402, R-500, R-502

Penggunaan BPO akan menyebabkan terjadinya penipisan lapisan ozon yang mengakibatkan terjadinya degradasi lingkungan, keterbatasan sumber air bersih, kerusakan rantai makanan di laut, menurunnya hasil produksi pertanian dan sebagainya. Oleh karena dampak buruk akibat pemanfaatan BPO sangat besar, Pertamina mendukung penuh kebijakan pemerintah untuk memperketat penggunaan BPO. [103-2]

Salah satu upaya yang dilakukan Perseroan untuk mengurangi emisi zat perusak ozon adalah menggunakan refrigeran ramah lingkungan untuk mesin pendingin udara dan kulkas. Namun demikian, jumlah mesin pendingin udara dan kulkas yang menggunakan refrigeran ramah lingkungan di lingkungan Perseroan belum bisa disajikan dalam Laporan ini, dan akan disajikan pada Laporan berikutnya. [103-3, 305-6]

Pengurangan Emisi GRK

Inisiatif Pertamina untuk mengurangi emisi antara lain dilakukan melalui anak perusahaan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) yang terlibat aktif sebagai salah satu pemain utama dalam pengembangan industri pembangkit listrik panas bumi. Sebagai sumber energi terbarukan, energi panas bumi diharapkan dapat menjadi tumpuan sumber energi utama di masa depan. [103-2]

Selain mengembangkan energi panas bumi, untuk mendukung program Pemerintah menurunkan emisi GRK juga dilakukan melalui Clean Development Mechanism (CDM) atau Mekanisme Pembangunan Bersih, pengembangan bahan bakar berbasiskan nabati yang memiliki emisi GRK lebih rendah, dan penerapan produksi dan konsumsi berkelanjutan yang dilaksanakan oleh unit bisnis hulu, pengolahan, pemasaran, dan seluruh kantorkantor Perusahaan. [103-3]

Pada tataran strategis Pertamina menghadapi tantangan iklim dengan menetapkan target dan rencana menuju operasi bersih beremisi GRK rendah. Selain itu, Pertamina memasukkan perubahan iklim sebagai salah satu risiko penting yang harus dikelola secara cermat. Risiko ini telah dimasukkan ke dalam Risk Intelligence Map (RIM). Di sisi lain, dalam konteks bisnis di industri energi, Pertamina memiliki peluang untuk mengembangan energi panas bumi dan berbagai energi terbarukan lainnya.

Dalam upaya untuk mengurangi emisi, Pertamina telah pula menetapkan Roadmap Pengurangan Gas Rumah Kaca tahun 2020 sebagai respons dari komitmen Indonesia untuk mengurangi GRK sebesar 26%. Target pengurangan emisi GRK dari kegiatan Perusahaan adalah sebesar 6,48 juta ton CO2e dari baseline tahun 2010. Inisiatif pengendalian emisi GRK dilakukan oleh Pertamina dimulai dengan menginventarisasi sumber emisi dengan tahun dasar 2010 serta melakukan perhitungan serta pelaporan beban emisi gas rumah kaca secara berkala.

Selanjutnya setiap Unit Operasi dan Anak Perusahaan yang relevan melakukan upaya-upaya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Upaya pengurangan emisi GRK dilakukan melalui efisiensi energi, pemanfaatan suar bakar, konversi bahan bakar, penggunaan peralatan hemat energi dan rendah emisi serta optimasi dan modifikasi peralatan.

Mekanisme Pembangunan Bersih

Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM) diterapkan pada unit-unit pembangkit panas bumi PGE. Hingga tahun 2018, PGE telah memiliki tujuh proyek CDM pada berbagai unit Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) milik PGE dan memperoleh Certified Emission Reduction (CER) yang setara dengan pengurangan emisi 2,583,641 ton CO2e per tahun. Pengukuran, monitoring dan pelaporan emisi GRK yang saat ini dilakukan menggunakan metode dari UNFCCC yaitu ACM0002: Grid-connected electricity generation from renewable sources, yang merupakan standar internasional. Pengukuran tersebut mencakup Scope-1 dan 2, namun belum mencakup Scope-3.

Dari tujuh proyek CDM, sebanyak lima unit telah mencapai Gold Standard (GS) sejak tahun 2014 berdasarkan benchmark dari Gold Carbon Standard. GS merupakan standar kredit karbon yang diakui lebih dari 80 Lembaga Swadaya Masyarakat di seluruh duniadan kredit karbon yang telah ditingkatkan statusnya menjadi GS berpotensi memiliki nilai jual premium. Proyek-proyek ini merupakan inisiatif CDM Gold Standard pertama di Indonesia dengan total potensi pengurangan emisi GRK dari lima proyek GS mencapai 2,058,690 juta ton CO e per tahun.

Inisiatif CDM dilakukan Pertamina bukannya tanpa risiko, terlebih lagi setelah berakhirnya Kyoto Protocol. Tantangan terbesar proyek CDM yaitu sulitnya proses pendaftaran proyek CDM. Persiapan CDM sendiri telah berjalan sejak tahun 2009 bekerja sama dengan konsultan CDM dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Konsultan CDM juga berperan sebagai pembeli dengan basis kontrak 3 kali tujuh tahun kontrak ERPA (Emission Reduction Purchase Agreement).

Proyek CDM dijalankan Pertamina sebagai wujud komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam menjawab tantangan terhadap perubahan iklim, serta sejalan dengan visi menjadi Perusahaan Energi Kelas Dunia.

Konsumsi Air

Air merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam operasional keseharian Pertamina. Oleh karena ketersediaan air bersih semakin terbatas, maka Perseroan berupaya untuk menggunakan secara bijaksana. Selain melalui himbauan penghematan penggunaan air, Pertamina telah melakukan beberapa inisiatit agar penggunaan air menjadi lebih efisien, antara lain:

1. Konservasi air melalui Batch drilling system

2. Konservasi air tanah dengan teknologi lubang resapan biopori

3. Recycle air limbah drainase sebagai make-up water kompresor

4. Pemanfaatan air hujan dan air AC untuk kebutuhan domestik

5. Peningkatan kinerja sistem pada pipa penyaluran air bersih

Berdasarkan upaya tersebut, maka rekapitulasi penggunaan air yang dihasilkan dan efisiensi penggunaan air per Direktorat Induk Perusahaan Pertamina pada tahun pelaporan adalah sebagai berikut:

Berdasarkan grafik di atas terlihat adanya peningkatan penggunaan air. Namun demikian, peningkatan tersebut diikuti dengan bertambahnya angka efisiensi penggunaan air sebagai bukti keberhasilan atas kebijakan Perseroan agar insan Perseroan menghemat dalam penggunaan air.

Limbah

Untuk mendukung kelestarian lingkungan, Pertamina terus berupaya untuk mengurangi limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dan Non-B3 yang dihasilkan dari kegiatan operasional maupun perkantoran. Upaya ini dilakukan dengan mengurangi limbah dari sumbernya kemudian mendaur ulang atau menggunakannya kembali jika memungkinkan sebagai upaya untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Setiap sisa limbah yang akan dibuang akan dikelola dan diperlakukan sesuai ketentuan lingkungan yang ada. Sementara itu, limbah Bahan Beracun Berbahaya (B3) yang diprioritaskan dengan menerapkan 3R (Reuse, Reduce, Recycle) yang bertujuan mengurangi jumlah timbulan limbah B3 yang harus dimusnahkan. Pada akhirnya akan mengurangi biaya pengolahan limbah B3 dan tentunya lebih baik terhadap lingkungan.

Limbah Non-B3

Dalam operasional usaha, limbah padat Non-B3 yang dihasilkan Perseroan antara lain: Kertas print bekas, sampah organik, sampah anorganik, besi bekas air bersih, karton bekas kemasan, kayu bekas dan rumput. Beberapa inisiatif untuk mengurangi limbah padat Non-B3 di antaranya:

Electronic correspondence (e-correspondence) untuk mengurangi penggunaan kertas

• Daur ulang kertas bekas

• Pengelolaan sampah organik untuk kompos

• Pengendalian sampah plastik

• Penambahan umur ban mobil tangki dengan memanfaatkan technologi Lifting Up Thru Axle

Berdasarkan upaya tersebut, maka rekapitulasi volume limbah Non-B3 yang digunakan sesuai prinsip 3R serta volume hasil pengurangan limbah Pertamina pada tahun pelaporan adalah sebagai berikut:

Limbah B3

Dalam operasional usaha, Pertamina menghasilkan limbah B3 padat antara lain: kemasan B3 bekas, obat kadaluwarsa, sarung tangan & majun bekas, serbuk bor, filter bekas, lampu bekas, aki/baterai bekas dan absorbent bekas. Sedangkan limbah B3 cair antara lain berupa pelumas bekas, sludge oil dan limbah analisa laboratorium.

Untuk mengurangi timbulan limbah B3, Perseroan melakukan inisiatif sebagai berikut:

• Pemanfaatan pelumas bekas sebagai bahan pencampur bahan bakar sintetik

• Pemanfaatan sludge oil sebagai campuran bahan bakar alternatif tanur semen

• Pembuatan sorben pad dan sorben boom dengan material organik buah bintaro

Sustainable Packaging

• Penggunaan oil sorbent pengganti pasir, serbuk gergaji untuk mengatasi ceceran BBM

Berdasarkan upaya tersebut, maka rekapitulasi volume limbah B3 yang digunakan sesuai prinsip 3R serta volume hasil pengurangan limbah Pertamina pada tahun pelaporan adalah sebagai berikut:

Kasus Tumpahan

Pada setiap fasilitas yang berpotensi terjadinya tumpahan ke laut maupun pesisir diwajibkan untuk memenuhi ketentuan ISPS Code, IMO dan standar yang berlaku. Penerapan pencegahan pencemaran akibat tumpahan laut diterapkan dengan mengembangkan sistem tanggap darurat yang diuji dengan sertifikat dari Pemerintah, menyediakan sarana penanggulangan tumpahan minyak, pelatihan dan pembentukan tim tanggap darurat tumpahan minyak, dan pelatihan tanggap darurat berbasis masyarakat. Selain itu, Perusahaan melakukan koordinasi dan kerja sama dengan pemangku kepentingan terkait di daerah untuk meningkatkan pengawasan dan antisipasi jika terjadi tumpahan minyak. Termasuk di sini adalah aparat keamanan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, serta kontraktor Pertamina.

Sigap Sejak Hari Pertama

Sabtu, 31 Maret 2018 menjadi hari di mana Kota Balikpapan dan Pertamina tertimpa bencana. Pipa bawah laut milik Pertamina untuk menyalurkan minyak mentah dari Single Point Mooring (SPM) Terminal Lawe-Lawe menuju CDU IV Kilang Pertamina RU V Balikpapan, patah. Akibatnya, minyak mentah pun mengucur dan naik ke permukaan Teluk Balikpapan.

Begitu mengetahui adanya pipa yang patah, sementara investigasi penyebab patahnya pipa berjalan, Pertamina segera mengambil langkah-langkah sigap penanganan keadaan darurat. Mulai dari menutup penyaluran minyak mentah yang melalui pipa hingga melakukan pemetaan lokasi-lokasi yang terdampak.

Hasil investigasi menunjukkan pipa Pertamina patah akibat benturan dan terseret oleh jangkar sebuah kapal pihak lain. Namun bagi Pertamina, dalam keadaan darurat yang menjadi prioritas pertama bukanlah mencari siapa yang salah, melainkan penanggulangan agar dampak buruk tidak meluas. Seluruh upaya penyelamatan lingkungan dilakukan Pertamina sejak hari pertama musibah tersebut terjadi, antara lain pembersihan di lepas pantai dengan oil skimmer dan tug boat, penyemprotan oil spill dispersant, pembersihan ceceran minyak menggunakan vacuum truck yang dilengkapi dengan oil boom dan oil skimmer, dan pembersihan di daerah pesisir pantai. Pun ketika masa kritis telah dilalui, Pertamina terus melakukan pemantauan terhadap lingkungan di wilayah terdampak untuk memastikan lingkungan telah benar-benar aman dari limbah minyak yang tercecer.

 

Keanekaragaman Hayati

Indonesia merupakan pemilik keanekaragaman hayati dunia peringkat dua setelah Brasil, dengan jumlah keanekaragaman hayati mencapai lebih dari 5 juta spesies atau 15,3% dari keanekaragaman hayati dunia. Pertamina menginisiasi pelestarian tanamantanaman lokal, pelestarian keanekaragaman hayati di hutan mangrove, serta rehabilitasi kawasan taman nasional. Pelestarian fauna di antaranya adalah penangkaran kupu-kupu langka, penangkaran elang jawa, dan penangkaran tuntong laut. Di bidang ini Pertamina bekerja sama dengan lembaga konservasi untuk melestarikan keanekaragaman hayati di masingmasing daerah endemis flora dan fauna di Indonesia. Kegiatan konservasi juga dirangkaikan dengan edukasi keanekaragaman hayati kepada siswa sekolah. [103-2]

Bagi Pertamina, pengelolaan keanekaragaman hayati merupakan wujud komitmen menjadikan HSSE Beyond Culture, dimana seluruh unit operasi dan anak perusahaan menjadikan komitmen kinerja pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat sebagai nilai/value budaya perusahaan melebihi kewajiban/ kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sehubungan hal tersebut program PROPER merupakan daya ungkit (leverage) bagi perusahaan untuk menuju green company yang berkelanjutan dan mewujudkan business sustainability. Dalam program PROPER diperhitungkan 3 komponen utama, yaitu sistem manajemen lingkungan, pemanfaatan sumber daya termasuk di dalamnya keanekaragaman hayati dan pengembangan masyarakat. [103-2]

Pertamina terus berupaya untuk mengintegrasikan pertimbangan konservasi keanekaragaman hayati dalam setiap keputusan aspek lingkungan dan sosial, sesuai dengan kebijakan manajemen penerapan perbaikan berkelanjutan untuk kualitas lingkungan hidup yang lebih baik, tanggal 9 September 2011. Untuk itu, kami terus menjaga keanekaragaman hayati dengan meminimalisasi dampak kegiatan operasi khususnya pada area sensitif, pencegahan, minimalisasi dan mitigasi risiko terhadap keanekaragaman hayati sepanjang siklus bisnis perusahaan, tanggung jawab terhadap tata guna lahan serta merencanakan dan memodifikasi desain, konstruksi dan praktik operasi untuk melindungi spesies flora dan fauna tertentu serta habitat sensitif yang terkait dengan daerah operasi Pertamina. [103-2]

Kegiatan perlindungan dan kelestarian keanekaragaman hayati (Kehati) oleh Pertamina, antara lain, dilakukan melalui Program Pelestarian Satwa yang terutama memiliki status CR (critically endangered) dan tanaman endemis yang terancam punah/langka. Dalam kurun waktu 6 tahun terakhir telah dilaksanakan konservasi Kehati di unit operasi, termasuk program konservasi ±87 jenis hewan endemis yang sebagian besar termasuk dalam CR serta konservasi ±52 jenis tanaman endemis yang sebagian besar terancam punah atau langka. [103-3, 304-3, 304- 4]

Hingga akhir tahun 2018, terdapat sebanyak 2 lokasi operasional Pertamina yang berdekatan dengan kawasan lindung atau kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi di luar kawasan hutan lindung. MOR VIII TBBM Jayapura yang berdekatan dengan Cagar Alam Cycloop dan PT Pertamina Geothermal Energy Area Kamojang yang berdekatan dengan hutan Kamojang. [304-1]

Pada lokasi yang berdekatan dengan kawasan cagar alam dan hutan tersebut, Pertamina telah melakukan kegiatan yaitu reboisasi Hutan Kamojang dengan tumbuhan langka dan indigeneous plant Kamojang, dan penanaman 1.111 bibit pohon di Cagar Alam Cycloop termasuk pohon Soang/Sowang, spesies endemic dan terancam punah sebanyak 111 bibit pohon, serta menangkarkan burung merpati. [103-2, 103-3, 304-2, 304-4]

 

 

 

Klik di Sini untuk Lihat Detil Gambar

Kepatuhan

Kebijakan Pertamina dalam pengelolaan lingkungan adalah memastikan kepatuhan pada peraturan perundangan. Jika peraturan spesifik tidak tersedia, maka Pertamina menerapkan prinsip kehati-hatian untuk meminimalkan dampak merugikan terhadap lingkungan dan masyarakat. Prinsip kehati-hatian diterapkan dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak yang terkait atas kasus-kasus yang belum diatur oleh peraturan lingkungan di Indonesia.

Pengelolaan lingkungan dimulai sebelum sebuah proyek dilaksanakan dengan melakukan analisis dampak lingkungan sesuai dengan skala dan sifat dampak kegiatan yang akan dilakukan. Perencanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan disusun berdasarkan potensi dampak untuk mencegah terjadinya pencemaran dan memaksimalkan manfaat bagi masyarakat.

Dokumen perencanaan lingkungan yang telah disepakati dengan pemangku kepentingan dan disetujui Pemerintah menjadi dasar pelaksanaan pengelolaan lingkungan dan hubungan dengan masyarakat di sekitar wilayah operasi. Setiap unit dan Anak Perusahaan melakukan kegiatan pengelolaan dan pemantauan sesuai perencanaan dan melaporkan hasil-hasilnya kepada instansi terkait setiap semester.

Tingkat kepatuhan Unit Operasi dan Anak Perusahaan dapat dilihat dari pencapaian peringkat PROPER yang diperiksa oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Dalam penilaian selama 4 tahun terakhir, tidak terdapat Unit Operasi atau Anak Perusahaan yang mendapatkan peringkat Merah maupun Hitam. Seluruh kegiatan yang ikut serta dalam PROPER mendapatkan Peringkat Biru, Hijau dan Emas yang mengindikasikan pemenuhan peraturan lingkungan.

102
PERTAMINA Laporan Keberlanjutan 2018