KINERJA SOSIAL

Perwakilan Pekerja dalam Komite Gabungan Manajemen-Pekerja untuk K3

Untuk meningkatkan efektivitas HSSE, Pertamina telah membentuk Komite K3. Komite beranggotakan level manajemen dan melaporkan hasil kegiatannya kepada pimpinan tertinggi lokasi. [103-2]

Pengelolaan HSSE Tahun 2018

Keselamatan Kerja

Untuk meningkatkan derajat kepedulian setiap individu,Pertamina mengkampanyekan HSSE Golden Rules kepada pekerja maupun kontraktor. HSSE Golden Rules wajib dipahami dan dipatuhi oleh siapapun yang memasuki tempat kerja Pertamina yang juga diperkuat dengan Corporate Life Saving Rules. [103-2]

HSSE Golden Rules merupakan aturan mendasar yang wajib dipatuhi oleh semua orang yang bekerja dalam lingkup operasional Pertamina. HSSE Golden Rules meliputi 3 kewajiban mendasar yaitu mematuhi peraturan, melakukan intervensi bila ada kondisi atau perilaku tidak aman dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Telah dikembangkan pula sistem untuk penerapan HSSE Golden Rules yaitu melalui Pengamatan Keselamatan Kerja (PEKA), yaitu hasil observasi atas kondisi atau perilaku tidak aman di sekitar lingkungan kerja. PEKA ini dapat dilaporkan secara off line maupun online.

Pemahaman dan kepedulian juga ditingkatkan dengan inisiatif Safety Stand Down (SSD) kepada seluruh karyawan untuk memperhatikan insiden tertentu sehingga dapat melakukan langkah pencegahan yang perlu di tempat kerja masing-masing.

Insiden adalah suatu kondisi kecelakaan kerja yang tidak diharapkan terjadi. Segera setelah insiden terjadi, akan dilakukan investigasi oleh tim investigator yang telah ditunjuk oleh pimpinan tertinggi sesuai hirarki tingkat insiden. Hasil investigasi awal akan disusun menjadi bahan safety alert yang dibagikan ke seluruh unit operasi dan lapangan sebagai bahan untuk melakukan SSD dengan tujuan agar unit operasi ataupun lapangan melakukan mitigasi risiko sejenis agar di lokasi kerja mereka tidak terjadi kecelakaan yang sama.

Kesehatan Kerja

Pertamina menjamin semua pekerja dapat bekerja secara sehat dan produktif. Untuk itu dilakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan kerja yang sehat dan gaya hidup sehat sehingga pekerja dapat mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatannya.

Tujuan pengelolaan kesehatan kerja adalah mencegah penyakit akibat kerja dan menciptakan iklim kerja yang sehat sehingga pekerja dapat bekerja dengan produktif tanpa adanya gangguan kesehatan akibat pekerjaan. Program kesehatan kerja rutin meliputi pemeriksaan kesehatan kerja, pengembangan implementasi kesehatan kerja dan pelatihan kesehatan kerja.

Pada kebijakan HSSE yang baru, telah disebutkan bahwa untuk memastikan kondisi kesehatan pekerja dan mitra kerja yang sesuai dengan pekerjaannya (fit to work) telah menjadi salah satu kebijakan yang harus dilakukan oleh manajemen di seluruh unit operasi dan anak perusahaan. Semua pekerja wajib melaksanakan Medical Check Up (MCU) setahun sekali, sedangkan mitra kerja diwajibkan melakukan MCU/pemeriksaan kesehatan pada awal kontrak kerja. Di samping itu,bagi pekerja dan mitra kerja yang melaksanakan pekerjaan dengan kategori risiko tinggi harus melaksanakan pemeriksaan kesehatan harian sebelum bekerja.

Jenis dan Tingkat Kecelakaan Kerja

Penyakit Akibat Kerja

Pertamina yang bergerak di bisnis energi yang terbentang dari hulu sampai hilir, sangat mengutamakan aspek HSSE (Health, Safety, Security and Environment). Aspek Health yang fokus pada personel mempunya tujuan utama yaitu menjaga produktivitas dan kesehatan pekerja atau mitra kerja berada kondisi kesehatan yang optimal dan fit to work serta mencegah terjadinya penyakit akibat kerja.

Penyakit Akibat kerja (PAK) merupakan suatu penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan atau lingkungan kerja. Oleh karena itu, Pertamina melakukan berbagai upaya pencegahan PAK. Beberapa upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut:

• Melakukan program kesehatan kerja, higiene industri dan kesehatan lingkungan yang didasarkan pada identifikasi bahaya-bahaya kesehatan melalui penilaian risiko

• Mengontrol dan memitigasi bahaya-bahaya kesehatan sampai kelevel yang diterima oleh standar Pertamina dan peraturan Indonesia

• Edukasi kepada pekerja/mitra kerja tentang kondisi dan bahaya yang dapat timbul di tempat kerja

• Menyediakan pengamanan dan alat perlindungan yang harus ada di tempat kerja

• Menyediakan alat perlindungan diri bagi pelaksana pekerjaan

• Menyiapkan prosedur kerja aman sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan PAK

• Mewajibkan pekerja/mitra kerja melaksanakan MCU (Medical Check Up) sebagai upaya monitoring rutin tingkat kesehatan pekerja

• Dan berbagai upaya lainnya

Daftar PAK di Pertamina mengacu pada Keputusan Presiden RI No. 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul karena Hubungan Kerja.

Pencegahan PAK dilaksanakan oleh lintas direktorat,dan melibatkan fungsi HR serta manajemen lini. Pekerja yang bekerja di lingkungan kerja dengan potential hazard direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan MCU terhadap potensi risiko potential hazard tersebut. Apabila ditemukan potensi risiko PAK,maka akan dilaporkan ke Laporan Medik PAK dan dibahas dalam sidang tim penguji kesehatan, untuk selanjutnya akan dievaluasi bersama oleh fungsi HR, HSSE dan manajemen lini. Data 3 tahun terakhir, tidak tercatat kasus PAK di Pertamina.

Seluruh insan Pertamina berkomitmen untuk mewujudkan angka kecelakaan kerja nihil (zero accident). Walau demikian, berdasarkan evaluasi dan data yang ada, pada tahun pelaporan masih tercatat adanya kecelakaan kerja, sebagaimana tabel berikut: [103-3, 403-1]

Sistem pencatatan dan pelaporan insiden di Pertamina mengacu pada beberapa referensi internasional,yaitu OSHA (Occupational Safety and Health Administration), IPIECA (International Petroleum Industry Environmental Conservation Association), IOGP(International Association of Oil & Gas Producers)dan referensi lain sesuai peraturan pemerintah. Sistem tersebut disahkan dalam pedoman pencatatan dan pelaporan insiden di PT Pertamina (Persero).

Pemeriksaan Kesehatan Pekerja

Pemeriksaan kesehatan berkala Pekerja dilaksanakan minimal 1 tahun sekali dan wajib untuk setiap Pekerja. Bagi Pekerja yang terpajan potensi bahaya, dilakukan pemeriksaan tambahan sesuai pajanan potensi bahaya di tempat kerjanya, dengan pertimbangan sebagai berikut: [103-2]

• Pada pemeriksaan kesehatan sebelumnya (berkala maupun umum) diketahui/diduga terdapat gangguan/kelainan akibat pajanan potensi bahaya di tempat kerja.

• Pajanan potensi bahaya di tempat kerja telah melebihi nilai ambang batas (NAB) yang ditentukan.

• Dinilai tim pengawas kesehatan kerja terdapat pajanan potensi bahaya yang tinggi, meskipun belum terbukti dengan monitoring lingkungan kerja.

• Terdapat kondisi penyakit umum yang memerlukan pemantauan menyeluruh yang ketat. Berdasarkan hasil pemeriksaan berkala pada tahun 2018, tidak tercatat adanya pekerja yang terpajan bahaya sehingga mengalami penyakit akibat pekerjaan yang dijalaninya. [103-3, 403-2]

• Keselamatan Kontraktor Budaya kerja aman tidak hanya untuk pekerja,namun juga bagi seluruh pihak yang terlibat dalam operasional perusahaan. Berdasarkan analisis, 90-95% musibah kecelakaan kerja di lingkungan Pertamina terjadi pada mitra kerja. Dalam kebijakan HSSE, menyatakan dengan tegas bahwa setiap pekerja dan mitra kerja bertanggung jawab mengelola HSSE. Pertamina menerapkan tahapan Contractor Safety Management System (CSMS) dalam pengelolaan mitra kerja yang bekerja di lokasi Pertamina. Ada 3 tingkatan klasifikasi kontraktor, yaitu kontraktor yang mampu mengelola pekerjaan berisiko tinggi, kontraktor yang mengelola pekerjaan risiko menengah dan kontraktor yang mengelola pekerjaan risiko rendah. Hanya mitra kerja yang telah memenuhi persyaratan CSMS dan mendapatkan sertifikat yang dapat bekerja dilokasi Pertamina.

CSMS merupakan mandat/kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap vendor/kontraktor yang bekerja sama dengan Pertamina. Mandat ini tertulis dengan jelas dalam kebijakan HSSE PT Pertamina (Persero) yaitu setiap pekerja dan mitra kerja yang berada di bawah pengendalian PT Pertamina (Persero) dan Anak Perusahaan bertanggung jawab menaati dan melaksanakan kebijakan HSSE.

Setiap vendor/kontraktor/pihak ketiga wajib mengurangi risiko serendah mungkin untuk mencegah terjadinya insiden pada personel,aset, informasi dan lingkungan dan meningkatkan kesadaran dan kompetensi pekerja & mitra kerja agar dapat melaksanakan pekerjaan secara benar,aman dan berwawasan lingkungan.

Penerapan CSMS terhadap pekerjaan kontrak diseluruh Unit Operasi & Anak Perusahaan Pertamina dikuatkan melalui:

a. SK Dirut No. Kpts-43/C00000/2015-S0 tentang Sistem & Tata Kerja Pengadaan Barang/Jasab.

b. SK Dirut No. Kpts-34/C00000/2015-S0 tentang penerapan CSMS

142
PERTAMINA Laporan Keberlanjutan 2018